Senin

Buku Dan Kemanusiaan

REFLEKSI
Oleh: Em Syuhada*
Di penghujung tahun 2006 lalu, saya kembali mendapatkan bingkisan dari Penerbit Erlangga berupa kalender kerja 2007. Maklum, sekolah saya adalah satu dari sekian banyak sekolah yang memakai buku-buku penerbit yang memiliki motto Kami Melayani Ilmu Pengetahuan itu. Sebetulnya tak ada yang menarik dari kalender itu. Di samping karena desain cetakannya yang tidak luks, kalender itu pada dasarnya sama dengan kalender lain, yang berfungsi menawarkan informasi tentang hari dan tanggal. Namun yang membuat kalender itu menarik perhatian saya adalah sebuah tulisan yang terpampang di sisi kanan atas. Sebuah kalimat matematika tertulis, B - B = 0, yang diterjemahkan ke dalam kalimat dengan tulisan kecil di bawahnya, Belajar Tanpa Buku adalah Omong Kosong.
Saat saya merenungkan sederet kalimat yang dicetak dengan warna merah itu, tiba-tiba ada sesuatu yang mengganjal di benak saya. Pertanyaan yang kemudian begitu menggelitik, betulkah buku adalah sesuatu yang vital sehingga keberadaannya mutlak diperlukan dalam proses belajar? Betulkah belajar tanpa buku akan menyebabkan manusia tak akan memperoleh hasil apa-apa selain hanya omong kosong belaka?
Berangkat dari kegelisahan itu, saya kemudian mencoba melakukan semacam transendensi. Kita ketahui bahwa Erlangga adalah penerbit yang sebagian besar produknya adalah buku-buku sekolahan. Sesungguhnya kalimat yang terpampang di kalender itu lebih ditujukan kepada mereka yang terlibat dalam dunia akademisi, dalam hal ini guru, siswa, serta para praktisi dunia pendidikan formal.
Namun satu hal yang harus digarisbawahi, apa yang dipopulerkan oleh Erlangga melalui kalender itu harus dipahami bahwa ia tidak berlaku untuk semua manusia pada umumnya. Bukankah Sang Nabi SAW pernah bersabda, bahwa mencari ilmu (baca: belajar) tidak dibatasi usia. Kewajiban mencari ilmu berlaku untuk setiap makhluk yang bernama manusia, dan tidak hanya didominasi oleh mereka yang kebetulan diperkenankan mengenyam bangku sekolah?
Membentuk Kemanusiaan Utuh
Tak dapat dipungkiri, bahwa belajar adalah hal yang sangat esensial dalam kehidupan. Manusia sebagai makhluk yang memiliki nalar intelektual, tentu harus belajar untuk mempertahankan harkat kemanusiaannya. Ia harus secara ajeg melakukan aktivitas itu tanpa kenal lelah selagi hayat masih dikandung badan. Lalu bagaimana manusia harus belajar? Apakah jalan satu-satunya belajar dengan melalui sebuah lorong yang bernama sekolah, dimulai dari TK sampai Perguruan Tinggi? Dan dengan demikian, manusia tak memiliki kemungkinan untuk memasuki lorong-lorong yang lain?
Dilihat dari ranah kognitif, belajar adalah aktivitas yang dilakukan untuk merubah dari kondisi tidak tahu menjadi tahu. Pada titik ini, ketika seseorang tidak tahu terhadap disiplin ilmu tertentu, ia bisa belajar dengan menggunakan bantuan media, baik yang berupa sekolah, guru maupun buku-buku secara umum. Perlu diingat, pengertian belajar dari sudut pandang ini sifatnya parsial. Artinya, ilmu yang diperoleh masihlah Ilmu al-Madrasah. Ia masih berada dalam tahap pengetahuan, dan tak ada jaminan apakah pengetahuan itu akan diterjemahkan kedalam sikap maupun perilaku, apalagi akhlak. Ini bisa dibuktikan dengan keadaan riil masyarakat modern seperti sekarang ini, di mana peningkatan jumlah sarjana universitas ternyata tidak berbanding lurus dengan peningkatan moral atau akhlak. Bukankah tiap hari dapat kita saksikan lewat layar televisi, betapa degradasi moral telah demikian akutnya merambah kebudayaan masyarakat, bahkan terhadap semua strata?
Namun ada model belajar yang kedua, ialah belajar dengan pengertian secara utuh. Sebuah proses manusia berupaya secara terus menerus memahami kemanusiaannya. Belajar dengan pengertian semacam ini sungguh sangat berbeda dengan pengertian yang pertama. Dalam menjalani proses ini, manusia sebagai makhluk yang memiliki sifat-sifat ketuhanan dituntut untuk setia kepada hati nuraninya. Tentu saja ia harus menghidupkan potensi dirinya untuk menghayati, merenungi dan mengapresiasi segala sesuatu yang tersebar di alam semesta. Pada tahap ini, yang diutamakan bukanlah mengetahui, tapi mengalami. Inilah yang dinamakan ilmu al-hayat. Pada tahap ini, keberadaan buku, guru atau bahkan sekolah menjadi bukan sesuatu hal yang niscaya.
Sebenarnya, Tuhan menciptakan seremeh apapun makhluk di muka bumi ini tak ada satupun yang sia-sia. Manusia sebagai makhluk mikrokosmos dapat belajar pada alam semesta yang makrokosmos. Ketika manusia melihat langit terbentang di cakrawala, dedaunan yang gugur, matahari yang demikian gagahnya menyinari bumi, hujan yang turun dari langit, desiran angin, gejolak ombak, burung-burung yang beterbangan di angkasa, itu semua adalah media yang disediakan Tuhan untuk proses pembelajaran manusia. Manusia juga bisa belajar kepada dirinya sendiri, kepada kesalahan-kesalahan masa lalu, kepada pengalaman-pengalaman, dan bahkan kepada setan sekalipun. Bukankah setan yang notabene telah menyatakan perlawanan kepada-Nya ternyata masih menyimpan rasa takut kepada Tuhan? Bandingkan dengan perilaku kehidupan kebanyakan manusia modern. Bukankah mereka mengakui Tuhan? Namun apakah segala perilaku dan budaya hidup sehari-harinya telah mencerminkan rasa takut kepada-Nya?
Belajar itu memang perlu dan bahkan mutlak bagi upaya manusia memahami potensi dirinya, mengenal rahasia terdalam alam semesta dan menghayati kehadiran ilahi. Tanpa belajar, manusia hanya akan menjadi organ yang mati, dan ia sama sekali tak berbeda dengan batu, keledai, kambing, atau mungkin kucing. Tapi bagaimanakah belajar yang benar-benar belajar? Apakah cukup hanya dengan mengandalkan ilmu-ilmu sekolahan, dengan mengandalkan buku-buku yang ditulis oleh para pakar? Ataukah berupaya naik setingkat lebih tinggi dari keadaan itu dengan memaksimalkan potensi rohaniah untuk memahami realitas kehidupan? Semuanya berpulang kepada diri kita masing-masing, sebab kitalah yang akan menentukan siapa kita, bukan orang lain.
*) Staf Pengajar di Lembaga Pendidikan "Roudlotun Nasyiin" Beratkulon Kemlagi Mojokerto, Jawa Timur.

Tidak ada komentar:

Statistik pengunjung