Soal menu makanan, Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak cuma ayam bakar Taliwangnya yang sudah dikenal luas sejak 32 tahun silam itu. Mengapa? Sejak tiga tahun terakhir, disulap lagi satu jenis menu dengan cita rasa bumbu yang cukup menggoda lidah setiap orang yang sudah mencicipinya. Itulah makanan khas dari Sekarbela.
Menu yang satu ini, mulanya hanya menjadi sajian coba-coba untuk diperkenalkan kepada masyarakat lokal maupun konsumen dari luar daerah Sekarbela. Yang unik, sajian Sekarbela miliki aroma tersendiri dibanding makanan khas Taliwang. Setelah ditelusuri lebih detail, rahasianya justru terletak pada racikan bumbunya.
Sebutan untuk setiap komposisi menu yang disajikanpun cukup memiliki ciri khas, baik itu ayam bakar, sayur bening, sop kikil, ikan bakar, bumbu rajang hingga kopi. Kekhasan itu terletak pada pemberian label yang disebut Sraten. Jadilah ayam Sraten, ikan bakar Sraten, pelecing Sraten, sayur bening Sraten hingga kopi Sraten. ’’Dinamakan Sraten karena bumbunya disebut bumbu seraten. Itulah yang membuat menu ini berbeda dengan makanan khas lainnya di NTB,’’ jelas H Aji Syailendra, pemilik dan manajer Lesehan Sekarbela di Jl Swakarya Perumnas, Tanjung Karang, Mataram.
Menu Sraten yang menjadi embrio pengembangan makanan khas Sekarbela biasanya disajikan pada hari raya Maulid Nabi Muhammad SAW oleh tetua Sekarbela tempo dulu. Dalam tradisi Lombok ketika tiba perayaan Maulid, para kerabat dan keluarga biasa cukup antusias bertandang ke Sekarbela. Bahkan jalan-jalan besar hingga gang sempit dipadati lalu lalang warga. ’’Apalagi Maulid di Sekarbela perayaannya serempak. Wah malah jadi repot,’’ ujar lulusan Fakultas Teknik Geologi salah satu Universitas di Jerman ini.
Dalam perkembangannya, makanan khas Sekarbela tidak lagi dirasakan saat peringatan Maulid Nabi. Oleh H Aji Syailendra, makanan khas itu kembali disuguhkan setiap hari di RM Lesehan Sekarbela Lombok. Diversifikasi menupun tidak luput dari perhatian Syailendra. Konon, Dosen Pertambangan Unversitas Muhamadiyah Mataram ini, siap memodif ayam betutu guling Sekarbela tanpa meninggalkan bumbu Sraten. Proses pengerjaan menu bisa dua jam. Si pemesan harus order sehari sebelumnya. ’’Kita rencanakan setiap hari Jumat disiapkan menu kambing Sraten bersegmen makanan keluarga dulu,’’ ujarnya.
Sejauh ini popularitas masakan khas Sekarbela ini diakui Aji masih kurang dan harus terus dipromosikan. Langkah taktis yang sudah dilakukan yakni dengan membuka Pondok Sekarbela di Jakarta sejak 9 bulan lalu, juga di Bandung, Lotim dan Aceh. Meski banyak cabang, manajemen warung Sekarbela tetap mengandalkan bumbu Sraten asal NTB itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar