Revolusi Biru Temuan Putra Indonesia
OLEH: INDAH WULANDARI
Seorang penemu Indonesia menciptakan sebuah formula kontroversial berbentuk nutrisi esensial bernama Nutrisi Saputra pada tahun 2002. Sang penemu, Umar Hasan Saputra (37), mampu membuktikan temuannya bisa meningkatkan produktivitas panen padi dan tanaman buah di beberapa daerah di pulau Jawa seperti Karawang Bantul, Jogja, Jember, dan Madiun. Bagaimana dengan pulau Bali?
Walaupun peredaran Nutrisi Saputra di Bali belum mencapai jangka waktu 1 tahun namun pemakaiannya sudah tersalurkan sekitar 2 ton di tengah-tengah petani, peternak maupun penghobi. Ir Nyoman Jaya Kusuma, salah seorang agennya menjelaskan bahwa nutrisi ini cocok untuk semua tanaman juga hewan ternak, tapi khusus Bali para penggunanya kebanyakan kelompok petani padi yang tersebar di kawasan seperti Karangasem, Tabanan, dan lainnya. Sayang hingga kini pemantauan hasil kerja produk Nutrisi Saputra belum berjalan sistematis. ‘’Kendalanya karena belum ada lahan yang jadi denplot khusus sehingga hasilnya kurang terpantau,” jelas Jaya.
Nutrisi Saputra sebenarnya bukan berupa pupuk organik, pupuk anorganik, probiotik, unsur hara. Selain untuk pertanian juga bisa digunakan untuk peternakan, perikanan, dan manusia. Nantinya akan dikembangkan pula untuk bahan kosmetik. Maka, pemakain pupuk kimia pun tak lagi diperlukan sehingga ada penghematan sumber daya, produktivitas meningkat, dan mengurangi usia tanam. ‘’Penggunaannya irit bila menggunakan pupuk 1 ha lahan butuh 700 kg, dengan nutrisi saputra hanya perlu 10 kg,” jelas Jaya. Misalnya luas tanah 2000 meter hanya diperlukan 2 botol (2 liter) nutrisi saputra. Biasanya, petani mengeluarkan sekitar Rp 950 ribu untuk biaya pupuk per hektar. Dengan nutrisi saputra, cukup dengan Rp 360 ribu per hektar.
Bahan nutrisi esensial ini berasal dari dasar laut (diamond of deep sea), di kedalaman sekitar 200 meter. Para ilmuwan Jepang menyebut nutrisi tersebut sebagai revolusi biru. Sejumlah ilmuwan meyakini garam sebagai salah satu bahan nutrisi esensial. Ternyata, dari hasil penelitian Saputra, mayoritas bahan revolusi biru itu berasal dari daratan. Saputra menyebut pati jagung yang diolah secara organik sebagai bahan dasar selain garam itu sendiri. Formula nutrisi esensial ini diujicobakan dengan menerapkan teknologi Water Stimulating Feed (WSF). Sebuah teknologi yang mengefisiensi penggunaan air. Meskipun banyak pengusaha dan peneliti luar negeri ingin mengajak kerja sama, sang penemunya belum bersedia. ‘’Ekspor baru dilakukan jika kebutuhan pangan di Indonesia sudah terpenuhi sesuai harapan presiden SBY agar mewujudkan swasembada beras pada 2008 dan menjadi lumbung beras pada 2009,” kutip Jaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar