OLEH : AGUS SALAM
Sepakbola menjelma menjadi kekuatan sihir yang mampu membangkitkan rasa nasionalisme. Tengok negeri Irak yang bertikai antar suku, hening saat kesebelasan mereka berlaga hingga mencapai final Piala Asia 2007. Mereka sejenak melupakan permusuhan di antara mereka. Stadion GOR Soekarno pun dipadati suporter ”merah-putih” saat kesebelasan Indonesia berlaga di ajang penyisihan grup Piala Asia. Rasa nasionalisme yang sudah lama pudar mengalir hingga pelosok daerah.
Meski tim Indonesia gagal ke perempat final, namun kualitas permainan yang ditunjukkan Bambang Pamungkas dkk, membangkitkan optimisme baru bagi masa depan bersepakbolaan Indonesia.
Yang harus dilakukan PSSI untuk saat ini adalah mengorganisir, mendidik dan mendewasakan persebakbolaan tanah air. Mungkin langkah-langkah tersebut bisa membuat sepakbola Indonesia lebih menarik lagi.
Menurut Ketua Umum PSSI Nurdin Halid, PSSI akan bekerja keras untuk mencapai target. Visi PSSI tahun 2020 yaitu mengantar Indonesia berpartisipasi di pentas sepakbola global, Olimpiade atau Piala Dunia. Dengan program ini, mudah-mudahan, pemain-pemain kita mampu berlaga di even internasional, katanya.
Karena itu, PSSI berencana pengiriman peman-pemain usia muda dari kategori usia 15 atau 16 tahun, untuk diikutkan dalam kompetisi di Uruguay, dan akan dibangun school of excelence di Sawangan, Bogor, yang menjadi dua program pembinaan pemain muda berkesinambungan untuk menunjang pencapaian target utama tersebut.
Menurut Nurdin, program-program tersebut tentu membutuhkan biaya yang cukup besar. “Dengan kesungguhan hati, saya yakin dana itu dapat diperoleh. PSSI juga akan menitipkan pemain-pemain muda berbakat untuk magang di klub-klub elite Eropa,” katanya.
Selain itu jelas Nurdin, masih banyak hal lain yang sebetulnya bisa digali demi kemajuan klub persepakbolaan nasional. Jika semua pihak paham betul akan arti sebuah profesionalisme, ke depan Liga Indonesia juga akan benar-benar berjalan dengan baik, seperti halnya liga-liga di negara maju. Asalkan, semua pihak mau berkorban untuk memajukan sepakbola nasional, bukan sekadar untuk mencari keuntungan pribadi atau kepentingan politik tertentu.
Ketua PSSI ini juga berencana, untuk melakukan penataan yang lebih baik dari kepengurusan di daerah-daerah, guna lebih menumbuhkan keterkaitan dan membangun sinergi antara pusat dan daerah. “Saya kira selama ini kita di pusat belum mau bekerja keras untuk membangun sebuah sistem yang terintegrasi antara pusat, daerah dan klub-klub itu,” katanya.
Sepakbola menjelma menjadi kekuatan sihir yang mampu membangkitkan rasa nasionalisme. Tengok negeri Irak yang bertikai antar suku, hening saat kesebelasan mereka berlaga hingga mencapai final Piala Asia 2007. Mereka sejenak melupakan permusuhan di antara mereka. Stadion GOR Soekarno pun dipadati suporter ”merah-putih” saat kesebelasan Indonesia berlaga di ajang penyisihan grup Piala Asia. Rasa nasionalisme yang sudah lama pudar mengalir hingga pelosok daerah.
Meski tim Indonesia gagal ke perempat final, namun kualitas permainan yang ditunjukkan Bambang Pamungkas dkk, membangkitkan optimisme baru bagi masa depan bersepakbolaan Indonesia.
Yang harus dilakukan PSSI untuk saat ini adalah mengorganisir, mendidik dan mendewasakan persebakbolaan tanah air. Mungkin langkah-langkah tersebut bisa membuat sepakbola Indonesia lebih menarik lagi.
Menurut Ketua Umum PSSI Nurdin Halid, PSSI akan bekerja keras untuk mencapai target. Visi PSSI tahun 2020 yaitu mengantar Indonesia berpartisipasi di pentas sepakbola global, Olimpiade atau Piala Dunia. Dengan program ini, mudah-mudahan, pemain-pemain kita mampu berlaga di even internasional, katanya.
Karena itu, PSSI berencana pengiriman peman-pemain usia muda dari kategori usia 15 atau 16 tahun, untuk diikutkan dalam kompetisi di Uruguay, dan akan dibangun school of excelence di Sawangan, Bogor, yang menjadi dua program pembinaan pemain muda berkesinambungan untuk menunjang pencapaian target utama tersebut.
Menurut Nurdin, program-program tersebut tentu membutuhkan biaya yang cukup besar. “Dengan kesungguhan hati, saya yakin dana itu dapat diperoleh. PSSI juga akan menitipkan pemain-pemain muda berbakat untuk magang di klub-klub elite Eropa,” katanya.
Selain itu jelas Nurdin, masih banyak hal lain yang sebetulnya bisa digali demi kemajuan klub persepakbolaan nasional. Jika semua pihak paham betul akan arti sebuah profesionalisme, ke depan Liga Indonesia juga akan benar-benar berjalan dengan baik, seperti halnya liga-liga di negara maju. Asalkan, semua pihak mau berkorban untuk memajukan sepakbola nasional, bukan sekadar untuk mencari keuntungan pribadi atau kepentingan politik tertentu.
Ketua PSSI ini juga berencana, untuk melakukan penataan yang lebih baik dari kepengurusan di daerah-daerah, guna lebih menumbuhkan keterkaitan dan membangun sinergi antara pusat dan daerah. “Saya kira selama ini kita di pusat belum mau bekerja keras untuk membangun sebuah sistem yang terintegrasi antara pusat, daerah dan klub-klub itu,” katanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar