Rabu

Etnis Yang Unggul Dalam Kegigihan

Mustapa Muhammad Bong
Tak bisa dipungkiri, keberadaan etnis Cina di Indonesia telah menjadi sejarah panjang yang harus disikapi secara arif. Sejarah adalah guru terbaik untuk menyikapi keberadaan etnis Cina yang jumlahnya hampir 10 juta jiwa di negeri ini. Mereka adalah bagian dari bangsa Indonesia yang pada tanggal 28 Februari 2007 nanti akan merayakan Imlek Nasional.
Walau keran pembauran sudah lama dibuka, namun masih saja ada jurang pemisah, perlakuan, dikotomi dan diskriminasi baik dari pribumi maupun etnis Cina. Kenapa ini bisa terjadi? Apa sebenarnya yang terjadi pada etnis Cina di Indonesia dan bagaimana mereka mengembangkan kerajaan bisnisnya hingga timbul persepsi etnis Cina menguasai ekonomi bangsa Indonesia? Ikutilah petikan wawancara media ini dengan Mustapa Muhammad Bong, Komisaris Utama, PT. Insan Makmur Mandiri, bidang usaha pertambahangan emas dan HPH di Bangka Belitung. Pria kelahiran Bangka Belitung berdarah Cina ini juga memimpin Yayasan Pendidikan Islam Nusantara Pesantren Cina Melayu Propinsi Bangka Belitung.

Hubungan etnis Cina dan pribumi pada masa lalu diwarnai pertentangan dan kecemburuan sosial. Mengapa demikian?

Memang sejak zaman penjajahan Belanda, etnis Cina hidup secara eksklusif dan mempunyai peran serta kondisi ekonomi dan strata sosial yang sangat berbeda dengan kaum pribumi kala itu. Pembagian ini jelas lebih menguntungkan etnis Cina dan golongan pribumi yang paling dirugikan. Akibat kebijakan pemerintah kolonial Belanda, orang Cina dilarang berbaur dengan pribumi. Perbedaan strata sosial kemudian digunakan oleh kolonial Belanda untuk menerapkan politik devide et impera dengan cara mengadu domba antara golongan pribumi dengan etnis Cina. Seolah-olah golongan pribumi itu inferior, tidak dapat dipercaya, tidak jujur, bodoh dan selalu memusuhi etnis Cina. Sebaliknya etnis Cina digambarkan sebagai suatu komunitas yang licik, mau menang sendiri, eksklusif, kikir dan menguasai ekonomi. Pada akhirnya hal tersebut menimbulkan kebencian yang mendalam dari golongan pribumi terhadap etnis Cina.

Mengapa pemerintahan Orde Baru membiarkan kondisi tersebut terus berlangsung?

Mungkin pemerintah waktu itu masih mengharapkan keuntungan dengan terus menanamkan kebencian terhadap etnis Cina. Dan satu sisi etnis Cina dipelihara oleh Orde Baru. Hal ini terlihat dengan pengkotakan penduduk dan perbedaan dalam kelompok masyarakat, misalnya dikotomi Jawa dan non Jawa, muslim dan non muslim, militer dan sipil, mayoritas dan minoritas, pribumi dan non pribumi, dan seterusnya yang tidak kalah seriusnya. Secara sistematis dan konsisten, Orde Baru juga telah membatasi, menekan dan menghancurkan hak-hak politik etnis Cina sehingga banyak dikeluarkan kebijakan-kebijakan yang bersifat diskriminatif yang sangat mengucilkan etnis Cina di Indonesia. Mereka menjadi warga yang paling apolitis. Takut berpolitik, takut bicara politik, takut bersikap dalam politik. Pada masa itu diciptakan situasi di mana peluang bisnis diberikan sebesar-besarnya kepada etnis Cina sehingga tercipta golongan konglomerat dari etnis Cina yang dianggap sebagai golongan oportunis dengan mendekati penguasa tanpa memperdulikan nasib rakyat, sehingga menimbulkan kesan salah seolah-seolah etnis Cina secara keseluruhan telah menyebabkan kemiskinan bagi rakyat Indonesia.

Bagaimana kondisi kini sejak keran pembauran dibuka Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan perayaan seperti Imlek serta kesenian Barongsai yang pernah dilarang dihidupkan kembali?

Ini kemajuan yang patut disyukuri, bagaimanapun kita tidak bisa terus terdikatomi. Biar bagaimanapun mereka (etnis Cina) juga memiliki kontribusi yang besar terhadap perjalanan bangsa. Hanya segelincir etnis Cina yang menikmati hasil kekayaan warisan Orde Baru dibandingkan dengan pejabat-pejabat pada waktu itu. Kalau mau jujur etnis Cina hanya dijadikan boneka dan sasaran tembak pejabat-pejabat yang korup pada waktu itu. Tak sedikit para etnis Cina memiliki perusahaan besar, namun di balik perusahaan besar itu para pemegang sahamnya adalah para pejabat-pejabat yang berkuasa pada waktu itu.

Banyak perusahaan milik etnis Cina dijadikan kedok?
Walau tidak semua perusahaan Cina tetapi kenyataannya seperti itu, dan ini menjadi bom waktu bagi etnis Cina seperti yang terjadi pada peristiwa 14 Mei 1998. Parahnya lagi, etnis Cina yang menikmati hasil korupsi bisa kabur ke luar negeri. Sialnya, etnis keturunan Cina yang tidak tahu apa-apa dan berjuang hidup dengan semangat kerja, harus menanggung akibatnya.

Ada anggapan etnis Cina membangun bisnis tertutup di antara sesama mereka?

Tidak benar itu! Etnis Cina memiliki pribadi egois dalam persaingan. Saya sering mendamaikan para Cina itu berantem bahkan sampai tingkat pengadilan. Dan itu artinya orang-orang etnis Cina di Indonesia tidak membentuk suatu kroni seperti pada masa Orde Baru. Mereka berjuang sendiri untuk meraih sukses. Bahkan dikatakan persatuan Cina itu solid dan kuat. Itu juga tidak benar. Anda mungkin melihat di Jakarta etnis Cina kaya-kaya. Atau di sekitar mall Blok M ini, engkoh-engkoh dan encinya licin-licin, coba lihat di perkampungan pinggiran seperti di Tanggerang, Bekasi atau di Glodok pinggiran yang tinggalnya di daerah kumuh juga banyak. Belum lagi di pelosok Indonesia, di daerah-daerah, mereka hidupnya kere (miskin). Jadi etnis Cina itu banyak yang egois.

Etnis Cina sering dibenci karena berlaku kasar terhadap pembantu atau karyawan pribumi?

Kalau ada keturuan Cina yang menganiaya pembantu, memberi upah yang minim dan memperlakukan pribumi secara kasar itu adalah Cina gila, Cina yang tidak mempunyai aturan hidup. Padahal bangsa Cina itu telah memiliki peradaban yang sangat lama dan sangat terkenal dengan akhlaknya. Bahkan negeri Sinn (bahasa Arabnya) sudah ada dalam hadist Nabi, ''belajarlah kamu ke negeri Cina''. Karena negeri Cina waktu itu sudah memiliki peradaban yang bagus. Nah, kalau ada orang Cina tidak berakhlak berarti itu Cina gila.

Apa yang melatarbelakangi etnis Cina lebih maju dari pribumi?

Yang jelas Tuhan memberikan manusia itu akal untuk maju, siapa saja baik itu etnis Cina, Arab, Melayu, jika ada kemauan untuk maju dan berkembang, ia akan maju. Banyak Cina-Cina miskin, itu akibat mereka malas, begitu juga etnis lainnya.

Anda merayakan Imlek nasional?

Maaf, saya memang keturunan Cina tetapi saya tidak memperingati Imlek, saya seorang Cina muslim. Namun saya hanya berharap agar seluruh bangsa, baik itu etnis Cina, Arab, Melayu dan etnis-etnis lainnya di Indonesia agar bersama-sama peduli dengan nasib bangsa ini agar Indonesia menjadi negara yang makmur. Tak perlu kita mencari-cari jurang perbedaan, carilah persamaan yang baik. Bukankah di dalam agama Islam tidak mengenal perbedaan suku bangsa. Dan Tuhan juga tidak menilai seseorang dari suku bangsanya tetapi amal perbuatannya.
(Pewawancara Agus Salam)

Tidak ada komentar:

Statistik pengunjung