Oleh: SUDARYANTO*
Pengumuman hasil Ujian Nasional (UN) tahun ajaran 2006/2007 menjadi momen yang teramat penting bagi siswa kelas III SMP dan SMA. Ketetapan hasil lulus atau tidak lulus dalam UN tersebut merupakan legitimasi bagi start perencanaan masa depan mereka, terutama siswa yang akan menamatkan pendidikan tingkat SMA.
Dua opsi yang akan diambil para siswa yakni, bekerja atau melanjut ke perguruan tinggi. Berbeda dengan tingkat SMP, yang akan memilih sekolah lanjutan, apakah itu umum, keagamaan, atau kejuruan yang kini sedang digencarkan pemerintah. Terlebih saat ini sudah memasuki musim berburu sekolah di tahun ajaran baru.
Para siswa SMA yang baru menyelesaikan pendidikannya selalu menjadikan orangtua sebagai orang pertama dan terdekat untuk berkonsultasi atau curhat tentang masa depan mereka. Hal ini mengingat, sebagian besar perencanaan masa depan setiap insan pada awalnya memang bersumber dari lingkungan keluarga, erlebih lagi peran orang tua.
Contoh, ketika kita masih kecil, ayah atau ibu kita biasanya menanyakan, nak, nanti kalau sudah besar cita-citanya mau jadi apa? Lantas si anak akan menjawab; jadi dokter, jadi presiden, jadi pilot dan sebagainya, tentunya yang enak-enak.
Di sisi lain, ada juga orangtua yang sejak dini mendoktrin anaknya harus jadi ini jadi itu. Misalnya, kau harus jadi sarjana seperti ayah!, kau harus menjadi PNS agar masa tuamu terjamin!, kau harus jadi dokter agar keluargamu makmur!, atau kau harus jadi artis agar bisa kaya raya!. Jarang sekali orangtua menegaskan pada anaknya, kau harus menjadi anak saleh agar bisa mendoakan orangtua kelak! Sungguh ironis, karena perspektif masa depan ternyata selalu divisualisasikan dengan kebahagiaan material! Namun, seperti itulah realitasnya.
Berbicara masalah perencanaan masa depan untuk menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi, harus diakui, bahwa peran orangtua memang sangat penting. Sebab, orangtua merupakan salah satu pilar pendidikan seperti pendapat Hobsondalam Freire (2000:25) yang meyakini keterlibatan orangtua dalam proses pendidikan sekolah akan mempunyai dampak pada semangat anak dalam belajar.
Tak dapat dimungkiri pula, bahwa kesuksesan manusia dalam menjalani hidup terutama bila ditinjau dari segi pendidikan akan membuat orangtua lebih aktif mempengaruhi anak untuk menentukan pilihan. Apalagi orangtua tersebut terlebih dahulu mengecap pendidikan tinggi. Hal ini disebabkan mereka telah merasakan manfaat pendidikan yang mereka capai. Namun adalah hal yang tidak bisa kita hindari pula, ketika orangtua maunya A tetapi si anak justru memilih B, misalnya dalam memilih perguruan tinggi dan jurusan, pekerjaan hingga masalah urusan jodoh.
Ketidaksinkronan pilihan ini terkadang bermuara pada gap (celah pemisah). Orangtua memaksakan anak sebagai miniaturnya, yang pada akhirnya malah selalu ber-versus (bertentangan) pada sang anak dalam perencanaan masa depan. Pemaksaan kehendak justru malah membakar bahkan memupus imajinasi anak tentang sebuah cita-cita yang sejak kecil dipatrinya dalam benak. Tanpa disadari, orangtua memang sering menjadikan anaknya sebagai robot bagi ambisi dan keinginannya. Atau dengan kata lain orangtua menjadi selalu menjadi decision maker (penentu kebijakan), yang tak dapat diganggu gugat lagi.
Celakanya, pengalaman orangtua di masa lalu pun, biasanya menjadi referensi perbandingan bagi anak. Misalnya dengan bercermin pada historis berupa kesulitan-kesulitan dan perjuangan keras yang pernah dialami terus diutarakan dengan harapan bisa menjadi motivator bagi anaknya, meski zaman telah banyak berubah. Orangtua tentu kerap berujar, dulu ayahmu ini pergi ke sekolah, menempuh berkilo-kilo meter hanya dengan berjalan, tidak ada jajan sepeser pun, baju hanya satu cuci kering, pulang sekolah pergi ke sawah mencangkul, mencari upahan, tapi kini ayah bisa mengecap perguruan tinggi, bisa PNS, punya kedudukan, dihormati bawahan. Nah, sekarang kamu semuanya sudah serba ada dan enak. Lha, prestasimu mana?
Memang, menyatakan hal tersebut adalah hak sebagai orangtua. Selain itu, gempuran wacana historis seperti itu, sekali dua kali memang dapat diambil hikmahnya oleh anak sebagai pengobar semangat. Namun, jujur harus kita akui, bahwa jika gempuran tersebut bertubi-tubi, justru malah membuat anak merasa kesal.
Sudah saatnya orangtua memberikan kebebasan bagi anak untuk memilih dan menentukan sendiri perencanaan masa depannya, tanpa di-back up dengan ancaman dan tekanan. Dalam konteks ini, orangtua tetap harus ikut turun tangan sepanjang ada pemikiran dan atau hal yang menyimpang yang dilakukan oleh si anak.
Orientasi yang sangat perlu dibangun pada diri anak adalah bagaiman bisa belajar mampu dan berani bertanggung jawab atas segala perbuatannya (Uken Junaedi, 2005). Dalam hal ini, orangtua dan anak perlu menjalin pola komunikasi yang lebih menitikberatkan pada diskusi yang membuka wacana seputar tugas-tugas dan probabilitas dampak dari keputusan yang diambil. Ada pun posisi orangtua dalam menanggapi diskusi tersebut cenderung lebih meluruskan dan mendudukkan segala persoalan dengan bijak apabila terdapat penyimpangan pemahaman.
Siapa pun, tentu tidak ingin gagal mendidik anak atau melihat anaknya gagal dan atau frustrasi dalam hidupnya. Orangtua yang bijaksana akan senantiasa membekali anak-anaknya agar bisa berpikir positif tentang masa depannya. Namun dalam menempatkan posisi, sebagai anak pun tentunya haruslah berpikir positif pula.
Jika hal ini bisa di-ejawantah-kan (direalisasikan), terlebih, apabila komunikasi antara orangtua dan anak selalu bisa terbina secara positif dalam menentukan dan memutuskan apa pun selain masa depan anak, maka gap antara orangtua dan anak pasti tidak akan terjadi. Sikap dan sifat positif anak merupakan anugerah sebagai fitrah yang ada dalam dirinya. Setiap manusia yang terlahir ke dunia ini semuanya dalam keadaan fitrah, bersih seperti kain putih dan selanjutnya orangtua berperan mendidiknyam dan mendampinginya meniti masa depan.
*) Guru (GTT) Bimbingan Konseling (BK) SMAN I Bayat, Klaten, Jawa Tengah
Pengumuman hasil Ujian Nasional (UN) tahun ajaran 2006/2007 menjadi momen yang teramat penting bagi siswa kelas III SMP dan SMA. Ketetapan hasil lulus atau tidak lulus dalam UN tersebut merupakan legitimasi bagi start perencanaan masa depan mereka, terutama siswa yang akan menamatkan pendidikan tingkat SMA.
Dua opsi yang akan diambil para siswa yakni, bekerja atau melanjut ke perguruan tinggi. Berbeda dengan tingkat SMP, yang akan memilih sekolah lanjutan, apakah itu umum, keagamaan, atau kejuruan yang kini sedang digencarkan pemerintah. Terlebih saat ini sudah memasuki musim berburu sekolah di tahun ajaran baru.
Para siswa SMA yang baru menyelesaikan pendidikannya selalu menjadikan orangtua sebagai orang pertama dan terdekat untuk berkonsultasi atau curhat tentang masa depan mereka. Hal ini mengingat, sebagian besar perencanaan masa depan setiap insan pada awalnya memang bersumber dari lingkungan keluarga, erlebih lagi peran orang tua.
Contoh, ketika kita masih kecil, ayah atau ibu kita biasanya menanyakan, nak, nanti kalau sudah besar cita-citanya mau jadi apa? Lantas si anak akan menjawab; jadi dokter, jadi presiden, jadi pilot dan sebagainya, tentunya yang enak-enak.
Di sisi lain, ada juga orangtua yang sejak dini mendoktrin anaknya harus jadi ini jadi itu. Misalnya, kau harus jadi sarjana seperti ayah!, kau harus menjadi PNS agar masa tuamu terjamin!, kau harus jadi dokter agar keluargamu makmur!, atau kau harus jadi artis agar bisa kaya raya!. Jarang sekali orangtua menegaskan pada anaknya, kau harus menjadi anak saleh agar bisa mendoakan orangtua kelak! Sungguh ironis, karena perspektif masa depan ternyata selalu divisualisasikan dengan kebahagiaan material! Namun, seperti itulah realitasnya.
Berbicara masalah perencanaan masa depan untuk menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi, harus diakui, bahwa peran orangtua memang sangat penting. Sebab, orangtua merupakan salah satu pilar pendidikan seperti pendapat Hobsondalam Freire (2000:25) yang meyakini keterlibatan orangtua dalam proses pendidikan sekolah akan mempunyai dampak pada semangat anak dalam belajar.
Tak dapat dimungkiri pula, bahwa kesuksesan manusia dalam menjalani hidup terutama bila ditinjau dari segi pendidikan akan membuat orangtua lebih aktif mempengaruhi anak untuk menentukan pilihan. Apalagi orangtua tersebut terlebih dahulu mengecap pendidikan tinggi. Hal ini disebabkan mereka telah merasakan manfaat pendidikan yang mereka capai. Namun adalah hal yang tidak bisa kita hindari pula, ketika orangtua maunya A tetapi si anak justru memilih B, misalnya dalam memilih perguruan tinggi dan jurusan, pekerjaan hingga masalah urusan jodoh.
Ketidaksinkronan pilihan ini terkadang bermuara pada gap (celah pemisah). Orangtua memaksakan anak sebagai miniaturnya, yang pada akhirnya malah selalu ber-versus (bertentangan) pada sang anak dalam perencanaan masa depan. Pemaksaan kehendak justru malah membakar bahkan memupus imajinasi anak tentang sebuah cita-cita yang sejak kecil dipatrinya dalam benak. Tanpa disadari, orangtua memang sering menjadikan anaknya sebagai robot bagi ambisi dan keinginannya. Atau dengan kata lain orangtua menjadi selalu menjadi decision maker (penentu kebijakan), yang tak dapat diganggu gugat lagi.
Celakanya, pengalaman orangtua di masa lalu pun, biasanya menjadi referensi perbandingan bagi anak. Misalnya dengan bercermin pada historis berupa kesulitan-kesulitan dan perjuangan keras yang pernah dialami terus diutarakan dengan harapan bisa menjadi motivator bagi anaknya, meski zaman telah banyak berubah. Orangtua tentu kerap berujar, dulu ayahmu ini pergi ke sekolah, menempuh berkilo-kilo meter hanya dengan berjalan, tidak ada jajan sepeser pun, baju hanya satu cuci kering, pulang sekolah pergi ke sawah mencangkul, mencari upahan, tapi kini ayah bisa mengecap perguruan tinggi, bisa PNS, punya kedudukan, dihormati bawahan. Nah, sekarang kamu semuanya sudah serba ada dan enak. Lha, prestasimu mana?
Memang, menyatakan hal tersebut adalah hak sebagai orangtua. Selain itu, gempuran wacana historis seperti itu, sekali dua kali memang dapat diambil hikmahnya oleh anak sebagai pengobar semangat. Namun, jujur harus kita akui, bahwa jika gempuran tersebut bertubi-tubi, justru malah membuat anak merasa kesal.
Sudah saatnya orangtua memberikan kebebasan bagi anak untuk memilih dan menentukan sendiri perencanaan masa depannya, tanpa di-back up dengan ancaman dan tekanan. Dalam konteks ini, orangtua tetap harus ikut turun tangan sepanjang ada pemikiran dan atau hal yang menyimpang yang dilakukan oleh si anak.
Orientasi yang sangat perlu dibangun pada diri anak adalah bagaiman bisa belajar mampu dan berani bertanggung jawab atas segala perbuatannya (Uken Junaedi, 2005). Dalam hal ini, orangtua dan anak perlu menjalin pola komunikasi yang lebih menitikberatkan pada diskusi yang membuka wacana seputar tugas-tugas dan probabilitas dampak dari keputusan yang diambil. Ada pun posisi orangtua dalam menanggapi diskusi tersebut cenderung lebih meluruskan dan mendudukkan segala persoalan dengan bijak apabila terdapat penyimpangan pemahaman.
Siapa pun, tentu tidak ingin gagal mendidik anak atau melihat anaknya gagal dan atau frustrasi dalam hidupnya. Orangtua yang bijaksana akan senantiasa membekali anak-anaknya agar bisa berpikir positif tentang masa depannya. Namun dalam menempatkan posisi, sebagai anak pun tentunya haruslah berpikir positif pula.
Jika hal ini bisa di-ejawantah-kan (direalisasikan), terlebih, apabila komunikasi antara orangtua dan anak selalu bisa terbina secara positif dalam menentukan dan memutuskan apa pun selain masa depan anak, maka gap antara orangtua dan anak pasti tidak akan terjadi. Sikap dan sifat positif anak merupakan anugerah sebagai fitrah yang ada dalam dirinya. Setiap manusia yang terlahir ke dunia ini semuanya dalam keadaan fitrah, bersih seperti kain putih dan selanjutnya orangtua berperan mendidiknyam dan mendampinginya meniti masa depan.
*) Guru (GTT) Bimbingan Konseling (BK) SMAN I Bayat, Klaten, Jawa Tengah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar