Siswa sekolah menengah secara teoritis mempelajari manfaat tanaman obat keluarga (TOGA) sebagai apotik hidup. Mereka menghafal nama jenis-jenis tanaman obat tanpa pernah melihat apalagi memegang tanaman tersebut. Karena itu pihak sekolah jeli memanfaat masa jeda setelah ujian membawa siswa bertamasya ke berbagai kebun percontohan tanaman obat. Mereka bisa membuat perbandingan antara teori yang didapat di buku dan pengamatan langsung di lapangan.
SMAK Santo Yoseph Denpasar, misalnya, setiap semester pertama selalu mengadakan kunjungan ke lokasi hutan Mangrove, TPA Suwung dan Kebun Percontohan Tanaman Obat PT Karya Pak Oles Tokcer di Jl Pulau Roti, Denpasar. Kunjungan tersebut berguna untuk menambah wawasan siswa tentang jenis tanaman obat dan manfaatnya. ”Setiap selesai ujian semester satu, anak–anak melakukan city tour ke berbagai tempat, salah satunya ke kebun tanaman obat milik Pak Oles. Hal ini dilakukan untuk mengenalkan siswa pada manfaat lingkungan alam terutama tanaman obat,” ungkap Rudy Widjanto, Wakasek Kurikulum.
Kebun percontohan tanaman obat milik Pak Oles ini memiliki luas area satu hektar. Di atasnya terdapat 200-an lebih jenis tanaman obat, sehingga siswa dapat mempelajari jenis, cara perawatan dan kegunaan tanaman obat tersebut. Selain itu siswa juga dapat mengetahui nama-nama jenis tanaman obat. ”Kunjungan lapangan ke kebun tanaman obat atau ke TPA Suwung dapat menambah wawasan ilmiah siswa. Pembelajaran lewat teori saja tidak cukup. Pelajaran harus diberikan secara teori dan praktek langsung ke lapangan. Sehingga ada keseimbangan antara ilmu teori dan praktek,” kata pria asal
SMAN 5 Denpasar Kelola TOGA
Sedangkan SMAN 5 Denpasar mengajar siswa mengenal alam lingkungan dengan menanam pohon, bunga dan tanaman obat di halaman sekolah. Berbagai tanaman tertata apik menghiasi seluruh gedung sekolah. Di
Menurut drs A.A Dalem Mahendra, SH, Ketua Lingkungan SMAN 5, penerapan sekolah berbasis lingkungan telah diterapkan sejak tahun 1992. “Dengan menerapkan TOGA di lingkungan sekolah, memberi nilai positif bagi siswa. Siswa dapat menerapkan secara langsung apa yang didapat dari guru dan buku ke dunia nyata. Sehingga wawasan siswa bertambah. Selain itu pemahaman tentang pentingnya lingkungan akan menimbulkan rasa penduli terhadap lingkungan. Hal ini secara tidak langsung mengajak siswa untuk ikut melestarikan tanaman obat dan tanaman yang lainnya,“ katanya.
Tanaman yang ada di lingkungan sekolah ini terdiri dari apotik hidup, warung hidup, lumbung hidup dan dapur hidup. Untuk apotik hidup, selain dapat digunakan sebagai obat juga dapat digunakan untuk keperluan upacara/sembahyang bagi umat Hindu. TOGA dipelihara sendiri oleh siswa didampingi guru biologi dan dimanfaatkan sebagai keperluan proses belajar mengajar serta untuk keperluan unit kesehatan sekolah (UKS). “Selama ini TOGA tidak hanya dimanfaatkan sebagai penelitian bagi siswa. Tapi juga digunakan sebagai obat bagi kesembuhan siswa yang sedang sakit, bisa dikatakan TOGA untuk keperluan UKS sebagai pertolongan pertama,” ujar Dalem Mahendra lulusan Biologi Universitas Udayana, Denpasar.
Untuk tanaman yang tergolong sebagai warung hidup seperti mangga dan jambu, hasilnya dapat dijual. Agar tetap lestari, pemeliharaan dan peremajaan tanaman terus dilakukan baik oleh siswa atau guru. Untuk menambah wawasan, pihak sekolah tidak hanya puas dengan tanaman yang dimiliki. Setiap tahun, mereka melakukan studi banding ke sekolah di
Sabtu
POJOK : Siswa Tengok Kebun TOGA
Oleh: Heni Kurniawati
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar