Senin

Selamat Datang Di Kampus Perjuangan!

SOROT
Oleh: Romi Rohmatin*
"Selamat Datang di Kampus Perjuangan!", demikian spanduk yang terpasang saat saya datang ke kampus pertama kalinya beberapa tahun lalu. Sebuah kata sambutan yang heroik pada saat mahasiswa baru berbondong-bondong datang ke kampus untuk memulai tahapan baru pendidikan, yaitu pendidikan tinggi. Memasuki perguruan tinggi merupakan cita-cita setiap remaja yang ingin menempuh pendidikan tinggi. Minat memasuki perguruan tinggi, dari tahun ke tahun, rata-rata meningkat. Ini membuktikan bahwa melanjutkan pendidikan tidak hanya berhenti pada tingkat SMU saja. Bahkan banyak orang mulai menyadari bahwa pendidikan adalah hakekat manusia dalam kehidupan. Pendidikan seumur hidup! Long-life education! Mereka memasuki perguruan tinggi diiringi berbagai macam obsesi. Obsesi mencari ilmu dan pengetahuan, bisa jadi, adalah alasan yang telah usang. Alasan utama tentunya adalah kemudahan mencari pekerjaan. Dengan kuliah diharapkan akan mendapatkan pekerjaan yang berbeda dengan mereka yang hanya lulus setingkat SD, SMP, atau SMU. Pendidikan adalah sarana yang membantu memudahkan mobilisasi sosial. Sayang, obsesi semacam itu kian jauh dari benak para remaja yang hendak memasuki perguruan tinggi (kampus). Dalam budaya yang telah berubah, mobilitas sosial bukan berarti berkaitan dengan masalah (mendapatkan) pekerjaan, posisi atau jabatan yang mendatangkan uang. Dalam iklim budaya kapitalistik sekarang ini, mobilitas lebih banyak bermakna perubahan gaya hidup. Menjadi mahasiswa adalah soal status yang mendefinisikan gaya hidup kaum muda yang berbeda dibanding kaum lainnya. Gaya hidup mahasiswa adalah gaya hidup kelas menengah --bahkan juga gaya hidup kelas atas yang dicirikan dengan kemampuannya mengonsumsi produk dan gaya hidup modern (yang dalam hal tertentu terserap ke dalam gaya hidup pasar kapitalistik). Apalagi muncul tendensi mahasiswa tidak lagi bercitra sebagai kaum intelektual, pembela rakyat, atau aktivis perubahan (agent of change). Posisi dan peran insan kampus ini mengalami titik kritis, dipandang oleh masyarakat semakin tak jelas lagi. Pencitraan buruk terhadap mahasiswa dibuat oleh kekuatan kapitalis (terutama TV) lewat kisah sinetron, opera sabun, dan juga acara-acara lainnya seperti reality show --hanya mengangkat kehidupan sebagian mahasiswa yang hanya sibuk mengejar urusan "cinta", pergaulan saling berburu pasangan dengan dramaturgi yang berlebihan. Dalam kisah sinetron, misalnya, kampus hanya menjadi aktivitas untuk kisah "cinta sempit" yang bernama "pacaran" dengan warna gaya hidup yang menonjolkan tampilan fisik, trendi-trendian, dan gaul-gaulan. Artinya, TV tidak lagi mencitrakan mahasiswa sebagai kaum intelektual, yang sering berbicara dan beraktivitas soal masalah masyarakat bangsa dan dunia (kehidupan). TV hendak menebarkan pandangan bahwa mahasiswa adalah mereka yang dengan bersuka ria menghabiskan waktu bersenang-senang, menjadikan kampus sebagai menara gading kekuasaan pasar (modal). Mahasiswa adalah mereka yang memikirkan dirinya sendiri, di satu sisi menangis dan sedih jika tidak mendapatkan pasangan dan di sisi lain jahat untuk merebutkan pasangan. Kisahnya dramatis hanya untuk mengurusi kepuasan dan kenyamanan diri --baik pada saat "pacaran" maupun dapat bergaul dengan sesama kawan, juga menjadi eksis saat belanja. Kampus adalah ajang trendi-trendian. Kampus adalah bagian dari gaya hidup pasar. Masyarakatpun akhirnya lupa bahwa mahasiswa memiliki potensi besar untuk menjadi kalangan yang punya posisi dan peran yang besar dalam sejarah. Di negara manapun, mahasiswa pernah menjadi kekuatan yang penting dalam merubah tatanan sosial. TV dan media-media yang menjadi kepanjangan pasar nampaknya ingin menyembunyikan posisi dan peran mahasiswa. Bahkan, mereka ingin membentuk posisi dan peran yang baru, menjadikan keberadaan mahasiswa hanya sebagai perantara budaya pasar dan sasaran bagi produk-produk kapitalistik. Negara pun tidak lagi serius dalam membenarkan sejarah mahasiswa Indonesia. Mahasiswa, misalnya, datang ke kampus, mereka dalam banyak hal (karena berasal dari golongan kaya ataupun kelas menengah ke atas) lebih cenderung malas-malas. Aktivitas dan wataknya adalah ekspresi dari kelas borjuis. Mereka, apalagi dalam sistem pendidikan yang terkapitalisasikan, lebih banyak mencari kesenangan daripada melakukan aktivitas yang menyadarkan mereka tentang penderitaan orang-orang miskin, ataupun menekuni teori-teori dan menggagas perubahan menuju sistem sosial yang lebih adil. Mahasiswa justru digiring ke ranah budaya massa kapitalistik, mereka justru menjadi produser budaya yang kondusif bagi berkembangbiaknya keuntungan penumpuk modal. Pada perkembangannya, hakekat mahasiswa sebagai "siswa" yang "maha" justru terbalik: Mereka, sebagai bagian dari budaya konsumen dan "anak modal", justru tidak hadir sebagai golongan sosial yang mampu berpikir kritis-filosofis, tidak mampu menjadikan diri sebagai manusia yang mempertanyakan segala sesuatu (realitas sosial) untuk kemudian menjadi kekuatan perubahan bagi struktur sosial yang adil. Tentu saja hal ini menyimpang bukan hanya secara hakekat eksistensial manusia terdidik yang disebut mahasiswa, tetapi juga secara konteks sejarah gerakan mahasiswa itu sendiri. Saat ini, masyarakat masih juga membutuhkan posisi dan peran sejati mahasiswa untuk merubah tatanan masyarakat yang masih diwarnai ketidakadilan ini.
*) Ketua bidang Pemberdayaan Perempuan di LSM BTNI (Barisan Tani Nelayan Indonesia) dan pengurus NU di Trenggalek Jawa Timur.

Tidak ada komentar:

Statistik pengunjung