Oleh: Endrik Safudin*
Siapa yang mengendalikan masa lalu mengendalikan masa depan, Siapa yang mengendalikan masa kini mengendalikan masa lalu.
(George Orwell, Nineteen Eighty Four)
Di puncak tahun 2007 dan menjelang tahun 2008, ungkapan George Orwell di atas sepatutnya menjadi refleksi bagi bangsa Indonesia. Apakah bangsa Indonesia mampu mengendalikan masa lalu untuk mengendalikan masa depan atau mengendalikan masa kini untuk mengendalikan masa lalu? Dengan kata lain, akankah di tahun yang baru kondisi bangsa ini sama dengan tahun lalu? Atau akankah tahun yang akan datang lebih baik dari pada tahun lalu? Atau apakah tahun yang akan datang lebih buruk daripada tahun yang lalu? Atau membiarkan tahun lalu berlalu tanpa direfleksikan?
Dalam konteks ini George Orwell menawarkan prinsip "manajemen pengendalian diri". Yakni prinsip dalam mengatur (mengendalikan) masa depan dengan baik dan tersistematis agar tidak terjebak pada kelalaian (kecerobohan) terhadap masa lalu (sejarah). Karena sejarah menyimpan hikmah dan kritik terhadap diri agar mencapai kemajuan. Dengan pengendalian diri bisa bercermin terhadap masa lalu dan menatap masa depan dengan cerah.
Untuk menapak tahun 2008, marilah kita menengok (koreksi) kisah pahit, sedih dan senangnya perjalanan bangsa ini di tahun 2007, agar bangsa ini tidak terbelenggu oleh kelalaian, kealpaan, kelupaan dan melupakan sejarah.
Di tahun 2007, bangsa Indonesia masih terancam bahaya menyempitnya paham kebangsaan sebagaimana diikrarkan melalui "Sumpah Pemoeda 1928". Bila penyempitan itu kian parah, tidak mustahil bangsa Indonesia akan mengalami stroke dalam seluruh sendi kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Sering terjadi tindak anarki dalam berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat menjadi indikasi perekat "bhineka tunggal ika" yang dikombinasikan dengan landasan Pancasila tak lagi kuat seperti dulu. Tentu akarnya adalah masalah politik. Korbannya adalah rakyat jelata! Menjadi tambah runyam saat agama dipolitisasi. Akibatnya, kesetaraan dan kesederajatan menghayati hak-hak asasi paling fundamental di ruang publik tak lagi mendapat tempat.
Sementara, krisis multidimensi di berbagai bidang kehidupan tak kunjung teratasi, moralitas carut-marut, tak sedikit orang di Republik ini yang tidak memiliki kepekaan dan bela rasa (compassion) terhadap sesamanya.
Kenyataannya, kasus Alas Tlogo yang memakan korban 4 nyawa dengan sia-sia pada akhir Mei 2007, korban Lapindo yang tak kunjung ada penyelesaian dalam masalah subsidi dan tempat tinggal, bencana banjir dan kekeringan yang selalu datang.
Sementara, ulah elite politik yang selalu mementingkan perut dan kelompoknya sendiri tanpa mau ber-compassion dengan rakyat yang semakin hari semakin terindas. Sungguh paradoks, pusat-pusat perbelanjaan berskala besar berlomba-lomba dibangun di mana-mana. Sementara kita menjumpai rakyat yang menderita busung lapar, lumpuh layu, flu burung dan putus sekolah.
Penyakit bangsa ini yaitu korupsi kian akut akibat perselingkuhan oknum penguasa dan pengusaha dalam praktik KKN. Bahkan cendikiawan, intelektual, dan tokoh panutan masyarakat pun terseret ke dalam lingkaran KKN. Dalam konteks ini, upaya menegakkan hukum guna mengusut pelaku KKN pantas dihargai. Mereka perlu disemangati agar pelaku KKN kelas kakap ditangkap dan diprotes sesuai hukum.
Masih segar diingatan, pembatalan pengadaan 550 laptop untuk anggota dewan yang menghabiskan anggaran Negara Rp 12,1 miliar merupakan suatu kebijakan yang tidak patut dipertahankan. Apalagi sebagian besar penduduk negeri ini hidup di tengah kemiskinan dan bencana yang memprihatinkan.
Langkah bijak menapak tahun baru yakni mengendalikan tahun 2007 untuk kehidupan yang lebih baik di tahun 2008. Pertama, perlunya perangkat pemahaman kembali terhadap tujuan bangsa. Sebuah prinsip untuk kembali pada tujuan luhur Negara Republik Indonesia yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 yang meliputi kebahagiaan dalam negara, kemajuan kesejahteraan umum, kecerdasan kehidupan negara, perdamaian dan keadilan sosial, dan di mana posisi rakyat untuk melakukan perubahan selama ini. Kedua, perlunya langkah-langkah praktis untuk menyelesaikan problem-problem bangsa. Dalam tataran ini, para wakil rakyat, baik eksekutif, yudikatif maupun legislatif harus mencatat kembali program-program yang selama ini tertunda. LSM, tokoh agama, politikus dan masyarakt sipil harus bekerja sama dalam mencari solusi yang terbaik bagi program-program yang tertunda tersebut. Mereka (baca: para elite) harus juga ber-comppasion secara langsung terhadap problem-problem yang dihadapi rakyat. Dengan kata lain tidak mementingkan diri sendiri. Ketiga, perlunya sikap kritis terhadap tahun 2007 (masa lalu, sejarah) untuk tahun 2008. Meminjam bahasa A. Eddy Kristiyanto (2000) "siapa lupa akan yang indah, dia akan menjadi jahat, dan siapa lupa akan yang buruk, ia akan menjadi dungu". Kealpaan menggiring ke pembuangan. Ingatan (baca: sikap kritis) mempercepat datangnya keselamatan. Mempertahankan yang baik dan memperbaiki yang buruk di tahun 2007 adalah sikap kritis.
Akhirnya, sebagai peneguh, patut direnungkan sebuah pepatah Jawa yang berbunyi: "begja-begjaning wong kang lali, isih begja wong kang eling lan waspada". Artinya, seberuntung-beruntungnya orang yang lupa, masih beruntung orang yang ingat dan waspada. Akankah bangsa ini mau mengendalikan 2007 untuk 2008 ? Semoga!!!
*) Alumnus Fakultas Syari'ah IAIN Sunan Ampel Surabaya, kini sebagai Pemerhati Masalah Sosial Politik dan Kontributor Jaringan Islam Kultural (JIK).
Siapa yang mengendalikan masa lalu mengendalikan masa depan, Siapa yang mengendalikan masa kini mengendalikan masa lalu.
(George Orwell, Nineteen Eighty Four)
Di puncak tahun 2007 dan menjelang tahun 2008, ungkapan George Orwell di atas sepatutnya menjadi refleksi bagi bangsa Indonesia. Apakah bangsa Indonesia mampu mengendalikan masa lalu untuk mengendalikan masa depan atau mengendalikan masa kini untuk mengendalikan masa lalu? Dengan kata lain, akankah di tahun yang baru kondisi bangsa ini sama dengan tahun lalu? Atau akankah tahun yang akan datang lebih baik dari pada tahun lalu? Atau apakah tahun yang akan datang lebih buruk daripada tahun yang lalu? Atau membiarkan tahun lalu berlalu tanpa direfleksikan?
Dalam konteks ini George Orwell menawarkan prinsip "manajemen pengendalian diri". Yakni prinsip dalam mengatur (mengendalikan) masa depan dengan baik dan tersistematis agar tidak terjebak pada kelalaian (kecerobohan) terhadap masa lalu (sejarah). Karena sejarah menyimpan hikmah dan kritik terhadap diri agar mencapai kemajuan. Dengan pengendalian diri bisa bercermin terhadap masa lalu dan menatap masa depan dengan cerah.
Untuk menapak tahun 2008, marilah kita menengok (koreksi) kisah pahit, sedih dan senangnya perjalanan bangsa ini di tahun 2007, agar bangsa ini tidak terbelenggu oleh kelalaian, kealpaan, kelupaan dan melupakan sejarah.
Di tahun 2007, bangsa Indonesia masih terancam bahaya menyempitnya paham kebangsaan sebagaimana diikrarkan melalui "Sumpah Pemoeda 1928". Bila penyempitan itu kian parah, tidak mustahil bangsa Indonesia akan mengalami stroke dalam seluruh sendi kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Sering terjadi tindak anarki dalam berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat menjadi indikasi perekat "bhineka tunggal ika" yang dikombinasikan dengan landasan Pancasila tak lagi kuat seperti dulu. Tentu akarnya adalah masalah politik. Korbannya adalah rakyat jelata! Menjadi tambah runyam saat agama dipolitisasi. Akibatnya, kesetaraan dan kesederajatan menghayati hak-hak asasi paling fundamental di ruang publik tak lagi mendapat tempat.
Sementara, krisis multidimensi di berbagai bidang kehidupan tak kunjung teratasi, moralitas carut-marut, tak sedikit orang di Republik ini yang tidak memiliki kepekaan dan bela rasa (compassion) terhadap sesamanya.
Kenyataannya, kasus Alas Tlogo yang memakan korban 4 nyawa dengan sia-sia pada akhir Mei 2007, korban Lapindo yang tak kunjung ada penyelesaian dalam masalah subsidi dan tempat tinggal, bencana banjir dan kekeringan yang selalu datang.
Sementara, ulah elite politik yang selalu mementingkan perut dan kelompoknya sendiri tanpa mau ber-compassion dengan rakyat yang semakin hari semakin terindas. Sungguh paradoks, pusat-pusat perbelanjaan berskala besar berlomba-lomba dibangun di mana-mana. Sementara kita menjumpai rakyat yang menderita busung lapar, lumpuh layu, flu burung dan putus sekolah.
Penyakit bangsa ini yaitu korupsi kian akut akibat perselingkuhan oknum penguasa dan pengusaha dalam praktik KKN. Bahkan cendikiawan, intelektual, dan tokoh panutan masyarakat pun terseret ke dalam lingkaran KKN. Dalam konteks ini, upaya menegakkan hukum guna mengusut pelaku KKN pantas dihargai. Mereka perlu disemangati agar pelaku KKN kelas kakap ditangkap dan diprotes sesuai hukum.
Masih segar diingatan, pembatalan pengadaan 550 laptop untuk anggota dewan yang menghabiskan anggaran Negara Rp 12,1 miliar merupakan suatu kebijakan yang tidak patut dipertahankan. Apalagi sebagian besar penduduk negeri ini hidup di tengah kemiskinan dan bencana yang memprihatinkan.
Langkah bijak menapak tahun baru yakni mengendalikan tahun 2007 untuk kehidupan yang lebih baik di tahun 2008. Pertama, perlunya perangkat pemahaman kembali terhadap tujuan bangsa. Sebuah prinsip untuk kembali pada tujuan luhur Negara Republik Indonesia yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 yang meliputi kebahagiaan dalam negara, kemajuan kesejahteraan umum, kecerdasan kehidupan negara, perdamaian dan keadilan sosial, dan di mana posisi rakyat untuk melakukan perubahan selama ini. Kedua, perlunya langkah-langkah praktis untuk menyelesaikan problem-problem bangsa. Dalam tataran ini, para wakil rakyat, baik eksekutif, yudikatif maupun legislatif harus mencatat kembali program-program yang selama ini tertunda. LSM, tokoh agama, politikus dan masyarakt sipil harus bekerja sama dalam mencari solusi yang terbaik bagi program-program yang tertunda tersebut. Mereka (baca: para elite) harus juga ber-comppasion secara langsung terhadap problem-problem yang dihadapi rakyat. Dengan kata lain tidak mementingkan diri sendiri. Ketiga, perlunya sikap kritis terhadap tahun 2007 (masa lalu, sejarah) untuk tahun 2008. Meminjam bahasa A. Eddy Kristiyanto (2000) "siapa lupa akan yang indah, dia akan menjadi jahat, dan siapa lupa akan yang buruk, ia akan menjadi dungu". Kealpaan menggiring ke pembuangan. Ingatan (baca: sikap kritis) mempercepat datangnya keselamatan. Mempertahankan yang baik dan memperbaiki yang buruk di tahun 2007 adalah sikap kritis.
Akhirnya, sebagai peneguh, patut direnungkan sebuah pepatah Jawa yang berbunyi: "begja-begjaning wong kang lali, isih begja wong kang eling lan waspada". Artinya, seberuntung-beruntungnya orang yang lupa, masih beruntung orang yang ingat dan waspada. Akankah bangsa ini mau mengendalikan 2007 untuk 2008 ? Semoga!!!
*) Alumnus Fakultas Syari'ah IAIN Sunan Ampel Surabaya, kini sebagai Pemerhati Masalah Sosial Politik dan Kontributor Jaringan Islam Kultural (JIK).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar