Tampilkan postingan dengan label KPO/EDISI 139/NOVEMBER 2007. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KPO/EDISI 139/NOVEMBER 2007. Tampilkan semua postingan

Rabu

Seniman Bukan Perajin

I Made Sumadiyasa
Dalam dunia kesenian atau seni rupa, komitmen dan integritas bisa ditengarai dari seberapa jauh seniman “bisa dipercaya” dan “bisa mempercayai” pihak lain. Kritikus seni, Suwarno Wisetrotomo menganggap seniman “bisa dipercaya” atas semua hal (perjanjian) yang sudah disepakati, tak bermain di belakang tengkuk pihak yang memberikan kepercayaan, tak menarik keuntungan pribadi atas usaha pihak lain. Sebaliknya, pihak lain harus “bisa dipercaya” oleh seniman, agar tidak melakukan hal yang sama. “Bisa mempercayai” artinya berada dalam posisi setara yakni saling percaya dan menghindari nafsu-nafsu untuk saling mencederai kepercayaan. Membangun seni rupa Indonesia, harus dimulai dari sikap “saling percaya” antara berbagai pihak. Berikut nukilan media ini dengan salah satu murid seniman besar Nyoman Gunarsa, I Made Sumadiyasa tentang sosok seniman yang sebenarnya.

Bagaimana Anda melihat perkembangan seniman sekarang ini?

Bicara tentang seniman (terutama yang lahir dan sukses di Bali) bahkan di Indonesia sudah tidak dapat terhitung lagi, sangat banyak sekali. Namun seniman yang memiliki kualitas bagus, bisa dihitung dengan jari. Banyak seniman sekarang yang banyak dimanja oleh kecanggihan teknologi sehingga cenderung menjiplak karya dan menjual seenaknya demi pesanan. Hal tersebut malah memperburuk citra seniman.

Lantas yang cocok disebut seniman itu siapa?

Seniman yang benar-benar seniman cenderung memihak pada tema-tema kemanusiaan, mengritisi kehidupan agar selaras dengan lingkungan sosial. Seniman bisa saja disebut aktivis karena mengemban beban berat tersebut. Bahkan karena ide-ide cemerlangnya mampu menggugah peradaban dunia hanya dari karyanya. Namun tidak pada perajin, tatkala melihat uang, mereka lupa akan beban berat tersebut. Sebuah contoh, saya menerima pesanan lukisan dari wisatawan asing berjumlah 300 buah. Sebagai orang biasa, memang kita tidak munafik dengan uang. Toh mereka juga akan membayar harga lukisan itu sewajarnya menurut mereka. Namun sebagai seorang seniman, saya menolak tawaran menggiurkan tersebut. Bukan tidak sanggup, tapi lebih pada tanggung jawab seniman kepada publik. Membuat sebuah karya yang bagus tidak dapat seperti membalik telapak tangan, tapi perlu sebuah perenungan terkait makna-makna kehidupan sehingga pesan-pesan moral yang mendalam akan terefleksi pada karya-karya kita.

Bagaimana dengan institusi formal yang ada di Indonesia. Apakah mereka mendidik dengan cara tersebut?

Kita sangat berharap banyak pada institusi seni yang menggembleng siswanya agar memiliki kemampuan lebih sesuai talentanya. Jangan menganggap sebuah pelarian karena tidak diterima pada perguruan tinggi terkenal dan jurusan yang diminati oleh pasar kerja. Memang masuk institusi seni bukan lantas menjadi seorang seniman sebenarnya. Kampus bukan mencetak siswanya menjadi gudang seniman. Tapi dari seorang yang memiliki bakat dan menyalurkan energi kreatifnya secara benar, berjuang dengan tekun, berinteraksi dengan seniman besar akan lebih mengangkat prestise diri dan membuat pribadi kita lebih dihargai di mata orang lain.

Saat ini apakah sudah terjadi harapan Anda tersebut?

Belum, meski bakat seniman kita boleh diadu dan tidak kalah dengan bangsa lain, namun daya apresiasi masyarakat terhadap seni masih lemah. Di Indonesia, seni (terutama seni rupa) belum mendapat tempat yang layak di hati pecinta seni. Lain di luar negeri, dengan adanya balai lelang, seni karya mereka sudah dihargai milyaran. Seniman kita belum sampai ke taraf itu. Begitu juga dengan dunia peran. Artis yang memiliki karir cemerlang mulai dari lahir dan mampu bertahan sampai beberapa tahun, bisa dihitung dengan jari. Paling banyak, artis tersebut timbul tenggelam karena tidak ada yang mengambil perannya. Seniman sebenarnya tidak bisa dieksploitasi seenaknya demi kepentingan kapitalis tapi perajin bisa memenuhi hasrat kebutuhan masyarakat tersebut. Terserah, mau jadi seniman atau perajin!!!
(Pewawancara: Didik Purwanto)

Biodata:
Nama : I Made Sumadiyasa.
TTL : Langlang Singgah, Tabanan, 8 Februari 1971.
Pendidikan : Institut Seni Indonesia Jogjakarta (1997).
Pengalaman pameran :
Pameran ASEAN Master Works (1998).
Pameran Festival Persahabatan Indonesia-Jepang (1997).
Karya Pilihan The Phillip Morris Group of Companies Indonesian Arts Awards (1997).
Lukisan “The Way To Eternity” tampil dalam sampul majalah Asian Arts News (Maret-April 1996).
Pelukis Indonesia pertama yang tampil di belahan dunia bagian timur dalam pameran International Arts Asia IV di Hongkong (1995).
Alamat : Jl Sukma 1 Br. Tebasaya Kaja Ubud Bali 80571 Telp/Fax (0361) 974069/ 975037

Seniman Idealis Sebuah Pilihan

Sabrot Dodong Malioboro
Pilar-pilar kapitalis yang individual, liberal, materialistik, dan eksploitatif kini merambah dalam kultur dan gaya hidup masyarakat Indonesia. Dunia seni pun tidak luput dari rayuan kapitalistik. Tentu saja hal ini menjadi tantangan berat bagi para seniman yang setia mengusung idealisme. Karena banyak seniman yang terjebak memilih jalan instan atau mengorbankan segalanya hanya untuk mencapai satu tujuan. Yaitu kesenangan materi, tanpa memperhitungkan kualitas berkesenian mereka. Berlimpah materi itulah yang membuat banyak orang awam tergoda meniru gaya keartisan mereka. Sehingga tidak salah jika audisi pencari bakat menjamur dan diperjualbelikan peserta. Tapi yang memprihatinkan dari geliat dunia berkesenian itu adalah para seniman cilik yang dikemas sedemikian rupa sehingga menghilangkan hak-hak mereka sebagai anak. Tuduhan eksploitasi atau mempekerjakan anak tertuju pada para orangtua yang mempunyai anak yang berprofesi artis. Bagaimanakah pandangan seniman dan budayawan senior Surabaya, Sabrot Dodong Malioboro, tentang bermunculannya seniman dadakan tersebut? Berikut wawancaranya;

Saat ini, bermunculan banyak artis muda di dunia hiburan dan seni kita. Mereka sukses, hidup mewah dan bergelimang harta. Jika dilihat dengan seniman zaman dahulu sangat bertolak belakang. Bagaimana pendapat Anda tentang fenomena ini?

Kalau orang hidup itu penuh pilihan, menjadi seniman pun juga pilihan. Karena pada dasarnya, seniman itu ada dua. Yaitu seniman yang berorientasi pasar dan seniman yang serius atau idealis. Kalau seniman pasar, sudah jelas mereka mementingkan pasar, tanpa memperhitungkan eksistensi mereka dalam berkesenian atau proses kreatifitas dan kualitas berkesenian. Yang terpenting bagi mereka adalah membuat karya seni yang laku di pasar sehingga menghasilkan uang banyak. Berbagai cara dilakukan hanya untuk mendapatkan materi. Itu semua juga tidak lepas dari pemikiran kapitalis sebagai akibat globalisasi yang terjadi saat ini.

Bagaimana dengan ajang audisi yang banyak digelar saat ini yang konon bertujuan untuk pencarian bakat-bakat terpendam di kalangan anak muda di bidang seni?

Seniman yang serius atau idealis menurut saya adalah sebuah bakat alam yang ada pada diri seseorang yang memerlukan proses cukup panjang untuk mendapatkan hasilnya. Biasanya, seniman yang seperti ini akan bertahan lama dan eksistensinya di dunia seni cukup diperhitungkan. Ya contoh jelasnya adalah Gesang, Afandi dan tokoh-tokoh seniman lainnya. Tapi berbeda dengan seniman atau artis yang dilahirkan dari ajang-ajang audisi yang banyak diselenggarakan saat ini. Menurut saya, mereka tidak mempunyai bakat alam. Hanya karena dikemas secara bisnis oleh para pemilik modal, sehingga mereka bisa terkenal dan dinyatakan sebagai artis. Lihat saja, suara yang jelek bisa dibuat bagus, akting pas-pasan, karena dipoles di sana-sini akhirnya bisa menjadi pemain sinetron atau pemain film terkenal. Karena bisa terkenal karena si pemilik modal punya jaringan yang kuat. Mulai dari produksi sampai pemasaran. Sehingga tidak salah jika si artis atau seniman ini akan cepat meroket namanya. Tapi jangan lupa, jika si seniman ini ditinggal pemilik modal, dapat dipastikan dia jatuh dan tidak mungkin bisa bertahan lagi. Itulah hasil dari seniman instan. Bukan seniman yang dilahirkan dari proses panjang dalam hidup dan berkesenian.

Apa sesungguhnya beda antara seniman dan artis ?

Ah, itu kan hanya sebutan wartawan saja. Mereka menggambarkan kalau artis adalah pekerja seni yang bergelimang harta dan selalu tampil glamour. Berbeda dengan seniman yang digambarkan lusuh, rambut panjang dan hidupnya serba pas-pasan. Karena yang dipikirkan mereka bukanlah materi, tapi hasil karya yang berkualitas. Mereka tidak akan menjual murah karya mereka. Sehingga ya wajar kalau mereka tidak punya materi. Tapi hasil karya mereka pasti akan dikenang sepanjang masa. Ya lihat saja lagu-lagu tahun 50-an atau 60-an. Meskipun diciptakan puluhan tahun lalu, tapi tetap enak didengarkan sampai sekarang. Tapi kalau lagu yang diciptakan tidak dengan perasaan, ya cuma sekejap saja. Beberapa tahun lagi pasti tidak lagi enak dinikmati. Contohnya lagu-lagu milik Ebit G Ade, tetap enak didengarkan dalam situasi apapun dan kapanpun.

Bagaimanakah menjadi seniman yang baik ?

Sekali lagi menjadi seniman itu adalah pilihan. Apakah dia akan dimakan pasar atau mempertahankan pasar. Semua tentu mempunyai konsekuensi yang berbeda.
(Pewawancara: Wuri Wigunaningsih)

BIODATA:
Nama : Sabrot Dodong Malioboro.
TTL : Surabaya, 14 Agustus 1945.
Aktivitas : Sastra, Ikut mendirikan Dewan Kesenian Surabaya.
Karya : Antologi Puisi 25 Penyair Surabaya (1977), Antologi Puisi 4 Penyair (1984), Antologi Puisi Bengkel Muda Surabaya (1984), Antologi Puisi 2 Geguritan Festival Cak Durasim (2000), Beberapa Puisinya dibicarakan Suripan Sadihutomo (penerbit Hiski 1992).
Organisasi : Dewan Kesenian Surabaya (DKS), Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT), Bengkel Muda Surabaya (BMS).

Senin

Menanti ”Tumbangnya” Pengetahuan

REFLEKSI
OLEH: SULIS STYAWAN*

Sungguh ironis! Pengetahuan yang --secara epitemologis-- seharusnya berfungsi untuk memuliakan manusia serta memberikan manfaat pada nilai-nilai kemanusiaan, kian lama kian terasa ”jauh panggang dari api”.
Betapa tidak, nilai-nilai fungsi epistemologis yang melekat pada pengetahuan telah bergeser jauh sehingga fungsi itu kini malah dianggap layaknya sejarah usang yang sudah tidak fungsional lagi, sudah tidak relevan, dan bahkan ”dialienasikan”. Pasalnya, saat ini, pengetahuan telah berubah menjadi semacam ”qarun-qarun” era baru, yakni berfungsi sebagai ”mesin-mesin pengeruk emas”, dan ”mesin-mesin pengeruk dolar”.
Kita semua tentu sudah amat paham, bahwa seseorang, sekelompok dan atau bahkan bangsa-bangsa yang memiliki pengetahuan akan berusaha untuk mengeruk kekayaan sebesar-besarnya. Dengan keberhasilan mengumpulkan kekayaan secara maksimal, maka dengan sendirinya mereka akan mendapatkan ”legitimasi” untuk menguasai pihak lain.
Hal ini tentunya memang tak bisa dilepaskan dari sejarah masa lalu. Seiring terjadinya progresivitas besar-besaran di bidang pengetahuan manusia --Pasca Perang Dunia II--terjadi fase lanjut dari efek proyek renaissance hemisphere (penyebaran pengaruh dan lingkup zaman pencerahan) dari dunia Barat (dengan revolusi industri) yang sedikit-demi sedikit telah mengubah ”arah” dan ”fungsi” ilmu pengetahuan.
Lebih dari itu, eksploitasi besar-besaran pada sumber daya alam --yang katanya tidak dapat diperbaharui--, berikut proyek komputerisasi di seluruh penjuru dunia, tak pelak mengakibatkan modernitas bukan lagi sekadar proses seputar ”pembentukan negara industrialis-kapitalis modern” seperti kata Weber, Tonnies dan Simmel, melainkan sudah lebih dari itu. Modernitas telah ”bermetamorfosis” menjadi modernisasi yang mengubah fase-fase kehidupan kemanusiaan, modernitas yang berarti rasionalisasi ekonomi dan administrasi progresif serta diferensiasi dunia sosial seperti sudut pandang yang diberikan teori sosiologi Jerman.
Pun, produk ilmu yang bernama ”teknologi”, bahkan telah menciptakan wilayah ”kebenaran baru”. Kebenaran yang seharusnya hanya berlaku pada wilayah denotatif --masalah benar atau salah--, kini telah berubah menjadi kebenaran yang bersifat pragmatis sama sekali, kebenaran yang direduksi hanya pada masalah ”efisien” atau ”tidak efisien”! Sungguh Ironis!
Tidak heran jika sebagian besar arah pembicaraan dan atau usulan yang kita sampaikan pada masa-masa sekarang ini selalu saja ”digiring” pada dua hal, yakni; berguna atau tidak (dengan cara pandang pragmatis), juga efisien atau tidakkah cara kerja semacam ini.Bisa dibayangkan efek yang bakal terjadi dari dua hal yang kini semakin mewabah. Apalagi kalau bukan teknologi yang kian berkembang pesat, dan di sisi lain --secara inheren-- sebagian besar manusia lebih memilih untuk melakukan sesuatu yang praktis!
Dengan adanya teknologi, maka tidak akan ada lagi ”tempat” bagi kebenaran pada wilayah denotatif (prinsip benar/salah), apalagi kebenaran dalam kerangka preskriptif (adil atau tidak). Senyatanya, teknologi telah menjadi ”alat perang” baru. Tidak memiliki teknologi berarti tersingkir dan tidak dapat mengakses segala hal. Seseorang yang tak memiliki teknologi bisa diibaratkan seperti orang yang menderita schizofrenia, teralienasi dari dunia sekelilingnya yang berjalan dengan sangat cepat.
Pada tataran ini, amatlah jelas bahwa ilmu pengajaran (didactics), pada suatu saat barangkali akan mencapai satu kondisi titik nadir minimal --seperti yang pernah terjadi dalam sejarah kemanusiaan-- yang bukan tidak mungkin akan berujung pada tumbangnya ilmu pegetahuan (sekali lagi, dengan syarat jika dan hanya jika kondisi tetap linier seperti saat ini). Ilmu pengajaran hanya akan diberikan, tak lebih dari sekadar pengenalan dan pengoperasian simbol-simbol fungsional mesin-mesin, komputer, serta pusat-pusat data serba elektronik. Sungguh mengenaskan!
Akhirnya marilah kita kembali merefleksikan fungsi ilmu pengetahuan yang saat ini kita miliki. Ingat, bahwa pengetahuan bukannya untuk menindas. Jika berpengetahuan berarti kaya, dan kaya berarti berkuasa, maka harus ada satu tambahan konsep dalam rumusan itu yaitu ”kebenaran”.
Kebenaran yang dimaksud di sini adalah kebenaran yang mencakup fungsinya secara komprehensif. Bukan malah melakukan pergeseran dari ”tujuan” ke ”sarana” seperti yang telah dikhawatirkan oleh Jean-FranÇois Lyotard beberapa dasawarsa yang lalu. Di mana pengetahuan yang semula ada dan atau muncul karena memang sengaja ”diadakan” serta yang bertujuan untuk memuliakan manusia, ”suatu ketika”, hanya akan mengefektifkan sarana untuk menopang kepentingan–kepentingan individualistik yang berorientasi pada pencapaian maksimal kekayaan untuk menghegemonikan kekuasaan. Apakah yang dikhawatirkan oleh Jean-FranÇois Lyotard itu, untuk saat ini, sedikit banyak telah menjadi kenyataan? Masing-masing kita tentu bisa menilainya sendiri.
*) Mahasiswa FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

Brain Drain Dan Krisis Pendidikan Kita

SOROT
Oleh: Nurfa Rosanti*

Akhir-akhir ini brain drain tengah menjadi perbincangan serius banyak kalangan. Brain drain adalah hilangnya sumber daya manusia (SDM) yang potensial dalam suatu negara. Bahkan brain drain kerap dituding-tuding sebagai salah satu penyebab timpangnya perkembangan ekonomi bangsa-bangsa di belahan dunia.
Betapa tidak, berdasarkan kajian sejumlah ahli seperti Carington dan Detragiache yang berjudul How Extensive is the Brain Drain? diestimasikan dari jumlah penduduk 61 negara berkembang yang bermigrasi ke negara-negara OECD, sekitar 54,3% memilih Amerika Serikat sebagai negara tujuan karena terobsesi The American Dream yang terkenal itu. Para imigran itu umumnya berasal dari Amerika Latin, Asia, sub-Sahara Afrika, Afrika Utara dan Timur Tengah. Dari Asia, imigran yang paling banyak berasal dari Filipina (1,1 juta orang), India (1,03 juta orang), Cina (817.000), Korea (653.000), Vietnam (506.000) dan Pakistan (222.000).
Parahnya lagi, lebih dari 50 persen dari para imigran itu adalah lulusan perguruan tinggi. Bahkan imigran bergelar sarjana asal India misalnya, telah mencapai 75 persen. Rata-rata imigran tersebut menempati posisi penting di perusahaan besar di Amerika. Mulai dari dokter, manager, teknisi dan ahli komputer di Mocrosoft, Mckinsey&company, Citigroup dan berbagai firma teknologi informasi di kota metropolitan Amerika.
Tak heran jika UNDP memperkirakan, India kehilangan sekitar dua miliar dollar AS per tahun akibat migrasi teknisi dan ahli komputer yang diperkirakan mencapai 2,2 juta orang sampai akhir tahun 2008. Bagaimana dengan Indonesia? Beruntung, Indonesia termasuk yang paling rendah, yakni kurang dari 5 persen dari golongan terdidik yang bermigrasi ke negara lain.
Nah, dengan kondisi semacam itu mestinya Indonesia memiliki peluang besar untuk bersaing dengan negara-negara besar. Sebab kecintaan kaum terdidik untuk tetap bertahan di negerinya sendiri bisa menjadi potensi kemajuan Nusantara.
Tapi yang terjadi justru berbalik 180 derajat. Indonesia masih merupakan negara miskin dan negeri penghutang hingga saat ini. Memang ribuan sarjana telah dilahirkan dari ratusan universitas terkemuka, tetapi kita masih saja mengeluarkan uang miliaran rupiah untuk membayar ratusan expatriate yang bekerja di Nusantara ini.
Ada dua penyebab mengapa kita masih saja terpuruk? Pertama, negeri ini anti terhadap kritik. Pada masa Orde Baru, kritik yang sejatinya mampu menjadi daya dorong agar terus melakukan perubahan, perbaikan justru dianggap sebagai ancaman. Banyak orang-orang cerdas terpaksa masuk bui atau dibuang keluar negeri hanya karena kritis terhadap pemerintah. Tak hanya itu. Hak-haknya sebagai warga negara juga dimatikan. Pramoedya Ananta Toer, Sobron Aidit, Winarno Surachmad adalah contohnya. Padahal tokoh bangsa seperti mereka yang sebenarnya dibutuhkan untuk menjawab krisis di negeri ini.
Kedua, kualitas pendidikan kita yang masih rendah. Bahkan kalau boleh sedikit ekstrim pendidikan kita tengah mengalami krisis. Benar bahwa beberapa anak Indonesia berhasil mengukir prestasi di olimpiade eksakta tingkat dunia. Tapi itu bukan jadi ukuran bahwa pendidikan kita tak kalah bermutu dengan pendidikan di negara lain. Pahlawan muda Indonesia itu sebenarnya merupakan anak-anak genius, yang sangat pandai. Cukup dengan dipoles sedikit saja, mereka mampu menjadi sangat brilian. Faktanya, mutu pendidikan kita masih amat rendah, termasuk rangking bawah dibandingkan pendidikan di beberapa negara di Asia Tenggara (Suparno dalam Drost, 2005).
Menurut Andreas Harefa ketersesatan pendidikan dari tingkat SD hingga Universitas, dan kemudian berlanjut ke dunia kerja, berakar pada ketidakmampuan berpikir secara lateral, kreatif, dan ”liar” dalam arti tidak terpolakan. Sekolah-sekolah kita hanya memproduksi ”beo-beo” yang dicetak secara khusus sebagai sekrup produksi. Para doktor pertanian misalnya, tidak pernah mampu membuat ”Jambu Indonesia” atau ”Durian Indonesia”, tetapi hanya membuat segala hasil pertanian menjadi serba bangkok. (Menjadi Manusia Pembelajar, 2000)
Sebagai sebuah sekrup produksi yang dipentingkan bukan lagi kualitas pendidikan, melainkan sekedar kuantitas. Jangan heran jika kini gelar akademik dijajakan secara bebas mirip pedagang kaki lima menjual vcd bajakan seharga Rp 5.000 per keping. Bahkan --kalau mau jujur-- hampir semua skripsi dan tesis sarjana kita adalah hasil plagiat. Jangan terkejut jika lulusan sarjana kita bukannya mencipta lapangan kerja, justru antre dalam deretan pengangguran dan pencari kerja.
Karena itu membenahi pendidikan adalah solusi untuk mendongkrak kemajuan negeri ini. Pendidikan yang bersifat elitis harus digantikan pendidikan yang bersifat massal. Dinikmati semua golongan, dengan metode yang mampu melesatkan daya kritis analitik serta mencerahkan. Melibatkan tokoh bangsa, dan pemikir-pemikir pendidikan alternatif juga merupakan keharusan. Sebab terbukti pendidikan yang diterapkan selama ini telah gagal mencipta generasi handal. Tanpa itu semua --meminjam istilah Bung Karno-- kita akan terus menjadi bangsa babu.
*) Pengajar di SMP Darussyahid Sampang, Madura.

Menjaga ‘Elan’ Sumpah Pemuda

WACANA
Oleh: SUDJATMAKA*

Momen Sumpah Pemuda --hasil Kongres Pemuda II di Jakarta, 27-28 Oktober 1928-- adalah sebuah manifestasi yang gemilang dari hasrat kuat kalangan muda Indonesia (yang terdiri dari berbagai suku dan agama) untuk menggalang persatuan bangsa dalam perjuangan melawan kolonialisme Belanda. Ya, sebuah sumpah yang lahir dari mainstream (pengarusutamaan) bersama terkait kondisi bangsa Indonesia yang pada masa itu sedang melakoni episode getir berupa penindasan demi penindasan yang dilakukan kaum kolonialis.
Sumpah Pemuda memiliki keagungan tersendiri adalah adanya kenyataan bahwa ia merupakan produk bersama yang diciptakan oleh sekelompok anak muda dari berbagai suku, agama, dan aliran politik. Bahkan di antara mereka banyak terdapat orang-orang yang telah mengorbankan diri bagi kepentingan bangsa dengan berbagai cara dan bentuk. Indikator inilah yang mengafirmasikan betapa benarnya dan betapa indah-agungnya semboyan dalam lambang negara kita, Bhinneka Tunggal Ika. Meski berbeda-beda, namun kita satu: Indonesia.
Lebih dari itu, tinta emas sejarah bangsa ini juga telah mencatat seberapa besar peran golongan muda dan mahasiswa dalam upaya memperjuangkan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa. Betapa tidak. Dalam setiap tahap ‘revolusi’ nasionalisme yang terjadi di negeri ini, pemuda dan mahasiswa tak pernah absen menyumbangkan peran, bahkan selalu menjadi garda terdepan dari setiap perubahan sosial-politik. Harus diakui, perjuangan dan pengorbanan mereka amatlah signifikan, mengingat pemuda hampir selalu menjadi ‘martir’ (fulkrum) sejarah.
Namun, dalam konteks kekinian, terutama pascareformasi 1998, apakah percikan api elan (semangat) revolusioner Sumpah Pemuda masih turut menjiwai kepribadian dan gerak langkah kaum muda bangsa saat ini?
Perasaan pesimis terkait eksistensi elan Sumpah Pemuda masih dan bakal mampu menopang semangat juang kaum muda dewasa ini seakan kian menyeruak tatkala belakangan ini sering kita saksikan betapa sosok kaum muda masa sekarang ternyata sudah jauh beda dengan sosok pemuda zaman dulu. Budaya hedonistik, glamour, hyppies, hura-hura, cekcok lantaran hal sepele, tawuran dan aksi anarkis, cuek bebek, serta kebiasaan menempuh cara-cara instan yang notabene merupakan dampak gencarnya invasi paham liberalisme, ternyata kian hari kian digandrungi kaum muda kita.
Bahkan, dalam hal jiwa kepemimpinan, harus diakui bahwa generasi muda kita saat ini sudah banyak yang kehilangan figur. Fakta ini tentu menjadi sebuah ironi jika kita komparasikan dengan realitas sosok pemuda pada zaman perjuangan dulu, di mana setiap diri anak muda pada saat itu pasti telah memiliki figur pemimpin yang jelas. Bahkan, masing-masing dari mereka juga berpotensi dan selalu siap untuk ditunjuk menjadi seorang pemimpin ketika keadaan memang mendesak. Bagaimana dengan kualitas kepemimpinan generasi muda kita saat ini? Kita semua tentu sudah cukup tahu.
Hal ini bukannya tanpa bukti. Dalam kurun waktu satu dasawarsa terakhir kondisi bangsa ini amat carut-marut dan kelimpungan. Adakah di antara kita yang melihat bahwa sosok kaum muda bangsa ini turut serta memberikan andil dalam menjustifikasi atau setidaknya urun rembug dalam rangka mengurai benang ruwet masalah bangsa akibat terpaan dahsyat krisis multidimensi yang melanda negeri ini tak juga kunjung berhenti?
Kalau mau jujur, pada masa pembangunan bangsa saat ini, peran dan sumbangsih kaum muda bagi kepentingan bangsa dan negara ini senyatanya memang amat minim. Bahkan bisa dibilang ‘tak ada apa-apanya’ jika dibandingkan dengan kontribusi kaum muda pada masa dulu.
Inilah yang kemudian menjadi sebuah keprihatinan bersama. Kita memang sedang dihadapkan pada sebuah dilema. Kita semua tentu masih amat butuh dan menginginkan elan vital dan percikan api revolusionerisme yang terkandung dalam falsafah dan makna moralis Sumpah Pemuda tetap harus bisa merasuki jiwa dan kepribadian generasi muda bangsa ini hingga waktu yang tak terbatas. Namun oleh kaum muda sendiri, elan maha dahsyat yang diharapkan bisa menjadi pemantik semangat persatuan dan kesatuan bangsa serta pendorong semangat membangun bangsa itu, malah ditolak mentah-mentah dan diacuhkan.
Sejatinya, momentum Hari Sumpah Pemuda dapat dijadikan sebagai salah satu ‘nafas’ guna merapatkan dan mengkonsolidasikan kembali barisan pemuda (dan juga rakyat) pada saat ini, yang memang cenderung telah mengalami krisis legitimasi akibat kian lemahnya radar sensitif kita, seperti sense of crisis dan sense of belonging kita terhadap kompleksitas problematika bangsa ini. Seperti akibat korupsi yang kian menggurita bukan hanya di pemerintahan pusat namun juga di tingkat daerah, gerakan law enforcement yang menuju titik nadir, berbagai kasus illegal logging yang mempercepat datangnya bencana di negeri ini, berikut polah tingkah elit politik haus kekuasaan yang kian memuakkan.
Kini, dalam konteks memaknai peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-79, semuanya memang harus dikembalikan pada pencetus sumpah itu yakni kita, para pemuda. Semuanya terserah penilaian masing-masing kita sebagai pelajar, mahasiswa, dan pemuda. Apakah kita akan tetap menjaga elan api semangat Sumpah Pemuda agar terus membara, atau sebaliknya, membiarkan api dan elan Sumpah Pemuda itu sedikit demi sedikit meredup hingga pada akhirnya benar-benar padam. Sekali lagi, semua terserah kaum muda.
Hanya perlu diingat, bahwa Hegel pernah mendeskripsikan posisi dan peran sejati yang seharusnya dilakonkan oleh kaum muda, yakni: “Tidak sekadar produk kondisi obyektif zamannya semata. Dia (pemuda dan mahasiswa) adalah juga penggagas masa depan. Dia melakukan transendensi sosial-historis. Dia juga menyibak keterkungkungan zamannya dengan cara mengusahakan arus alternatif. Kehadirannya memungkinkan terjadinya dialektika sejarah yang akan menuju kualitas baru bagi zamannya”. Pertanyaannya, mampukah kita (generasi muda) mewujudkan peran dan kewajiban mulia itu?
*) Aktif bergiat di Divisi Sosial, Pusat Pengkajian Kebangsaan, Yogyakarta

NU, Barat Dan Multikulturalisme

SOROT
Oleh: Syarif Hidayat Santoso*

Baru-baru ini, 25 guru dari sejumlah ponpes yang berafiliasi dengan NU kembali akan mengadakan tur kunjungan ke barat dalam acara yang berbentuk program pembelajaran manajemen pendidikan di Leeds University, Inggris. NU memang aktif dalam penggalakan kerjasama kultural dengan barat. Sebelumnya, pada tahun 2002 sebagian tokoh pesantren NU juga terlibat dalam program pelatihan tentang pendidikan, toleransi dan HAM dalam program ITD ( Institute for training and development ). Bagi kalangan santri sendiri terdapat program Islamic Youth Leadership Program, berupa kunjungan persahabatan para santri NU ke Amerika Serikat yang telah dimulai sejak tahun 2004.
Lalu, apa urgensi program ini bagi kalangan pesantren sendiri. Haruskah mereka bersusah-payah menempuh ribuan mil, hanya untuk menambah glossary baru tentang dunia nyata yang lebih sering mengemuka elemen konfrontatifnya daripada simbiosisnya? Apakah mereka harus pula mereferensi objek asing itu dalam sebuah kesadaran baru yang subyektif dalam meninjau ulang kemapanan dunia? Tentunya, kita tidak berharap tercipta satu simbiosis bergaya mutualisme semata-mata dalam program tersebut. Apalagi, jika posisi peradaban santri harus diletakkan secara subordinatif. Lebih strategis dari itu, kita hanya ingin dunia santri di timur dengan Inggris, AS serta negara partisipan lain sebagai medium representatif barat menemukan satu harmoni baru yang concern memandatkan amanah toleransi global dalam bingkai egalitarianisme. Bagi pesantren NU, partisipan mayoritas dalam ajang pertukaran kultur bisa dimanfaatkan sebagai ranah kreatif menyemai kader-kader santri dan NU masa depan, sebagai eksportir komoditi pemikiran-kultur Islam khas Indonesia. Kader-kader hasil pemprograman ini diharapkan mampu menangkal stereotip Islam-phobia di barat.
Kepentingan ini berdasar pertimbangan bahwa NU dan dunia pesantren mutlak membutuhkan regenerasi stabil bagi kepemimpinan NU-pesantren 20 tahun mendatang. Sedangkan pada masa itu, keislaman global benar-benar berada dalam stadium yang sempurna, di mana radius persentuhan multikultur terbatasi zona sedemikian tipisnya. Jika pemahaman kaum pesantren masih berkutat di sekitar siklus domestik, maka dapat dipastikan konsistensi NU secara futuristik akan tereduksi secara masif.
Harus diyakini, basis material dari program-program pelatihan tentang HAM, demokrasi dan pendidikan yang selama ini digalang oleh barat terhadap Islam moderat Indonesia utamanya NU selalu dicurigai bermuatan unsur brain washing serta politik devide et impera antar umat Islam. Labelisasi Islam moderat serta pengucuran dana yang deras dari institusi donor di barat terhadap program-program sejenis dituding sebagai upaya terselubung penggalangan barat terhadap elemen moderat Islam Indonesia untuk menghabisi lawan politiknya yang dituding radikal. Padahal, secara prinsipil program-program tersebut banyak berpeluang menjadi kandidat revolusi berpikir dalam menempatkan pluralitas inklusif dalam batin dan benak santri. Menurut hemat penulis, acara ini mengakselerasikan langsung apa yang disebut gagasan multikulturalisme antara kalangan ponpes dengan “the other world”, sebuah dunia yang gharib (asing), bahkan sebuah objek yang telah melambungkan tendensi keislaman secara masif sejak program penghancuran elemen-elemen terorisme (baca: Islam radikal) diaplikasikan rezim-rezim politik barat.
Selama ini NU dan dunia pesantren telah mengalami dua fase multikulturalisme. Tatap muka pertama melalui khazanah dan wacana kitab kuning yang kaya dengan skisme (ikhtilaf) dalam tradisi keilmuan komparatifisme mazhab. Fase kedua adalah eksisnya liberalisme pemikiran islam di tubuh kaum muda NU. Walaupun secara formal, NU melarang liberalisme dalam akses pemikiran Islam namun tetap harus disadari basis berpikir liberalisme sendiri telah menjadi fondasi primer multikulturalisme bagi relasi NU - dunia internasional. Sementara, program pertukaran kultur merupakan inisiasi multikulturalisme NU yang ketiga.
Multikulturalisme menjadi urgen bagi NU sendiri. Dinamika NU internasional sejak empat tahun terakhir, tentunya membutuhkan kader yang strata kepemimpinannya tidak saja menjangkau lokalitas pesantren tapi juga medan global. Di masa kepemimpinan Hasyim Muzadi, NU telah melebarkan sayap menembus teritorial keprimordialannya. PCI (pengurus cabang istimewa) NU didirikan sebagai wujud ekspansi NU di dunia internasional. Cabang-cabang ini bertebaran sejak dari Malaysia, Jepang, India, Syiria, Arab Saudi, Yaman, Mesir, Maroko, Inggris, Jerman, Kanada juga Amerika Serikat. Hal yang patut dipertanyakan kemudian, apakah dunia pesantren Jatim memiliki standar stock kepemimpinan untuk melayarkan bahtera NU di arus internasional ini.
Modal kultural NU dapat dikedepankan sebagai pengutamaan (mainstreaming) internasionalisasi NU. Secara substantif, NU internasional dapat meredam gejolak persinggungan tak ramah antara masyarakat muslim barat (migran maupun pribumi) dengan nilai-nilai barat. Program pertukaran kultur harus diarahkan menjadi instrumen navigator yang mengisi keluwesan batin santri dengan identifikasi awal nilai-nilai ekstra kulturalnya. Keluwesan yang dapat mensterilkan infiltrasi radikalisme Islam bagi kepemimpinan NU masa depan, juga kampanye Islam moderat yang tembus pandang terhadap kekayaan khazanah kebudayaan barat. Relasi NU-multikulturalisme merupakan saham bagi NU internasional.
Jika edukasi multikulturalisme dapat menyuburkan ekspektasi tentang kelanggengan NU masa depan, maka program pertukaran kultur bukanlah program basa-basi yang “terpenjara” prasangka penjinakan Islam global. Apalagi tudingan tentang konspirasi barat untuk memecah gelombang kebangkitan Islam. Bila pesantren dan NU haqqul yakin untuk memfitrahkan Islam global dalam wajah rahmat, semestinya akseptabilitas dilebarkan terhadap program ini.
*) Pembina Kajian Agama dan Kebudayaan PMII FISIP Universitas Jember.

Negeri Pemilik ”Jam Karet”

SOROT
OLEH: HIMAWAN KRISTIANTO*
Ada sebuah lelucon tentang orang Indonesia yang suka pesan jam tangan mahal dari Swiss. Suatu ketika, bagian uji mutu menemukan jam tangan yang sangat bagus tapi presisi jarum penunjuk waktunya kurang tepat. Si pembuat pun langsung dipanggil. ”Jam ini sangat bagus dan mahal, tapi mengapa kamu ceroboh sehingga jarum penunjuk waktunya kurang tepat?” Dengan enteng si pembuat jam menjawab, ”Tidak apa-apa Pak, jam tangan ini kan pesanan orang Indonesia.” Giliran si penegur kaget. ”Lho, kalau orang Indonesia memangnya kenapa?” Kemudian dijawab, ”Di sana, orang hanya ingin memiliki jam tangan yang bagus, sementara jarum penunjuk waktunya tidak pernah diperhatikan!” jawab si pembuat jam mantap!
Lelucon ini ada tentunya bukan tanpa alasan. Istilah ”jam karet” yang sudah demikian populer dalam masyarakat kita, agaknya memang sudah menjadi bagian dari budaya hidup sehari-hari. Betapa tidak. Lihat saja, hampir tidak ada suatu kegiatan yang dilaksanakan tepat waktu.
Fenomena banyaknya Pegawai Negeri Sipil (PNS) di berbagai lembaga, kantor, dan instansi pemerintahan di berbagai wilayah di Indonesia yang ‘mangkir atau terlambat datang (molor) masuk kantor saat hari pertama masuk kerja tanpa alasan yang jelas pascalibur dan cuti bersama Lebaran tahun ini menjadi bukti paling ‘sahih’ yang menunjukkan betapa budaya jam karet memang berlaku di negeri ini.
Meski secara umum kehadiran PNS di berbagai instansi pemerintah pasca Lebaran pada tahun ini lebih baik dari tahun lalu, namun kenyataan di lapangan saat hari pertama masuk kerja menunjukkan bahwa sebagian besar PNS datang masuk kantor setelah libur Lebaran hanya sekadar untuk ‘setor muka’. Mereka memang datang ke kantor, namun setelah menandatangani daftar hadir dan bersalam-salaman dengan rekan-rekan sekantor, mereka tidak mengerjakan apa-apa bahkan lalu pulang lebih awal. Ironisnya, budaya ini terjadi hampir di seluruh instansi pemerintahan di negeri ini!
Tak dipungkiri, masih banyak PNS yang beranggapan, yang penting sudah masuk dan mengisi presensi maka sudah ‘sah’ dan ‘beres’. Sangat ironis memang. Di era global yang serba cepat saat ini, faktor waktu menjadi sangat penting. Pepatah Cina mengatakan, “Siapa yang datang lebih pagi ke pasar, dialah yang akan lebih dulu memperoleh untung”. Namun kenyataan dalam budaya masyarakat kita berbicara lain. Ketika negara-negara berkembang lainnya sudah bangun dan giat bekerja, kita masih tertidur pulas!
Hal ini tentu amat disayangkan, mengingat status PNS sekarang ini sudah lebih baik daripada sepuluh tahun lalu. Selain gaji mereka telah dinaikkan, tunjangan yang layak, dan fasilitas yang sudah lengkap, bisa dibilang PNS bisa hidup mapan dan cukup sejahtera. Pertanyaannya, mengapa semua itu tidak didukung oleh hasil kerja yang maksimal? Kenapa selalu saja ada PNS yang tak disiplin dalam memanfaatkan waktu?
Jadi, dapat kita pahami bahwa di kalangan masyarakat kita, ‘mangkir’ seakan telah menjadi sebuah ‘tradisi’. Bahkan ketika upaya reformasi birokrasi melalui prinsip kinerja clean and good corporate governance di seluruh instansi pemerintahan di negeri ini sedang digalakkan, kebiasaan ‘bermangkir-ria’ malah menjadi semacam tren yang seakan tidak afdhol jika tidak dilakukan. Sungguh ironis!
Sebenarnya banyak upaya yang telah ditempuh pemerintah untuk membudayakan kedisiplinan di kalangan PNS. Seperti telah diberlakukannya sidak (inspeksi mendadak) oleh masing-masing pemimpin instansi pemerintahan kepada para pegawainya. Namun lagi-lagi ada hal yang unik, di mana saat dilakukan sidak, para pegawai hadir dan setelah sidak usai mereka langsung ‘kabur’.
Selain itu, juga ada aturan hukum bagi para PNS yang mangkir, yakni Peraturan Pemerintah (PP) No 30 Tahun 1980 yang memuat prosedur kedisiplinan PNS. Ironisnya, PP itu dianggap tak lebih dari sekadar ‘macan kertas’ karena tak membuat para PNS ciut nyali atau jera. Pasalnya, sanksi terhadap keterlambatan dan kebiasaan mangkir para PNS hanya tercetak dalam tata tertib, tapi tidak pernah benar-benar dilaksanakan. Hingga akhirnya, PNS selalu saja beranggapan bahwa ancaman tetap saja sebatas ancaman, bolos jalan terus!
Sebenarnya jika aturan hukum dan sanksi yang tercantum dalam PP No 30 Tahun 1980 tersebut benar-benar diterapkan secara tegas dan tanpa pandang bulu, maka bukan tidak mungkin kedisiplinan PNS akan semakin meningkat. Jika dicermati, pemberian sanksi mulai dari teguran keras, pemotongan gaji berkala, penurunan pangkat, serta sanksi pemecatan terhadap PNS yang sering mangkir atau terlambat masuk kerja belum diterapkan secara penuh dan maksimal. Hal ini lebih karena adanya budaya ewuh pakewuh yang telah menjadi ciri khas masyarakat kita.
Pemberian sanksi tegas yang diberlakukan terhadap PNS yang melanggar aturan, sedikit banyak tentu bisa memberikan efek jera bagi para PNS lain yang coba-coba ingin ‘mencicipi’ bagaimana rasanya mangkir kerja. Dengan begitu para PNS tak akan lagi berani atau coba-coba mangkir kerja pada masa-masa yang akan datang serta berusaha untuk lebih disiplin.
Semua tentu sepakat, bahwa kebiasaan mangkir adalah salah satu bagian dari mental jelek masyarakat di negeri berpenduduk 223 juta jiwa ini, dan karenanya harus segera dibenahi. Yang pasti, tak ada satu pun pakar manajemen yang tidak menganggap negatif kebiasaan mangkir.
Mengingat kedisiplinan adalah suatu keniscayaan, sangatlah penting, dan tidak cukup hanya dibuktikan dengan kata-kata, terlebih bagi para abdi negara. Penerapan aturan dan sanksi hukum secara tegas bagi PNS yang mangkir adalah juga menjadi sebuah keniscayan. Untuk apa aturan hukum dibuat jika tidak untuk diberlakukan? Jika tidak, maka jangan pernah berharap (bahkan sekadar bermimpi pun, jangan!) bahwa negara akan memiliki abdi-abdi negara yang punya mental disiplin tinggi!
*)Penulis, Mahasiswa Jurusan Teknik Penerbangan Sekolah Tinggi Teknologi Adisutjipto (STTA) Yogyakarta

Korupsi Dan Elitisme Keberagamaan

Oleh: Nurani Soyomukti*
Korupsi adalah produk dari hubungan sosial yang kontradiktif. Sedangkan agama juga merupakan bagian dari realitas sosial yang ikut mengiringi pembangunan karakter masyarakat, meskipun kondisi sosiallah yang memberi basis bagi perkembangan mental manusia.
Di Barat, sebagaimana dibedah oleh Max Weber, pertumbuhan ekonomi kapitalis dapat berjalan lancar untuk memakmurkan peradaban karena spirit agama berperan begitu kuatnya. Spirit dan kekuatan etis dari aliran/sekte agama protestan membantu melicinkan pertumbuhan ekonomi yang kelak terbukti mampu bertahan dan melakukan ekspansinya ke berbagai belahan dunia bersama modernisasi yang dibawanya.
Pertanyaannya adalah, bisakah semangat keagamaan menjadi faktor pelicin (lubricating factor) bagi perkembangan dan kemakmuran ekonomi Indonesia? Korupsi di negeri ini bukan hanya parah, tetapi telah membudaya dan mendarah daging. Korupsi telah menghambat produktifitas dan modernisasi yang seharusnya berpilar pada diferensiasi peran sosial yang mulus karena masing-masing kelompok bersaing secara sehat, rasional, dan didasarkan pada prestasi kerjanya. Korupsi telah menghambat orang yang punya potensi prduktif dan kreatif tidak dapat berperan karena terhalangi oleh keputusan yang didasarkan pada keputusan korup (baca: irasional).
Jangan Hanya Jadi Simbol
Peran ormas-ormas keagamaan seperti Muhammadiyah dan NU ternyata tidak cukup efektif karena agama seakan hanya dijadikan simbol moral dan konsolidasi elitis, dan bukan tindakan-tindakan partisipatoris dalam menegakkan penyimpangan. Dulu, di tahun 2003, pada saat dua organisasi menyatakan berkoalisi dengan menyatukan tekad bulat untuk memerangi korupsi, wacana pemberantasn korupsi seakan menguat. Sayangnya hanya menjadi wacana di media massa, karena setelah deklarasi kedua organisasi dilakukan, juga tidak ada gerakan kedua organisasi untuk mendampingi aparat hukum menangkapi para koruptor.
Inilah yang saya maksud bahwa agama hanya menjadi simbol dan kosmetika. Agama Islam yang pernah berperan untuk melawan penjajahan bangsa Quraisy sebagai pelanggeng perbudakan, ternyata di negeri ini tidak dapat berbuat apa-apa kecuali pemanis dari langgengnya berbagai kontradiksi yang terjadi. Seandainya deklarasi untuk memberantas korupsi dari dua ormas keagamaan terbesar di Indonesia itu diikuti oleh tindakan konkrit dan serius, saya yakin rakyat Indonesia yang kebanyakan menjadi anggota dua ormas ini akan cukup untuk mendorong penegak hukum mengadili para koruptor, secara tegas dan tidak berbelit-belit.
Akhirnya, akan banyak orang bertanya-tanya akan himbauan moral agama terhadap berbagai permasalahan sosial di Indonesia. Apalagi adanya fakta bahwa Departemen Agama justru menjadi sarang korupsi yang paling besar di pemerintahan kita. Agama terkesan kian ompong dalam menghadapi masalah korupsi.
Korupsi memang bukan hal mudah untuk diberantas karena menyejarah dalam kelahiran bangsa kita. Dulu Tan Malaka pernah menyarankan pada Soekarno untuk memotong satu generasi, mengganti generasi birokrasi peninggalan Belanda dengan para kaum muda yang bersih dari didikan kolonial. Sayangnya usulan itu tak terlaksana.
Simbiosis antara budaya feodal yang berpilar pada budaya irasionalitas, dengan hubungan industrialisasi kapitalis peninggalan penjajahan, menjadi bahaya laten bagi rakyat karena pelayanan publik yang demokratis dan memakmurkan tidak kunjung datang akibat simbiosis antara dua budaya menindas dalam dua fase corak produksi itu. Feodalisme menggunakan irasionalitas agama dan kepercayaan kolot sebagai produk kebangsawanan untuk menundukkan rakyat agar segelintir penguasa dapat hidup menghisap rakyat. Sedangkan modernisasi kapitalisme juga menindas rakyat pekerja dengan hubungan produksinya yang eksploitatif.
Yang dominan sekarang ini, posisi agama di dalam masyarakat feodal adalah untuk melegitimasi kekuasaan atas nama Tuhan, sebagai simbol perekat kesatuan dan solidaritas meskipun diiringi ketimpangan. Ketokohan berdasarkan agama sangat penting untuk merekatkan rakyat dari tercerai-berai meskipun secara ekonomi timpang. Ketika kapitalisme kian menjadi-jadi, ternyata semangat keagamaan di negeri ini juga masih sama. Hal ini terjadi karena feodalisme tidak dihancurkan oleh penjajah, kapitalisme juga tidak tumbuh bersama semangat keagamaan --sebagaimana terjadi di Barat dalam pengertian Weberian-- tetapi dicangkokkan dan dibiarkan tidak dapat berkembang secara produktif. Tujuannya agar Indonesia tetap menjadi negara kapitalis pinggiran yang tergantung pada modal (penjajah asing).
Dengan demikian, korupsi adalah bagian tak terpisahkan dari hubungan imperialistik itu. Modernisasi tidak dapat berkembang pesat karena korupsi, dan ini memang dibiarkan karena kalau modernisasi maju modal asing akan tersaingi. Tak heran jika sejak Orde Baru pemikiran dan praktek keagamaan selalu saja diupayakan agar terjebak pada simbolisasi saja, tidak mampu menurunkan pemikiran kritis dan progresif untuk mendorong peran partisipatoris para aktivis ormas keagamaan. Agama juga gagal menurunkan teologi pembebasan untuk membela rakyat miskin, bukan hanya memerangi korupsi tetapi juga membangun suatu format gerakan menyeluruh untuk mengentaskan kemiskinan yang dialami rakyat.
Dalam hal pemberantasan korupsi, agama yang secara jelas melarang korupsi (penipuan dan penindasan), ternyata hanya menjadi penyeru moral sloganistik. Lagi-lagi yang terjadi hanyalah konsolidasi elit keagamaan untuk menjadikan isu korupsi sebagai daya tawar politik pada penguasa, dan tidak menggerakkan kesadaran massa rakyat agar kampanye anti-korupsi bukan hanya jadi wacana, tetapi juga jadi gerakan.
*) Juara Umum I Lomba Esai Pemuda Menteri Pemuda dan Olahraga 2007, tinggal di Jember.

Kebahagiaan Hakiki Dan Wabah Korupsi

Oleh: Sukirno*
Cukup mengejutkan! Hasil riset mutakhir dari Persatuan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia, bahwa 94% penduduk Indonesia terkena depresi dari tingkat ringan hingga berat. Dampak buruk dari depresi berat ialah ketidakpatuhan pada peraturan, apatis, pasrah tanpa usaha dan pesimistis. Begitulah penjelasan Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Fachmi Idris seusai memperkenalkan para pengurus baru IDI kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Jakarta (20/6-07).
Orang-orang pengidap depresi tentu dalam kondisi tidak bahagia. Mereka otomatis akan mencari kebahagiaan dengan caranya masing-masing. Ketika menikmati buka puasa bersama di Jakarta (25/9-07), Wapres M Jusuf Kalla mengatakan bahwa mudik di hari Lebaran adalah suatu kebahagiaan yang pasti karena berkumpul sanak keluarga dan handai taulan. Beliau lalu mengutip hasil riset di Amerika Serikat yang dimuat majalah Newsweek, bahwa kebahagiaan paling pasti adalah berkumpul dengan keluarga dan teman-teman.
Barangkali masih banyak orang yang belum berhasil mendeteksi letak sumber kebahagiaan yang hakiki. Kedamaian pikiran (peace of mind) mereka mudah terganggu oleh desakan kebutuhan pribadi yang belum tercapai, apalagi jika sedang terpojok masalah “tuntutan” sebuah tradisi yang sulit dihindari. Tetapi aksioma hidup jelas menunjukkan bahwa setiap manusia di bawah kolong langit ini -- entah disadari ataukah tidak disadari-- selalu merindukan kebahagiaan.
Teori piramida Maslow mengatakan bahwa kebutuhan elementer dari setiap manusia yakni sandang, pangan, papan, rasa aman, pekerjaan, harga diri dan kesuksesan. Kita semua memang menghajatkan terpenuhinya kebutuhan itu. Namun bila menyangkut soal kepuasan terkait kebutuhan duniawi, ternyata banyak orang yang menjadi kecewa. Masalahnya, tingkat kepuasan setiap orang relatif berbeda karena jangkauan target kebutuhannya tidak sama. Ketidakpuasan ini sering merusak kebahagiaan seseorang, masih untung bila self-control-nya tak terganggu. Jadi mereka perlu memuaskan akalnya (satisfying intellect) agar bisa bersabar, mampu meraih kebahagiaan, dan tidak terlibat korupsi.
Paradigma Kebahagiaan
Melalui berbagai cobaan hidup, semua orang beriman sedang ditatar jiwanya oleh Tuhan untuk memiliki kesabaran yang permanen. Tentu saja bukan hanya agar bersabar dalam menahan lapar dan haus belaka, tetapi juga bersabar dalam meninggalkan segala keburukan. Bersikap sabar, menurut Nabi Muhammad SAW, merupakan separoh dari integritas keimanan, yang baru akan utuh 100% jika orang bersyukur kepada Tuhan. Meskipun memiliki fasilitas duniawi hanya kesenangan temporer, tetapi jika kita mau mensyukurinya dengan mengikuti kehendak Tuhan serta meninggalkan segala keburukan, pasti akan menimbulkan kebahagiaan.
Sebab itu firman Tuhan menegaskan, jika kita benar-benar bersyukur atas segala pemberian-Nya, yakinlah bahwa Tuhan akan menambahkan nikmat-Nya. Artinya intensitas kebahagiaan kita otomatis akan meningkat. Al Quran menyebutkan, bagi mereka yang bersabar ketika menghadapi cobaan Tuhan, akan disempurnakan pahalanya tanpa batas.
Menurut kajian filsafat The Science of the Soul, kesenangan duniawi tidak identik dengan kebahagiaan, apalagi jika dibandingkan kebahagiaan hakiki. Seperti halnya intellegence quotient (IQ), emotional quotient (EQ), spiritual quotient (SQ) dan status sosial-ekonomi di antara kita bertingkat-tingkat, demikian juga intensitas dan derajat kebahagiaan setiap orang memiliki gradasinya sendiri.
Rezeki yang didapat secara tak wajar, hasil korupsi misalnya, hanya memberikan kesenangan alias kebahagiaan semu yang --cepat atau lambat-- akan menghasilkan penderitaan. Tetapi bagi yang meraihnya secara halal, dapat menikmati kebahagiaan. Ada pun adikebahagiaan bisa dicapai oleh mereka yang beramal saleh, aktif melakukan perbaikan dan mencegah kemungkaran dengan menjunjung tinggi moralitas, kebenaran dan keadilan. Ada lagi ultrakebahagiaan, ini spesial untuk para penghuni surga. Sedangkan Maha Kebahagiaan dikaruniakan kepada para hamba Tuhan yang sudah “face to face” dan beraudiensi dengan-Nya.
Kesenangan duniawi tidak identik dengan kebahagiaan, apalagi jika dibandingkan kebahagiaan hakiki. Memang serupa tetapi tidak sama. Analoginya, lihatlah segelas air mentah dan segelas air matang yang nampak sama-sama bening, bila diminum memang sama-sama menghilangkan haus, namun efek lanjutannya jelas berbeda secara signifikan. Ibadah ritual maupun spiritual merupakan katalisator yang memproses setiap kesenangan pelakunya agar meningkat kualitasnya menjadi kebahagiaan. Kimia kebahagiaan ini ibaratnya seperti kita sedang memasak air melalui proses pendidihan sehingga menjadi layak untuk diminum.
Ada sebuah anekdot Sufi. Pada suatu malam, seseorang – sebutlah Fulan, sedang merasa sedih karena kehilangan sebuah jarum yang terjatuh di dalam rumahnya. Kemudian gurunya yang Sufi bertanya kepada Fulan, di manakah gerangan jarum itu terjatuh? Fulan menjawab secara jujur bahwa jarumnya terjatuh di dalam rumah sendiri. Keruan saja Sufi tadi jadi terheran-heran karena melihat si Fulan sedang mencari jarumnya di jalanan dengan alasan di dalam rumah sedang gelap.
Dalam buku The Call of the Great Master, M Charan Singh Ji mengatakan, sosok manusia merupakan sebuah laboratorium spiritual dan bentuk ciptaan Tuhan yang terluhur, sebab hanya melalui proses penyelaman ke dalam diri sendiri yang sejatilah kita bisa menemukan kebahagiaan hakiki dan berjumpa Tuhan. Kebenaran tesis ini dapat dibuktikan oleh setiap orang melalui metodologi spiritual di bawah bimbingan guru Sufi.
Menangkis Godaan Korupsi
Seorang beriman yang ikhlas dalam beribadah ritual maupun spiritual, tidak diragukan lagi mampu meneguhkan komitmennya terhadap kebaikan, kebenaran dan keadilan. Selain itu, ia mampu berpikir jernih (clear thinking) dan menghayati identitas diri sejatinya sebagai jiwa (soul) yang asketik dengan segala implikasinya. Jika setiap jiwa manusia selalu merindukan ketenangan, kepuasan dan kebahagiaan hakiki, mengapa banyak orang yang mengaku beriman namun malas untuk berbuat kebajikan bahkan sampai terlibat korupsi?
Stabilitas ketenangan, kepuasan dan kebahagiaan hakiki yang bisa kita nikmati melalui ibadah ritual maupun spiritual mengandung daya ilahi yang besar untuk menangkis godaan korupsi. Selain itu juga berpotensi tinggi untuk mengembangkan sumber daya manusia (SDM) yang sesuai dengan fitrah manusia dan kehendak Allah Tuhan Yang Maha Esa, meraih kesuksesan dan kesejahteraan hidup.
Keikhlasan dalam beribadah ritual maupun spiritual akan menumbuhkan jiwa asketik dan menenangkan pikiran jika dilakukan secara teratur. Sebaliknya, ketidaktenangan pikiran yang tak terkendali akan sedemikian banyak mereduksi kekuatan jiwa sehingga tak sedikit orang yang mudah berpikir negatif, bertindak destruktif, tidak waspada, dan terlibat korupsi.
Sebagian orang mencari ketenangan dan kebahagiaan dalam berbagai jabatan kewenangan dan kekuasaan. Bila sedang berada di puncak, para pemimpin politik mendapat sanjungan dan penghormatan. Pujian untuk mereka disiarkan lewat surat kabar maupun televisi, dan mereka merasa di awang-awang. Tetapi kita sudah tahu apa yang akan terjadi bila mereka terlibat korupsi, terbongkar, kehilangan kekuasaan dan jatuh. Mereka kemudian mendapat cercaan dan hinaan banyak orang, terutama dari lawan-lawan politiknya. Sehingga, tempat yang tadinya dianggap sebagai sumber kebahagiaan, berubah menjadi neraka dan kehancuran.
Orang yang bermoral tinggi tidak pernah mengabaikan hak orang lain, tetapi mereka yang bermoral rendah hanya memikirkan kepentingan dan kesenangannya sendiri. Lemahnya ekonomi kerakyatan dan membengkaknya angka kemiskinan di negara kita juga sebagai akibat ulah para koruptor dan politikus yang kebanyakan terbelenggu nafsu kepentingan pribadi (vested interest).
Para koruptor --jika tidak bertobat-- tidak akan pernah menemukan kebahagiaan hakiki. Perjuangan hidup untuk meraih kebahagiaan hakiki sebenarnya bukan mission impossible, bahkan tidak membutuhkan biaya sama sekali atau fasilitas apapun. Tetapi keberhasilannya hanya dapat dicapai oleh orang-orang yang berjiwa asketik, yakni mereka yang telah menguasai seluruh nafsu dan pikirannya sendiri secara optimal.
*)Konsultan Manajemen SDM ESA Unggul, Ketua Forum Studi dan Diskusi Lintas Agama (Forsdila), Depok.

Pemanasan Global & ANV

TEROPONG
OLEH: Rm Maxi Florens UN Bria Pr*

Kekerasan Cerminan Jiwa yang rapuh (Mahatma Gandhi). Apakah kepanasan global yang kini kita alami adalah buah dari kekerasan yang kita ciptakan terhadap ekologi? Siapa yang menabur, dialah yang menuai. Yang menabur baik, menuai kebahagiaan. Yang menabur perbuatan buruk dan salah, menuai keluhan dan ketidaknyamanan. Kedamaian dan kenyamananan terganggu. Itulah secuil gambaran seputar keluhan masyarakat di berbagai belahan dunia terhadap sengatan udara panas yang kian mengglobal.
Beberapa hari ini Komisi Justice and Peace serta Komisi Kerasulan Awam Gereja Katolik Regio Bali, Nusa Tenggara dan Tomor Leste menggelar focus disscusion tentang Gerakan Active Non Violence (ANV) di Denpasar, Bali. Salah satu topik spesifik yang menyita perhatian peserta adalah masalah pemanasan global (global warning). Pemanasan global dilihat sebagai hasil kekerasan ciptaan manusia yang tidak bersahabat dengan lingkungan hidup. Relasi yang tidak seimbang antara manusia dengan alam tersebut seakan melegalkan sikap konsumeristik dan egosentrik yang melahap habis sumber daya alam tanpa upaya pemeliharaan, pelestarian dan kepekaan terhadap kepentingan hidup banyak orang. Sikap ini secara kasat mata telah menghadirkan pemanasan global yang kian tak terbendung.
Pembangunan dan pengembangan diri yang tidak selaras dengan alam hanya akan menghadirkan berbagai konflik dan kekerasan baru. Bumi panas. Hati panas dan kepala pun panas dalam menghadapi berbagai persoalan yang dilecut dari sikap-sikap manusia yang cenderung keras, jauh dari keharmonisan dan keserasian.
Adakah yang salah? Pemanasan global sungguh mengancam hidup. Apa yang sedang terjadi adalah gambaran dari akumulasi kekerasan yang pernah manusia lakukan bagi lingkungan sebelumnya. Dan kekerasan yang paling tidak adil dan sangat mengancam perdamaian adalah kemiskinan kepekaaan dan kemiskinan cinta terhadap lingkungan hidup sebagai sesama ciptaan Tuhan.
Manusia sering mendapatkan apa yang diingini atau apa yang tidak mungkin ditolak. Manusia mengamini fakta, kepanasan global telah melahirkan ancaman bagi perdamaian dunia. Bila kita meyakini serius bahwa pemanasan global yang sedang merangsek di setiap lini kehidupan sama sekali tidak bisa diterima, dan bahwa pemanasan global tidak boleh dibiarkan terus berbias dalam masyarakat beradab, maka seharusnya semua elemen masyarakat berjuang ekstra dan berusaha membangun gerakan bersama demi menciptakan dunia yang bebas dari sikap kekerasan terhadap alam ciptaan; Manusia dan Lingkungan Hidup. Karena sama-sama ciptaan Tuhan, maka Gerakan ANV (Gerakan Aktif Tanpa kekerasan) atau yang saya sebut sebagai Gerakan Peradaban Tanpa Kekerasan, pantas dikedepankan sebagai antisipasi dini menyiasati dan menyikapi pemanasan global.
Peradaban Tanpa Kekerasan dimaknai sebagai salah satu strategi baru untuk melawan kekerasan atau kejahatan, tanpa meggunakan kekerasan. Di sini, peradaban tanpa kekerasan dipahami sebagai sebuah habitus (kebiasaan) baru dalam semua aktivitas manusiawi, yang disuport spirit budaya kasih.
Saya teringat dengan ucapan Abraham Linchol: Dalam semua aktivitas, kita tidak dapat menolong orang miskin dengan menghancurkan orang kaya. Tidak dapat mengangkat penerima upah dengan menekan pembayar upah. Tidak dapat terhindar dari masalah dengan menghasilkan penghasilan lebih besar. Tidak dapat memajukan rasa persaudaraan dengan mendorong kebencian antar ras. Tidak dapat menciptakan keamanan di atas uang pinjaman. Tidak dapat membangun karakter dan semangat dengan merampas inisiatif dan kemerdekaan. Dan kita tidak bisa mengembalikan sejuknya alam semsta dengan semakin merusak dan melakukan kekerasan terhadap lingkungan hidup di mana kita berada.
Mengaca pada pernyataan Lincoln di atas, maka penting diketahui dan sejatinya dihayati dalam setiap way of life setiap diri tentang prinsip dan kekuatan theologis peradaban tanpa kekerasan (Active Non Violence): Pertama, Manusia citra Allah dipercayakan untuk menata lingkungan hidup secara arif dan bertanggung jawab, tanpa pemusnahan, penghancuran dan pengrusakan yang merusak keserasian relasi sesuai alam semesta. Segala sikap over kelolah dan keliru hanya mendatangkan akibat terpuruk bagi sesama manusia itu sendiri.
Kedua, setiap manusia yang mewarisi kebaikan Allah: cinta, kasih, perdamaian, keadilan, kebenaran, persaudaraan dan kesederajatan, seharusnya juga bersikap adil dan penuh kasih dalam menata dan menggunakan alam ciptaan secara baik dan seimbang. Ketiga, kehidupan masyarakat damai pada mulanya. Lingkungan yang rusak dapat pula mengganggu interaksi antar manusia dalam kehidupan bermasyarakat lintas negara, daerah dan bahkan lintas kampung atau suku. Pada titik ini, kita semestinya sadar bahwa interaksi manusia yang tidak harmonis dapat bermuara untuk melahirkan realitas konflik dan kekerasan antara sesama manusia. Penataan dan pengolahan alam semesta yang baik dan benar dapat mendukung terciptanya perdamaian sebagai cita-cita global yang universal.
Keempat, kodrat manusia menolak penderitaan. Pemanasan global melahirkan penderitaan dan kecemasan. Di sini, manusia yang peduli perlu bersatu dalam sebuah gerakan sosial untuk memelihara, mencintai dan melestarikan bumi serta lingkungan hidupnya sebagai bagian integral untuk menciptakan perdamaian di atas kolong langit ini.
If you wont peace work for justice? Jika anda menginginkan perdamaian, bekerjalah untuk keadilan. Pemanasan bumi adalah buah dari ketidakadilan bersikap terhadap terhadap bumi dan lingkungan hidup. Relasi yang timpang dalam menata lingkungan tanpa memandang sebagai sahabat dan sesama Ciptaan, telah menggelorakan semangat konsumeristik, merasuk dan melahap habis semua lingkungan hidup dan kekayaan yang dikandungnya. Hutan rimba telah menjadi bukit gundul kini. Sumber air bersih telah terkontaminasi. Polusi udara mengitari kita. Ternyata kita tidak senyaman dulu lagi.
Kekerasan yang pernah kita tabur terhadap alam, kini kita tuai ketidaknyamanan. Masihkah ada nurani dunia bagi pemanasan global? Tentu ada. Karena itu gerakan aktif tanpa kekerasan atau yang peradaban tanpa kekerasan Indonesia mengajak semua pihak untuk mengolah bumi secara bertanggung jawab tanpa kekerasan. Mengolah dengan arif dan bebas dari pengrusakan serta pemusnahan global. Pada simpul ini, sebaiknya semua kita mencamkan pernyataan Uskup Romero: “Mungkin kita tidak akan pernah melihat hasil akhir, tetapi inilah perbedaan antara Tuan Pembangunan dan Pekerja. Kita adalah pekerja, dan bukan Tuan Pembangunan, Pelayan bukan Mesias. Kita ini nabi-nabi masa depan yang bukan milik kita.
*) Koordinator Komisi Justice and Peace Regio Nusa Tenggara & Koordinator International Community Damian the Lovers of Molokai Asia Pasific, tinggal di Kupang, NTT.

Selasa

Bangun Perpustakaan Berkarakteristik Daerah

PENGANTAR REDAKSI:
Minat baca yang rendah di kalangan kaum muda menjadi salah satu alasan kenapa negeri ini kekurangan SDM dalam meretas inovasi. Karena itu kehadiran UU Perpustakaan 2007 diharapkan menjadi gerbang evolusi menuju generasi cerdas. Perpustakaan adalah jantung peradaban. Wajar bila pemerintah pun merangkul swasta dan komponen lain agar perpustakaan negeri dan swasta kian bermutu.
OLEH: WURI WIGUNANINGSIH
Ilmu adalah bekal hidup yang tak pernah punah. Karena itu ada pepatah kejarlah ilmu setinggi langit. Di manakah ilmu itu berada? Di bentangan langit biru? Tidak! Ilmu itu bisa dijumpai tersimpan di perpustakaan. Karena itulah perpustakaan adalah jantung sebuah universitas, urat nadi sebuah lembaga pendidikan. Siapa yang menguasai informasi, dialah yang menguasai dunia. Dan, perpustakaan adalah jendela dunia.
Wajar bila publik menyambut gembira pengesahan UU Perpustakaan 2007 oleh DPR pada Selasa (2/10) Oktober lalu. UU Perpustakaan tersebut telah digodok selama dua tahun yang terdiri dari XV Bab dan 54 Pasal antara lain mengatur hak, kewajiban dan kewenangan dalam Bab II. Kehadiran UU ini diharapkan berdampak kepada membaiknya pembinaan perpustakaan di Tanah Air karena mengatur tentang fungsi, tujuan, tugas, dan peran perpustakaan dalam membudayakan kebiasaan membaca.
UU ini juga mengatur program pembudayaan kegemaran membaca difasilitasi oleh pemerintah dan pemerintah daerah, khususnya melalui penyediaan buku murah berkualitas dengan mengembangkan perpustakaan sebagai proses pembelajaran. Pembudayaan kegemaran membaca pada masyarakat dilakukan dengan penyediaan sarana perpustakaan di tempat umum yang mudah dijangkau, murah, dan bermutu.
Terdapat pula pasal yang memerintahkan pembentukan Dewan Perpustakaan Nasional dan Dewan Perpustakaan Provinsi. Selain itu, dicantumkan tanggung jawab pengembangan perpustakaan di tingkat nasional dan daerah. Pemerintah mengalokasikan anggaran perpustakaan ke dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menanggapi UU Perpustakaan tersebut, Kepala Kantor Perpustakaan Umum Kota Surabaya Drs H Zaenal Abidin MM melihat sebagai momen strategis mengedepankan keunikan daerah. Perpustakaan dibangun sesuai dengan karakteristik daerah yang sejalan pula dengan implementasi otonomi daerah. “Perpustakaan harus mempunyai ciri khas di bidang perpustakaan, dokumentasi dan informasi, visi dan misi akan larut ke dunia yang lebih global. Untuk ke depannya, masing-masing perpustakaan di daerah mengutamakan karakteristik daerahnya. Misalnya perpustakaan di daerah industrialisasi. Hendaknya tentu saja harus mendukung industrialisasi. Demikian juga dengan pertanian, nelayan atau kerajinan kecil,’’ kata Zaenal Abidin.
Khusus untuk perpustakaan umum kota Surabaya ini, mempunyai tanggungjawab moral kepada seluruh perpustakaan yang ada di Surabaya. Sedangkan tugas dan kewenangan Kantor Perpustakaan Umum Kota Surabaya antara lain melaksanakan pembinaan, pengembangan dan pendayagunaan semua jenis perpustakaan. Kemudian melakukan kerjasama dalam penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan, serta pembinaan sumber daya manusia di bidang perpustakaan dengan instansi terkait.
Pembinaan tidak terkecuali juga diberikan pada perpustakaan di lingkup pendidikan. Seperti perpustakaan di Unair. Menurut Kepala Perpustakaan Unair, Drs. Pudjiono, S.Sos., M.Si, sharing antar perpustakaan di antara universitas sangat diperlukan. Hal ini supaya tidak ada gap atas informasi dan perpustakaan harus melakukan perubahan secara bersama-sama.
Untuk ke depan, pustakawan tidak hanya bertugas sebagai penjaga buku saja. Namun dengan sigap melayani pengguna sebagai mitra. “Dalam pelayanan, sediakan one stop service. Sebagai contoh, kita pernah kasih tenggang 2 x 24 jam pada dosen yang minta dicarikan topik tertentu. Hasilnya, kita sudah bisa serahkan lebih dari 50 judul kepadanya, dan langsung dikirim vie email,’’ katanya.

Malas Baca Gerbang Kemiskinan

Oleh: Wayan Nita
Kehadiran perpustakaan sangat membantu masyarakat khususnya pelajar dalam menyelesaikan tugas belajarnya. Kemudahan syarat peminjaman dan kenyamanan fasilitas perpustakaan menjadi modal utama menarik pembaca. Meskipun begitu, tidak banyak masyarakat yang memanfaatkan perpustakaan. Membaca merupakan pekerjaan yang dianggap sebagian orang membuang waktu dan tenaga. Sehingga banyak orang yang tidak menghargai budaya membaca. Seorang anak yang orangtuanya tidak gemar membaca akan ikut tidak suka membaca.
Tidak suka membaca identik dengan kemiskinan. Karena orang yang tidak suka membaca akan menjadi bodoh dan orang yang bodoh tentu tidak bisa mensejahterakan hidupnya. Untuk memerangi kemiskinan perlu digalakkan budaya cinta buku. Untuk itu pemerintah mulai memperhatikan keberadaan perpustakaan yang diharapkan menjadi jembatan masyarakat untuk menuju kesuksesan.
Dengan dikeluarkannya UU Perpustakaan 2007 diharapkan membantu keberadaan segala jenis perpustakaan. Perpustakaan formal, swasta, daerah maupun sekolah-sekolah dapat diakses masyarakat di seluruh kota. Pengaturan manajemen, masalah pendanaan, tugas, wewenang, status dan kedudukan perpustakaan diharapkan dapat membantu perpustakaan dalam memberikan informasi pada masyarakat.
Menurut Albiner Silaen, Kepala UPT Perpustakaan Daerah Denpasar, keberadaan perpustakaan di Denpasar sangat dibutuhkan oleh masyarakat khususnya para pelajar. Hal itu terbukti dengan banyaknya masyarakat yang datang ke perpustakaan baik untuk meminjam buku atau hanya membaca di tempat. Dalam satu hari perpustakaan bisa didatangi ± 150 pengunjung dengan variasi buku yang dipinjam dari perpustakaan ± 500 macam buku. Buku yang tersedia bernacam-macam, dari buku ilmu pengetahuan dari semua golongan pendidikan, koran dan majalah sampai buku tentang tata cara membuat banten juga ada. Selain tersedia berbagai macam buku, perpustakaan daerah ini juga menyediakan tempat baca khusus untuk anak maupun dewasa. Tidak luput juga ada fasilitas perpustakaan keliling yang disediakan pemerintah untuk semua kalangan yang dilewati mobil perpustakaan keliling ini.
Ditinjau dari keberadaan perpustakaan daerah ini, tentu masyarakat sangat terbantu dalam mendapatkan informasi. Baik informasi pendidikan maupun berita dunia dapat diakses dari perpustakaan ini. Semua masyarakat boleh membaca di perpustakaan ini, tidak terkecuali dengan syarat mempunyai kartu perpuatakaan. Diharapkan masyarakat juga mampu membantu tetap berlangsungnya keberadaan perpustakaan ini. Semakin banyak pembaca buku di perpustakaan akan mendorong perpustakan menjadi lebih baik. Karena pembaca yang sering mencari buku terbitan baru yang tidak ada di perpustakaan akan meminta pada petugas perpustakaan untuk mencarikan. Secara tidak langsung petugas perpustakaan akan mendapatkan buku baru sesuai permintaan. Baik bekerjasama dengan pemerintah pusat, penulis/distributor maupun mencari dari internet.
”Perombakan sistem maupun manajemen perpustakaan tentu akan berubah sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan dalam UU Perpustakaan. Hanya saja semua perlu proses, tidak serta merta berubah. Tapi tidak semuanya berubah, hanya yang belum sesuai saja,” ungkap Albiner Silaen.

Perpustakaan Jantung Pendidikan Murah

Oleh: Roro Sawita
Pepatah mengatakan buku adalah jendela informasi. Lembar demi lembarnya menyimpan kandungan pengetahuan yang mampu menembus lintas generasi. Sayang, minat baca di kalangan masyarakat Indonesia terbilang kecil padahal budaya baca tulis sudah ada sejak zaman pra sejarah yang ditandai oleh beberapa prasati bertuliskan huruf Sansekerta.
Rendahnya minat baca berhubungan erat dengan rendahnya pendapatan per kapita khususnya di Indonesia. Menurut Tri Wahyuni Cipta Ningsih, salah satu pengelola perpustakaan Reader Bug Café, Jl Serma Made Pil, Denpasar, di tengah masyarakat kita muncul ungkapan yang menyebutkan bisa makan saja sudah untung bagaimana bisa beli buku. Sehingga pengembangan perpustakaan menjadi alternatif yang ditawarkan kepada masyarakat. Namun keberadaan perpustakaan sejauh ini di Indonesia dan di Bali khususnya belum mampu mengakomodir kebutuhan masyarakat akan buku yang bersifat gratis untuk dibaca. Selain itu eksistensi perpustakaan kerap diabaikan sebagian masyarakat. Seakan perpustakaan hanya menjadi tempat mangkal anak sekolah.
Pendidikan kita telah lama meninggalkan peran perpustakaan. Pembelajaran sekolah berjalan tanpa dukungan perpustakaan yang memadai. Padahal perpustakaan selama ini dianggap jantung pendidikan murah bagi rakyat Indonesia. Karena itu menurut Tri Wahyuni Cipta Ningsih kehadiran UU Perpustakaan yang baru merupakan langkah proaktif pemerintah dalam membantu para pustakawan.
Berdasarkan undang-undang itu seluruh lembaga pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi wajib memiliki perpustakaan dan mengalokasikan dana minimal 5% untuk biaya operasional. Di lain pihak keberadaan UU Perpustakaan belum disosialisasikan secara merata di tingkat daerah. Buktinya, pengelola perpustakaan swasta ada yang mengaku belum tahu adanya UU Perpustakaan 2007. “Jangan-jangan nanti bisa muncul pungutan liar terhadap perpustakaan swasta,” tegas Aulia Safira S.E dari Reader Bug Café Denpasar.
Hal senada dialami Debby Firmana pustakawan Rumah Buku, Renon Denpasar. Selama ini perpustakaannya berjalan tanpa bantuan dari pihak pemerintah. Buku-buku yang diperoleh merupakan sumbangan dari pihak yayasan, hasil penjualan outlet alat-alat tulis, sumbangan dari luar negeri dan beberapa individu yang peduli terhadap perkembangan perpustakaan. Konsistensi yayasan terhadap arena membaca dan bermain bagi anak-anak jalanan maupun anak-anak sekolah usia 4-12 tahun membuat perpustakaan Rumah Buku tetap bertahan hingga kini. Keberadaan undang-undang sejauh ini dianggap tidak terlalu berpengaruh terhadap kinerja perpustakaan yang dikelolanya. “Bahkan saya tidak tahu tentang undang-undang perpustakaan yang berlaku di Indonesia,” ungkap Debby polos.

Brain Drain Dan Krisis Pendidikan Kita

SOROT
Oleh: Nurfa Rosanti*
Akhir-akhir ini brain drain tengah menjadi perbincangan serius banyak kalangan. Brain drain adalah hilangnya sumber daya manusia (SDM) yang potensial dalam suatu negara. Bahkan brain drain kerap dituding-tuding sebagai salah satu penyebab timpangnya perkembangan ekonomi bangsa-bangsa di belahan dunia.
Betapa tidak, berdasarkan kajian sejumlah ahli seperti Carington dan Detragiache yang berjudul How Extensive is the Brain Drain? diestimasikan dari jumlah penduduk 61 negara berkembang yang bermigrasi ke negara-negara OECD, sekitar 54,3% memilih Amerika Serikat sebagai negara tujuan karena terobsesi The American Dream yang terkenal itu. Para imigran itu umumnya berasal dari Amerika Latin, Asia, sub-Sahara Afrika, Afrika Utara dan Timur Tengah. Dari Asia, imigran yang paling banyak berasal dari Filipina (1,1 juta orang), India (1,03 juta orang), Cina (817.000), Korea (653.000), Vietnam (506.000) dan Pakistan (222.000).
Parahnya lagi, lebih dari 50 persen dari para imigran itu adalah lulusan perguruan tinggi. Bahkan imigran bergelar sarjana asal India misalnya, telah mencapai 75 persen. Rata-rata imigran tersebut menempati posisi penting di perusahaan besar di Amerika. Mulai dari dokter, manager, teknisi dan ahli komputer di Mocrosoft, Mckinsey&company, Citigroup dan berbagai firma teknologi informasi di kota metropolitan Amerika.
Tak heran jika UNDP memperkirakan, India kehilangan sekitar dua miliar dollar AS per tahun akibat migrasi teknisi dan ahli komputer yang diperkirakan mencapai 2,2 juta orang sampai akhir tahun 2008. Bagaimana dengan Indonesia? Beruntung, Indonesia termasuk yang paling rendah, yakni kurang dari 5 persen dari golongan terdidik yang bermigrasi ke negara lain.
Nah, dengan kondisi semacam itu mestinya Indonesia memiliki peluang besar untuk bersaing dengan negara-negara besar. Sebab kecintaan kaum terdidik untuk tetap bertahan di negerinya sendiri bisa menjadi potensi kemajuan Nusantara.
Tapi yang terjadi justru berbalik 180 derajat. Indonesia masih merupakan negara miskin dan negeri penghutang hingga saat ini. Memang ribuan sarjana telah dilahirkan dari ratusan universitas terkemuka, tetapi kita masih saja mengeluarkan uang miliaran rupiah untuk membayar ratusan expatriate yang bekerja di Nusantara ini.
Ada dua penyebab mengapa kita masih saja terpuruk? Pertama, negeri ini anti terhadap kritik. Pada masa Orde Baru, kritik yang sejatinya mampu menjadi daya dorong agar terus melakukan perubahan, perbaikan justru dianggap sebagai ancaman. Banyak orang-orang cerdas terpaksa masuk bui atau dibuang keluar negeri hanya karena kritis terhadap pemerintah. Tak hanya itu. Hak-haknya sebagai warga negara juga dimatikan. Pramoedya Ananta Toer, Sobron Aidit, Winarno Surachmad adalah contohnya. Padahal tokoh bangsa seperti mereka yang sebenarnya dibutuhkan untuk menjawab krisis di negeri ini.
Kedua, kualitas pendidikan kita yang masih rendah. Bahkan kalau boleh sedikit ekstrim pendidikan kita tengah mengalami krisis. Benar bahwa beberapa anak Indonesia berhasil mengukir prestasi di olimpiade eksakta tingkat dunia. Tapi itu bukan jadi ukuran bahwa pendidikan kita tak kalah bermutu dengan pendidikan di negara lain. Pahlawan muda Indonesia itu sebenarnya merupakan anak-anak genius, yang sangat pandai. Cukup dengan dipoles sedikit saja, mereka mampu menjadi sangat brilian. Faktanya, mutu pendidikan kita masih amat rendah, termasuk rangking bawah dibandingkan pendidikan di beberapa negara di Asia Tenggara (Suparno dalam Drost, 2005).
Menurut Andreas Harefa ketersesatan pendidikan dari tingkat SD hingga Universitas, dan kemudian berlanjut ke dunia kerja, berakar pada ketidakmampuan berpikir secara lateral, kreatif, dan ”liar” dalam arti tidak terpolakan. Sekolah-sekolah kita hanya memproduksi ”beo-beo” yang dicetak secara khusus sebagai sekrup produksi. Para doktor pertanian misalnya, tidak pernah mampu membuat ”Jambu Indonesia” atau ”Durian Indonesia”, tetapi hanya membuat segala hasil pertanian menjadi serba bangkok. (Menjadi Manusia Pembelajar, 2000)
Sebagai sebuah sekrup produksi yang dipentingkan bukan lagi kualitas pendidikan, melainkan sekedar kuantitas. Jangan heran jika kini gelar akademik dijajakan secara bebas mirip pedagang kaki lima menjual vcd bajakan seharga Rp 5.000 per keping. Bahkan --kalau mau jujur-- hampir semua skripsi dan tesis sarjana kita adalah hasil plagiat. Jangan terkejut jika lulusan sarjana kita bukannya mencipta lapangan kerja, justru antre dalam deretan pengangguran dan pencari kerja.
Karena itu membenahi pendidikan adalah solusi untuk mendongkrak kemajuan negeri ini. Pendidikan yang bersifat elitis harus digantikan pendidikan yang bersifat massal. Dinikmati semua golongan, dengan metode yang mampu melesatkan daya kritis analitik serta mencerahkan. Melibatkan tokoh bangsa, dan pemikir-pemikir pendidikan alternatif juga merupakan keharusan. Sebab terbukti pendidikan yang diterapkan selama ini telah gagal mencipta generasi handal. Tanpa itu semua --meminjam istilah Bung Karno-- kita akan terus menjadi bangsa babu.
*) Pengajar di SMP Darussyahid Sampang, Madura.

Sabtu

Yang Muda Yang Berkarya

Aji mumpung? Kata-kata ini menjadi pertanyaan setiap orang bila melihat artis-artis muda menekuni beberapa berprofesi, dari main sinetron, menyanyi, bintang iklan hingga presenter. Banyak artis muda yang tidak menyangkal disebut aji mumpung. Artis cantik Chelsea Olivia, Raffi Ahmad, Laudya Chintya Bella dan artis lain memang sudah merambah profesi lain meski tetap terjun ke dunia tarik suara.

Ini dibuktikan Chelsea saat bergabung dengan kelompok vokal Bukan Bintang Biasa (BBB), asuhan musisi senior Melly Goeslaw. ”Awalnya nggak tertarik dengan dunia nyanyi. Aku sebenarnya orang yang kurang hobi nyanyi karena nggak pede sama sekali,” katanya.

Chelsea mengakui, dunia sinetron memang lebih pantas bagi dirinya, tapi setelah ditawarkan kesempatan yang terbilang langka oleh musisi sekelas Melly, Chelsea tidak membuang kesempatan emas itu. ”Aku kurang berbakat di nyanyi. Mungkin di sinetron saja bakat aku. Tapi berhubung ada tawaran dari Teh Melly, ya sudah aku coba nggak ada salahnya,” kata Chelsea.

Menurut Chelsea, keterlibatannya di dunia tarik suara bermula dari sinetron Cincin yang diperankannya. Ceritanya, Chelsea berperan sebagai penyanyi terkenal. Dan entah kenapa, karakter penyanyi yang diperankannya itu menarik perhatian Melly hingga menawarinya untuk ikut casting grup vokal bentukan Melly. ”Menurut aku soal aji mumpung itu, semua orang bersikap sama, tergantung kita menyikapi seperti apa. Kalau aku sih, aji mumpung ya asal-asalan saja, nggak perlu total, nggak perlu aku hayati banget,” jelasnya.

Begitu juga dengan artis sinetron Dwi Andhika yang kini menekuni tarik suara. ”Memang salah ya? Aku kira dengan masih punya nama malah akan membantu karier. Biarlah orang mau bilang apa. Asal aku serius dengan bidang baru. Jadi nggak asal-asalan,” katanya.

Bagi Andhika, mengeksplorasi diri bukannya sesuatu yang memalukan untuk mengetahui potensi diri. ”Lagian apa salahnya aku nyanyi. Suaraku nggak jelek-jelek amat kan?," tanya pria yang sedang mencari waktu latihan guna memperbaiki kualitas suara. ”Sekarang banyak artis yang nggak hanya akting, tapi nyanyi juga dan sebagainya," sambung Andhika.

Marshanda malah tidak mau dikatakan aji mumpung dalam tarik suara. Pengidola Christina Aguilera, Britney Spears dan M2M sejak kecil gemar menyanyi di samping latihan olah vokal di Paranadjaja dan kursus balet. Beberapa album sudah ditelurkan, dari musik religi bersama kelompok Sakha, album kompilasi yang salah satu lagunya Kisah Kasih Di Sekolah. ”Kalau masyarakat melihat aji mumpung ya sah-sah saja, tapi bagi saya ini sebagai eksplorasi diri untuk mengembangkan bakat,” katanya.

Apresiasi Kebebasan

Muda berprestasi, tua jadi terkenal. Seolah menjadi alasan kaum remaja untuk berkreasi di segala bidang, terutama bidang musik banyak menyedot minat para anak muda. Basnyak grub band dengan berbagai aliran terbentuk dikalangan remaja. Seakan menunjukkan rasa kebebasan dan jiwa berontak yang tertanam dalam dada. Suara hati untuk hidup bebas dan berontak terhadap lingkungan atau pun pemerinta, mereka tuangkan lewat sepengal lagu yang tercipta dan melalui musik cadas (keras) mengiringgi.

Usia belasan tidak menjadi soal untuk tidak peduli dengan keadaan sekitar. Kesamaan pandangan untuk peduli dengan sesama dan rasa berontak terhadap pemerintah melahirkan grup band Red Flag asal Denpasar yang beranggotakan empat orang cowok yang masih duduk di bangku SMU ini. Alit Ariawan (Vokal), Indra Wirawan (Gitar), Agus Adi Wiranata(Bas), Donny Artha(Drum), mengusung aliran musik punk chaos (Punk Core) yang identik dengan musik yang keras sebagai ciri underground dan suara vokalnya yang nyaring.

Red Flag yang berdiri sejak Februari tahun ini mampu menyedot fans dari kalangannya. Dengan membawakan lagu yang bertemakan kritik sosial terhadap pemerintah dan anti kemapanan yang terinspirasi kehidupan masyarakat dan pemerintah, grup ini sering manggung di Bounty Discotique, Kuta dan telah melahirkan 12 lagu. Ambisi untuk jadi terkenal di kalangannya pun memotivasi grup ini. Namun, keinginan terbesar mereka agar suara kritik mereka terdengar oleh pemerintah.

”Red Flag sendiri merupakan apresiasi dari bentuk keberanian anak muda untuk berontak terhadap pemerintahan yang korup dan kapitalis. Aliran yang dianut Red Flag merupakan aliran punk chaos yang merupakan gabungan antara punk core dengan metal punk. Karena kesamaan ide dan rasa suka dengan musik yang sama maka terbetuk Red Flag. Selain itu, rasa prihatin terhadap nasib bangsa dan rakyat kecil menjadi alasan kami untuk membentuk grup ini,” kata Indra alias Lock.

Seirama dengan Red Flag, grup Nemesis asal Prigen, Pasuruan, Jawa Timur yang dipunggawai Nurhidayat (Vokal), Tony (Bas), Anton (Gitar) dan Eko (drum) mengusung aliran punk metal. Lewat sang vokalis, Nemesis beranggapan jika anak SMU atau remaja pun berhak untuk menyuarakan kritikan terhadap pemerintah. Namun, Nemesis sendiri lebih memuja tema kehidupan cinta secara universal sebagai inspirasi lagu dan musiknya. Obsesi yang mereka harapkan melalui band ini pun tidak terlepas agar musik mereka diterima setiap kalangan, meski hal tersebut harus penuh perjuangan. Karena musik punk core dan punk metal hanya kalangan tertentu saja yang bisa menikmati sebab suara musiknya keras dan melengking serta bagi orang awam suara vokalnya sulit dicerna dan dimengerti.

”Harapan kami paling tidak musik underground lebih bisa diterima untuk semua kalangan. Sebab, apapun alirannya, musik merupakan suara terindah dan berisikan hal yang bermakna pula. Tidak seperti yang dipikirkan orang bahwa musik ini musik setan, karena penampilan kami yang gothic atau serba hitam,” jelas sang vokalis. (Agus Salam & Heni Kurniawati)

Karawitan Rambah Remaja Pasuruan

OLEH: HENI KURNIAWATI

Siapa bilang anak muda zaman modern tidak peduli dan lupa dengan budaya asli, apalagi musik tradisional Karawitan. Musik karawitan merupakan seni musik yang memakai alat musik tradisional seperti gending, kendang, gong dan seruling yang telah dimiliki bangsa Indonesia sejak zaman kerajaan. Biasanya musik ini dipakai untuk meramaikan upacara kerajaan.

Seiring dengan bergulirnya sang waktu, musik ini masih hidup dan sering dijumpai saat mengiringi acara seremonial wisuda, pesta perkawinan, pertunjukan wayang, tari dan sinden. Musik yang identik dengan kaum tua, kini tidak lagi didominasi dan disenangi orang dewasa, tapi juga digandrungi para remaja di desa Jati Roso, Prigen, Pasuruan, Jatim.

Menurut H Roekiyadi Mas Nor, pengurus sanggar Seni Kerawitan Kusuma Dwijaya Wirama dan Sekar Candra Birawa di Taman Candanra Wilwatikta, Prigen, Pasuruan, eksistensi musik tradisional terletak pada generasi muda untuk melestarikannya. Lewat tangan-tangan kaum muda, musik tradisional tidak akan tergerus zaman. Semua itu tidak terlepas dari bimbingan para orang tua dalam mengenalkan musik tradisional karawitan. Untuk sosialisasi musik tradisional kepada anak muda dibutuhkan media yang tepat agar ada perasaan suka dalam diri kaum muda. Taman Candra Wilwatikta menjadi salah satu sarana bagi anak-anak muda belajar menari dan berain musik karawitan.

Keberadaan kaum muda memberi angin segar terhadap pelestarian musik itu. ”Pada dasarnya anak remaja sekarang bukan tidak peduli dan tidak suka dengan musik tradisional tetapi jembatan agar kaum remaja bisa mengerti dan mau belajar tentang musik tradisional itu yang tidak ada. Hal itu yang menyebabkan hilangnya seni tradisional. Bukan karena remaja tidak mau belajar dan mengenal musik tradisional karena takut ketinggalan zaman. Buktinya setelah ada wadah yang menjembatani, banyak siswa SMU yang tertarik,” jelasnya.

Endang, salah satu pecinta musik karawitan, mengaku bergabung dalam Sekar Candra Birawa di Taman Candra Wilwatikta, untuk menunjukkan rasa cinta dan rasa ingin melindungi dan melestarikan budaya tradisional yang dimiliki daerahnhya agar tidak hilang sejalan dengan semakin sedikitnya para peminat dan pemusik kalangan orang tua yang bergumul dengan karawitan. ”Kalau bukan generasi muda siapa lagi. Dalam pikiran saya jika hanya orang tua yang suka memainkan musik dan anak muda sama sekali tidak bisa atau bahkan tidak tahu musik karawitan, tentu musik ini tidak akan ada dan dikenal,” katanya.

Menyanyi Sekedar Hobi

Orkes Dangdut PLO
OLEH: WURI WIGUNANINGSIH

Air beriak tanda tak dalam. Pribahasa ini cocok rasanya untuk perkembangan musik dangdut di Indonesia. Selama ini musik dangdut dikenal sebagai musik pinggiran. Pendidikan formal para pendukungnya juga dikenal tidak tinggi. Bahkan banyak dari mereka yang berpendidikan rendah. Khusunya para penyanyinya. Banyak dari mereka yang putus sekolah ditengah jalan hanya karena merasa telah punya penghasilan besar. Ternyata itu hanyalah pandangan masyarakat kita selama ini pada musisi dangdut. Tapi kenyataannya ternyata berbeda.

Seperti diungkapkan Dewi Kirana (25), Indah Permatasari (24) dan Icha Sagita (18), Trio PLO (Pasukan Lali Omah), penyanyi andalan orkes dangdut PLO asal Pasuruan. Ketiganya telah menamatkan SMA pada waktunya. Bahkan dua dari mereka melanjutkan pendidikan sampai diploma, karena bagi mereka, pendidikan tetap utama demi kelangsungan hidup mereka dimasa depan. “Kita menyanyi ini kan hanya menyalurkan hobi kita saja. Untung-untung kalau menghasilkan,” kata Icha, yang sekarang menempuh pendidikan diploma jurusan kebidanan.

Icha mengakui, dirinya sejak kecil suka menyanyi dan mengikuti aneka lomba. Wanita yang terkenal dengan goyangan hot di panggung ini akhirnya bergabung ke orkes PLO ketika duduk di kelas I SMA. Sejak itulah ia keliling dengan kelompok orkes yang baru untuk manggung dari satu tempat ke tempat lain. Meski jadwal manggung padat, orang tua Icha selalu memperingatkan pentingnya pendidikan. Karena bekal masa depan yang paling penting adalah pendidikan. Sedangkan menyanyi cukup ditekuni sebagai hobi. Icha pun akhirnya hanya pentas dihari libur sekolah.

Sebagai seorang penyanyi ia juga berkeinginan untuk rekaman dan populer seperti penyanyi-penyanyi umumnya. Tapi ia sadar, tidak semua penyanyi bisa seperti itu. Banyak tantangan yang harus dihadapi. Salah satu diantaranya banyaknya persaingan penyanyi dan faktor lain diluar perkiraan orang umum. Karena itulah, ia memilih menekuni dunia pendidikan formal dan menyanyi hanya sebagai hobi. Setamat SMA, Icha melanjutkan pendidikan kebidanan sebagai antisipasi setelah tidak laku di panggung, siap ali profesi jadi bidan.

Remaja Dominasi Olah Seni Di NTB

OLEH: HERNAWARDI

Patut menjadi teladan yang perlu menjadi rujukan remaja lainnya jika remaja kaya akan kreatifitas positif yang membanggakan, tidak hanya bermanfaat bagi diri remaja itu sendiri, namun juga cukup berdayaguna bagi orang lain apalagi rekan sebayanya. Seperti yang ditunjukkan para remaja Mataram yang rata-rata masih bersatatus pelajar baik dari TK hingga SLTA untuk belajar mengembangkan seni dan bakat mereka di Taman Budaya Nusa Tenggara Barat (NTB) tiap Minggu sore. Sejak tahun 2007, tercatat 300 peserta dan kebanyakan mereka mengikuti latihan olah seni yang digelar Taman Budaya Mataram.

Latihan olah seni dimaksudkan sebagai motivasi dan media bagi para remaja yang menyukai dunia seni untuk menempa dirinya dengan matang serta menyalurkan dan mengembangkan bakatnya serta mengapresiasi seni dalam aktifitasnya sehari-hari. “Kita siapkan tempat di gedung Taman Budaya untuk mereka berlatih. Mereka dilatih oleh instruktur intern dibantu pelatih dari luar,” kata Kepala Taman Budaya Mataram, Drs HL Agus Fathurrahman.

Di taman Budaya NTB, sebut Agus Fathurrahman, latihan olah seni remaja dilakukan dalam berbagai tahapan. Diantaranya tahapan kelas pemula, kelas dasar, kelas lanjut dan kelas eksperimentasi. Jika kelas atau tahapan terakhir sudah dilalui peserta, yang bersangkutan sudah bisa dilepas dan mengembangkan dirinya sendiri. Berbagai latihan olah seni yang digandrungi remaja Mataram antara kaub seni tari, musik, seni vokal, teater dan seni lukis.

Meski jumlah tenaga pelatih atau instruktur seni yang disiapkan Taman Budaya NTB terbatas, namun kalender kegiatan tetap berjalan sebagaimana mestinya, baik berupa pagelaran tetap maupun pelatihan olah seni yang kebanyakan diikuti para remaja. Pihak Taman Budaya NTB menilai, media Taman Budaya tetap dimanfaatkan sebagai tempat untuk mendidik apresiasi dan mendalami sebenar-benarnya potensi seni yang dimiliki oleh remaja itu sendiri.

Agus menyadari meski dengan tenaga pelatih olah seni terbatas dengan honor yang tidak seberapa, namun para pelatih tetap menjalankan panggilan tugas dengan baik, serta komitmen untuk mengembangkan dan melestarikan seni di kalangan generasi muda.

Fasilitas berkesenian para seniman di Mataram cukup memadai. “Biarlah orang luar yanbg menilai apa sudah cukup memadai atau tidak. Yang jelas Taman Budaya, kita siapkan sebagai tempat pendidikan apresiasi masyarakat terhadap seni itu. Perlu dicatat di antara berbagai seni di NTB, rata-rata memiliki segmen penonton atau penggemar yang berbeda-beda,” kata Agus.

Pemanasan Global & ANV

TEROPONG
OLEH: Rm Maxi Florens UN Bria Pr*

Kekerasan Cerminan Jiwa yang rapuh (Mahatma Gandhi). Apakah kepanasan global yang kini kita alami adalah buah dari kekerasan yang kita ciptakan terhadap ekologi? Siapa yang menabur, dialah yang menuai. Yang menabur baik, menuai kebahagiaan. Yang menabur perbuatan buruk dan salah, menuai keluhan dan ketidaknyamanan. Kedamaian dan kenyamananan terganggu. Itulah secuil gambaran seputar keluhan masyarakat di berbagai belahan dunia terhadap sengatan udara panas yang kian mengglobal.

Beberapa hari ini Komisi Justice and Peace serta Komisi Kerasulan Awam Gereja Katolik Regio Bali, Nusa Tenggara dan Tomor Leste menggelar focus disscusion tentang Gerakan Active Non Violence (ANV) di Denpasar, Bali. Salah satu topik spesifik yang menyita perhatian peserta adalah masalah pemanasan global (global warning). Pemanasan global dilihat sebagai hasil kekerasan ciptaan manusia yang tidak bersahabat dengan lingkungan hidup. Relasi yang tidak seimbang antara manusia dengan alam tersebut seakan melegalkan sikap konsumeristik dan egosentrik yang melahap habis sumber daya alam tanpa upaya pemeliharaan, pelestarian dan kepekaan terhadap kepentingan hidup banyak orang. Sikap ini secara kasat mata telah menghadirkan pemanasan global yang kian tak terbendung.

Pembangunan dan pengembangan diri yang tidak selaras dengan alam hanya akan menghadirkan berbagai konflik dan kekerasan baru. Bumi panas. Hati panas dan kepala pun panas dalam menghadapi berbagai persoalan yang dilecut dari sikap-sikap manusia yang cenderung keras, jauh dari keharmonisan dan keserasian.

Adakah yang salah? Pemanasan global sungguh mengancam hidup. Apa yang sedang terjadi adalah gambaran dari akumulasi kekerasan yang pernah manusia lakukan bagi lingkungan sebelumnya. Dan kekerasan yang paling tidak adil dan sangat mengancam perdamaian adalah kemiskinan kepekaaan dan kemiskinan cinta terhadap lingkungan hidup sebagai sesama ciptaan Tuhan.

Manusia sering mendapatkan apa yang diingini atau apa yang tidak mungkin ditolak. Manusia mengamini fakta, kepanasan global telah melahirkan ancaman bagi perdamaian dunia. Bila kita meyakini serius bahwa pemanasan global yang sedang merangsek di setiap lini kehidupan sama sekali tidak bisa diterima, dan bahwa pemanasan global tidak boleh dibiarkan terus berbias dalam masyarakat beradab, maka seharusnya semua elemen masyarakat berjuang ekstra dan berusaha membangun gerakan bersama demi menciptakan dunia yang bebas dari sikap kekerasan terhadap alam ciptaan; Manusia dan Lingkungan Hidup. Karena sama-sama ciptaan Tuhan, maka Gerakan ANV (Gerakan Aktif Tanpa kekerasan) atau yang saya sebut sebagai Gerakan Peradaban Tanpa Kekerasan, pantas dikedepankan sebagai antisipasi dini menyiasati dan menyikapi pemanasan global.

Peradaban Tanpa Kekerasan dimaknai sebagai salah satu strategi baru untuk melawan kekerasan atau kejahatan, tanpa meggunakan kekerasan. Di sini, peradaban tanpa kekerasan dipahami sebagai sebuah habitus (kebiasaan) baru dalam semua aktivitas manusiawi, yang disuport spirit budaya kasih.

Saya teringat dengan ucapan Abraham Linchol: Dalam semua aktivitas, kita tidak dapat menolong orang miskin dengan menghancurkan orang kaya. Tidak dapat mengangkat penerima upah dengan menekan pembayar upah. Tidak dapat terhindar dari masalah dengan menghasilkan penghasilan lebih besar. Tidak dapat memajukan rasa persaudaraan dengan mendorong kebencian antar ras. Tidak dapat menciptakan keamanan di atas uang pinjaman. Tidak dapat membangun karakter dan semangat dengan merampas inisiatif dan kemerdekaan. Dan kita tidak bisa mengembalikan sejuknya alam semsta dengan semakin merusak dan melakukan kekerasan terhadap lingkungan hidup di mana kita berada.

Mengaca pada pernyataan Lincoln di atas, maka penting diketahui dan sejatinya dihayati dalam setiap way of life setiap diri tentang prinsip dan kekuatan theologis peradaban tanpa kekerasan (Active Non Violence): Pertama, Manusia citra Allah dipercayakan untuk menata lingkungan hidup secara arif dan bertanggung jawab, tanpa pemusnahan, penghancuran dan pengrusakan yang merusak keserasian relasi sesuai alam semesta. Segala sikap over kelolah dan keliru hanya mendatangkan akibat terpuruk bagi sesama manusia itu sendiri.

Kedua, setiap manusia yang mewarisi kebaikan Allah: cinta, kasih, perdamaian, keadilan, kebenaran, persaudaraan dan kesederajatan, seharusnya juga bersikap adil dan penuh kasih dalam menata dan menggunakan alam ciptaan secara baik dan seimbang. Ketiga, kehidupan masyarakat damai pada mulanya. Lingkungan yang rusak dapat pula mengganggu interaksi antar manusia dalam kehidupan bermasyarakat lintas negara, daerah dan bahkan lintas kampung atau suku. Pada titik ini, kita semestinya sadar bahwa interaksi manusia yang tidak harmonis dapat bermuara untuk melahirkan realitas konflik dan kekerasan antara sesama manusia. Penataan dan pengolahan alam semesta yang baik dan benar dapat mendukung terciptanya perdamaian sebagai cita-cita global yang universal.

Keempat, kodrat manusia menolak penderitaan. Pemanasan global melahirkan penderitaan dan kecemasan. Di sini, manusia yang peduli perlu bersatu dalam sebuah gerakan sosial untuk memelihara, mencintai dan melestarikan bumi serta lingkungan hidupnya sebagai bagian integral untuk menciptakan perdamaian di atas kolong langit ini.

If you wont peace work for justice? Jika anda menginginkan perdamaian, bekerjalah untuk keadilan. Pemanasan bumi adalah buah dari ketidakadilan bersikap terhadap terhadap bumi dan lingkungan hidup. Relasi yang timpang dalam menata lingkungan tanpa memandang sebagai sahabat dan sesama Ciptaan, telah menggelorakan semangat konsumeristik, merasuk dan melahap habis semua lingkungan hidup dan kekayaan yang dikandungnya. Hutan rimba telah menjadi bukit gundul kini. Sumber air bersih telah terkontaminasi. Polusi udara mengitari kita. Ternyata kita tidak senyaman dulu lagi.

Kekerasan yang pernah kita tabur terhadap alam, kini kita tuai ketidaknyamanan. Masihkah ada nurani dunia bagi pemanasan global? Tentu ada. Karena itu gerakan aktif tanpa kekerasan atau yang peradaban tanpa kekerasan Indonesia mengajak semua pihak untuk mengolah bumi secara bertanggung jawab tanpa kekerasan. Mengolah dengan arif dan bebas dari pengrusakan serta pemusnahan global. Pada simpul ini, sebaiknya semua kita mencamkan pernyataan Uskup Romero: “Mungkin kita tidak akan pernah melihat hasil akhir, tetapi inilah perbedaan antara Tuan Pembangunan dan Pekerja. Kita adalah pekerja, dan bukan Tuan Pembangunan, Pelayan bukan Mesias. Kita ini nabi-nabi masa depan yang bukan milik kita.
*) Koordinator Komisi Justice and Peace Regio Nusa Tenggara & Koordinator International Community Damian the Lovers of Molokai Asia Pasific, tinggal di Kupang, NTT.

Statistik pengunjung