Rabu

Salah Didik, Anak Takut Sekolah

Nur Ainy F Nawangsari, S.Psi
Para orangtua di kota-kota besar berlomba-lomba mendaftarkan anak mereka di playgroup. Mereka terobsesi kepribadian anak mulai terbentuk sejak usia dini. Alasannya, di usia yang amat belia itu, kepribadian dan karakter anak mudah dibentuk dan diarahkan. Psikolog Nur Ainy F Nawangsari S.Psi, mengakui ada banyak hal positif bila anak masuk sebuah playgroup. Tapi, perlu diwaspadai kalangan orangtua untuk tidak memaksa anak mereka masuk playgroup. Pendidikan di keluarga dan lingkungan sekitar sudah cukup untuk pendidikan usia dini.
Berikut petikan wawancara dengan dosen sekaligus ketua Pusat Terapan Psikologi Pendidikan Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya tersebut;

Apa sesungguhnya keuntungan seorang anak masuk playgroup?

Pendidikan di playgroup, sesungguhnya bisa dikatakan sebagai pendidikan informal. Jadi pendidikan ini tidak wajib diberikan dalam sebuah
lembaga pendidikan. Hanya banyak kemudahan yang didapat jika kita mengikutsertakan anak-anak kita di playgroup. Fasilitas yang disediakan
sangat lengkap. Misalnya alat-alat bermain yang digunakan untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan motorik, sosial maupun kognitifnya. Semua itu baik bagi si anak, jika si anak siap untuk masuk dalam playgroup. Jika belum siap, bisa mengakibatkan anak takut masuk sekolah. Terlebih jika guru di playgroup tersebut jahat. Hal ini bisa mengakibatka pemasungan kreatifitas si anak.

Bagaimana ciri si anak dianggap siap untuk masuk playgroup?

Pada dasarnya, seorang anak bisa masuk playgroup, jika fisik motoriknya sudah berkembang secara maksimal. Misalnya anak sudah dapat berlari,
menggambar atau memegang sesuatu dengan baik. Kemudian si anak sudah dapat melakukan interaksi dengan orang lain. Dalam hal ini guru atau
teman-temannya. Selanjutnya si anak harus punya motivasi atau kemauan untuk masuk playgroup. Jadi si anak punya kemauan, sedang orangtua hanya
sebagai mediasi, untuk menyalurkan keinginan anak tersebut. Seorang anak siap masuk playgroup, jika sudah mampu mengembangkan daya nalar, instruksi dan yang pasti sudah mampu mandiri. Jika syarat-syarat ini belum terpenuhi, si anak merasa tidak nyaman dan mengakibatkan perkembangan kepribadiannya tidak baik.

Apakah perkembangan kepribadian anak yang tidak bersekolah di playgroup akan berbeda dengan anak yang masuk playgroup?

Bagi mereka yang tidak mampu masuk playgroup, pendidikan usia dini bisa dilakukan di tengah keluarga dan lingkungan sekitarnya. Sekarang tergantung orangtuanya sendiri, harus tahu fase perkembangan si anak. Karena semua yang ada di sekeliling kita mengandung pelajaran. Hanya tergantung kita, bisa menjadikan lingkungan di sekitar kita sebagai pendidikan atau tidak. Misalnya anak usia 0-2 tahun mulai mengalami perkembangan motorik dengan memegang dan memasukkan semua barang ke dalam mulutnya. Jika si anak melakukan hal ini, si orangtua jangan memarahi atau memukul. Karena mengakibatkan perkembangan kepribadian selanjutnya akan terganggu. Contoh nyata lain, pada fase inisiatif, usia 5-6 tahun, si anak jadi tidak kreatif. Karena inisiatif anak selalu dipotong atau dimarahi. Akibatnya, si anak akan tumbuh menjadi
anak yang tidak kreatif, penakut atau takut jika berhadapan dengan orang lain. Karena itulah, pada usia emas itu, pertumbuhan si anak harus dimaksimalkan.

Apa contoh konkrit benda di lingkungan sekitar kita yang bisa menjadi pelajaran bagi anak-anak di usia dini?

Ya, misalnya untuk membedakan antara benda padat dan cair. Kita bisa perkenalkan benda padat seperti kursi, meja atau lainnya. Untuk jenis benda cair, dibagi menjadi benda yang sangat cair dan benda dalam bentuk gel atau kalau didinginkan akan menjadi es padat. Selanjutnya untuk fungsi bendapun dapat kita katakan misalnya ember, jika di atas kepala bisa disebut topi untuk melindungi kepala. Atau ember kalau diduduki bisa disebut kursi. Begitu seterusnya, tergantung pada fase perkembangannya.
Pada dasarnya, perkembangan kepribadian itu sifatnya seperti garis.
Tidak mungkin perkembangan kepribadian seseorang itu akan meloncat-loncat. Jika satu fase saja terlewati, bisa mengakibatkan perkembangan kepribadiannya terganggu. Misalnya ketika masa perkembangan kemandirian itu muncul dan tidak dikembangkan secara maksimal, mengakibatkan anak tidak bisa mandiri. Bahkan sampai dewasa mereka tidak bisa hidup mandiri. Hal ini bisa diperbaiki, tapi semua tergantung pada kepribadiannya sendiri serta terpaan lingkungannya.
(Pewawancara: Wuri Wigunaningsih)

BIODATA:
Nama : Nur Ainy F Nawangsari, S.Psi
Pendidikan :
S1 Fakultas Psikologi Universitas Airlangga
S2 Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada Jogjakarta
Pekerjaan :
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga
Ketua Pusat Terapan Psikologi Pendidikan
Narasumber Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

Homeschooling Alternatif Dunia Pendidikan

Mohammad Fauzil Adhim
Masalah yang terus menerpa sistem pendidikan nasional, mulai dari kurikulum yang berganti-ganti, pro-kontra ujian nasional dan penentuan kelulusan, sistem penerimaan siswa baru, biaya pendidikan mahal dan masalah-masalah lain telah menyebabkan banyak orangtua semakin ragu menyerahkan pendidikan anaknya kepada insitusi sekolah. Kondisi yang paling dikhawatirkan para orangtua adalah ketidakmampuan sekolah dalam mangakomodir kemampuan unik masing-masing siswa secara individu sehingga perbedaan potensi tersebut cenderung dikerdilkan. Tidak puas dengan sistem pendidikan yang diterapkan sekolah, orangtua akhirnya mencari alternatif di luar sekolah formal. Salah satu metode pendidikan yang sudah banyak diterapkan di luar negeri, dan mulai banyak dilirik para orangtua di Indonesia adalah homeschooling. Para tokoh nasional pun telah membentuk ASAH PENA (Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif) yang dimotori Kak Seto, Dewi Hughes, Neno Warisman, Ratna Megawangi, Dik Doank, serta dibina Departemen Pendidikan Nasional bidang Pendidikan Luar Sekolah dan didukung sejumlah pakar pendidikan, seperti Adi D Adinugroho-Horstman, Dian Amrita Dewi, dan Ratu Vanda Wardani, termasuk M. Fauzil Adhim, penulis best seller Trilogi “Kupinang Engkau Dengan Hamdalah” yang diwawancarai oleh media ini.

Apa latar belakang pendidikan homeschooling?

Homeschooling merupakan kegiatan belajar mandiri yang sangat fleksibel, tidak terikat pada tempat, sistem, buku, lembar kerja, pelaku maupun kondisi tertentu. Sama sekali tidak ada kondisi yang ”ideal” dan ”benar” dalam melaksanakan homeschooling.
Pendidikan metode ini memungkinkan anak berkembang sesuai dengan potensi diri mereka masing-masing. Teori multiple intelligent atau kecerdasan majemuk telah membuka mata kita bahwa ada begitu banyak cara untuk membuat anak-anak memahami suatu materi pelajaran. Perlu disadari bahwa anak-anak mungkin bisa belajar dengan sangat baik melalui cara mereka sendiri. Potensi tersebutlah yang jarang diketahui oleh guru atau pengajar pada sekolah formal. Siswa cenderung hanya dituntut kemampuan akademis (membaca, menulis, mengeja, berhitung, duduk manis di dalam kelas serta mendengarkan guru berceramah). Hal-hal seperti inilah yang mendasari banyak orangtua untuk mendidik anak-anak mereka sendiri selain alasan biaya dan tidak puas dengan kurikulum pemerintah atau sekolah setempat.

Apa saja yang diajarkan dalam homeschooling?

Pada dasarnya semua bahan yang akan diujikan dalam institusi tertentu (misal, Diknas) ”bisa” dimasukkan dalam kegiatan belajar anak. Tetapi hal tersebut bukanlah yang utama karena yang terpenting dalam proses belajar tetaplah menanamkan mental belajar sehingga anak memperkaya khasanah keilmuan dengan mandiri dan bukan tergantung pada buku teks maupun lembar kerja. Buku dan lembar kerja hanyalah sarana pendukung saja, itupun bila anak bersedia. Orangtua pun bisa menerapkan kurikulum tersendiri ataupun mengacu pada kurikulum pemerintah yang dimodifikasi sehingga homeschooling ini bisa memiliki kompetensi tersendiri. Ketiadaan patokan kurikulum lebih leluasa bagi orangtua untuk mengajarkan penghargaan diri (self esteem), kompetensi, perasaan positif terhadap belajar (positive thinking dual learning) serta memunculkan hasrat dan motivasi belajar. Karena tidak berorientasi untuk mendapatkan ijazah, maka sama sekali tidak ada rumus baku dalam menerapkan homeschooling. Setiap detik anak bisa belajar apa saja, dari mana saja dan siapa saja. Siswa bisa belajar apapun mulai berhitung sampai belajar sejarah dunia tanpa harus terikat pada kurikulum tertentu. Siswa belajar karena ia menikmati proses belajar itu dan bukan karena ia ingin mendapat nilai atau diakui secara formal oleh suatu institusi. Jika menginginkan ijazah, anakpun bisa dimintakan ujian kesetaraan pada Dinas Pendidikan.

Dampak homeschooling pada perkembangan anak?

Homeschooling memberi banyak keleluasaan bagi anak-anak untuk “menikmati” proses belajar tanpa harus merasa tertekan dengan beban-beban yang terkondisi oleh target kurikulum. Telah banyak tokoh-tokoh dunia lahir dari homeschooling , seperti Albert Einstein, Alexander Graham Bell, Agatha Christie, Thomas A. Edison, George Bernard Shaw, Woodrow Wilson, Mark Twain, Charlie Chaplin, Charles Dickens, Winston Churchill, K.H. Agus Salim, dan lainnya. Seorang anak muda Amerika, Christopher Paolini (22 tahun), penulis novel laris Eragon (telah diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia) juga seorang homeschooler. Program homeschooling memberi alternatif dunia pendidikan. Sekolah jadi bukan satu-satunya tempat anak menuntut ilmu, pengetahuan dan pengalaman. Dengan belajar di rumah, alam terbuka serta tempat lainnya akan menjadikan orangtua sebagai guru yang sebenarnya. Sudah selayaknya orangtua memberikan peran lebih besar terutama masalah pendidikan kepada putra-putrinya, karena pendidikan awal memang sudah dimulai dari rumah atau keluarga. (Pewawancara: Didik Purwanto)

BIODATA:
Nama : Mohammad Fauzil Adhim
TTL : Mojokerto, 29 Desember 1972
Pendidikan :
*SDN Ketidur Kutorejo (1985)
*SMP Negeri Kutorejo, Mojokerto (1988)
*SMA Negeri 2 Jombang (1991)
*Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (2001)
Aktivitas :
*Wakasek Bidang Motivasi SDIT Hidayatullah Jogjakarta (2006-sekarang)
*Penulis Spesialis Pernikahan dan Parenting
*Dai
Alamat : Jl Monjali Gg Masjid Mujahadah RT 15/ RW 40 Karangjati, SIA MELATI, Sleman Jogjakarta, HP 0818269672

“Saya Usul Pesta Kebudayaan Bali”

Prof Dr I Gede Parimartha, MA
Kebudayaan orang Bali sangat terikat kuat dengan agama Hindu. Keterkaitan ini, kemudian melahirkan adat, kebudayaan, dan tradisi yang menyatu kuat dengan agama dan budaya Hindu Bali. Dengan latar relasi kebudayaan di atas, lahirlah beragam jargon-jargon kebudayaan untuk "menjaga" keutuhan budaya Bali. Berikut wawancara media ini dengan ahli kajian budaya Bali, Prof. Parimartha tentang proses akulturasi budaya di Bali.

Bagaimana proses akulturasi budaya di Bali?

Proses pencampuran budaya di Bali sudah sejak awal abad Masehi, sekitar 2000 tahun lebih yang lalu dan terus berlangsung sampai sekarang. Banyak peninggalan benda-benda khas India dan Jawa, aspek ukiran, desain dan budaya. Namun Bali juga memiliki ciri khas tersendiri terutama tradisi. Persamaan paling mendasar hanya pada konsep agama yaitu menganut Trimurti (Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Dewa Siwa). Sampai sekarang aliran kepercayaan dari India terus bermunculan, seperti Sai Baba dan Hare Khrisna. Cina juga turut memberikan pengaruh terutama uang kepeng yang dahulu digunakan sebagai alat perdagangan. Lambat laun, budaya agama juga masuk dan terjadi akulturasi.

Bagaimana menjaga kebudayaan Bali agar tetap eksis?

Dalam kerangka globalisasi, tidak ada kebudayaan yang murni berasal dari dirinya sendiri. Semua pasti ada pencampuran budayanya. Namun yang penting adalah rasa guyub, percaya kepada Tuhan, hormat kepada leluhur dan orang tua, saling memahami seperti ajaran Tri Hita Karana, Tri Kaya Parisudha, Desa Kala Patra dan Tat Twam Asi. Bali tidak mungkin kembali seperti jaman Gel-Gel pada abad 15-16. Itu Bali yang lampau. Bali tidak boleh hanya mementingkan agraris saja, harus juga terbuka dengan industri yang lain sehingga peradaban berkembang dan kokoh.

Sudah tepatkah Pesta Kesenian Bali (PKB) diadakan tiap tahun demi pelestarian budaya Bali?

Pesta Kesenian Bali adalah satu upaya menggali dan mendukung pelestarian kesenian Bali. Namun pelaksanaannya jangan tiap tahun karena hanya menguras dana APBD, usahakan minimal tiga tahun sekali. Seharusnya masing-masing kabupaten mengadakan sendiri pesta kesenian tersebut sehingga dapat mengundang partisipasi wisatawan ke daerah. Selain itu, seni modern khas generasi muda belum diakomodir oleh panitia PKB. Jiwa kreatif anak muda juga harus diapresiasi agar jiwa seninya akan tumbuh, misalnya pembuatan dan pemutaran film tentang Bali. PKB dari tahun ke tahun juga makin bervariasi, terbukti dengan penampilan dari propinsi lain di Indonesia dan partisipasi luar negeri. Masyarakat pun ikut diuntungkan dengan adanya kegiatan tersebut, aspek positif ekonomi rakyat kecil, semangat persatuan (kebhinekaan) dan melestarikan tradisi leluhur.
Kalau saya boleh mengusulkan, PKB bukan Pesta Kesenian Bali tapi Pesta Kebudayaan Bali. Hal ini akan membuat seluruh aspek budaya Bali akan masuk dalam kegiatan tersebut. Budaya di sini berarti sangat luas, bisa pemikiran, mengulas sejarah, makanan khas, tradisi, subak, dan sebagainya. Peran akademisi pun harus melibatkan para pakar di bidangnya untuk bicara budaya Bali dan tantangan Bali ke depan. Sehingga dengan pola pemikiran tersebut, ada evaluasi bagi Bali, tidak terkesan pragmatis, individualistis dan maunya menang sendiri. Jangan hanya bicara Bali punya citra bagus namun hanya sekadar bualan. Masyarakat terutama wisatawan perlu bukti bahwa Bali masih ajeg.

Siapa yang bertanggung jawab tentang Ajeg Bali?

Secara harfiah, kata ajeg bermakna kukuh, tidak goyah, tegak, dan lestari. Kalau disandingkan antara ajeg dan Bali maka itu berarti Bali yang kukuh atau Bali yang tidak goyah. Baik itu ajeg parahyangan, ajeg pawongan dan ajeg palemahan.
Tantangan Bali ke depan adalah komitmen untuk keseimbangan. Keseimbangan itu meliputi pembangunan manusia, lingkungan, budaya dan agama. Dalam hal budaya, misalnya, Bali menghadapi tantangan konsumerisme, komersialisme, dan komoditifikasi. Mewujudkan ajeg Bali tidak bisa dilepaskan dari upaya menghentikan budaya konsumerisme. Bagi orang Bali kebanyakan, konsep ajeg Bali bisa berarti macam-macam. Pertama, merupakan ungkapan untuk menyatakan identitas, terutama identitas etnik dan budaya. Kedua, sebagai strategi untuk menyaring pengaruh budaya luar yang dianggap tidak cocok dengan nilai-nilai budaya Bali. Ketiga, berarti cita-cita untuk menjadikan Bali tenang, aman, dan damai.
(Pewawancara: Didik Purwanto)

BIODATA:
Nama : Prof Dr I Gede Parimartha, MA
TTL : Tenganan, Karangasem, 31 Desember 1943
Aktivitas :
Ketua Program Pendidikan Doktor (S3) Kajian Budaya Unud (2003-sekarang)
Dosen Sejarah S1, S2 dan S3 Kajian Budaya Unud (1976-sekarang)
Ketua Litbang Bali Heritage Trust / BHT (2002-sekarang)
Ketua Litbang Para Gotra Santana Dalam Tarukan Pusat (2002-sekarang)
Tetua Prajuru Desa Adat Tenganan Dauh Tukad (Karangasem)
Alamat : Jl Tunggul Ametung VB/11 Denpasar, Tlp (0361) 432474

Gunakan Trik Tarik Penonton Kesenian Tradisional

Drs Suprawoto
Kesenian tradisional di daerah perkotaan mulai tersingkir dari dunia hiburan akibat kemajuan informasi dan teknologi. Minat kaum muda mendalami atau mempelajari warisan seni budaya tradisional leluhur kian berkurang. Mereka menganggap kesenian tradisional itu ndeso dan kuno. Suatu saat ludruk, ketoprak atau wayang, baik wayang kulit maupun wayang orang yang menjadi ciri khas orang Jawa akan ditinggalkan generasi muda. Untuk melestarikan seni budaya tradisional Jawa, UPTD (Unit Pelaksana Tehniks Daerah) THR (Taman Hiburan Rakyat) Surabaya eksis menyajikan hiburan kesenian tradisional dengan metode baru untuk mendekatkan kaum muda kepada khasanah seni budaya leluhur. Berikut petikan wawancara media ini dengan Kepala UPTD THR Surabaya, Drs Suprawoto mantan dalang dan tokoh semar dalam ketoprak.

Mengapa kesenian tradisional seperti ludruk atau ketoprak kurang diminati generasi muda?

Bagaimana kesenian tradisional akan populer di tengah generasi muda kita? Tampil saja mereka tidak pernah. Beda dengan kesenian modern yang sering tampil di berbagai macam media sehingga sangat populer di tengah masyarakat. Kesenian tradisional tidak pernah tampil, karena tidak ada dana atau sponsor yang mendukung untuk dipentaskan atau dikembangkannya kesenian tersebut. Ya, karena menurut para sponsor, kesenian tradisional tidak bisa dijual. Lain dengan kesenian modern.

Bukankah kesenian tradisional masih punya nilai jual?

Begini, kita bicara lebih mengkerucut di kota Surabaya. Pusat pagelaran atau pementasan kesenian tradisional adalah di THR. Tahun 70-an, tempat ini sangat populer di tengah masyarakat. Sejak awal 80-an, sedikit demi sedikit kejayaan THR mulai turun. Bahkan sejak tahun 90-an, THR mati. Tidak pernah ada pagelaran, karena memang tidak ada yang menonton. Jika dibandingkan antara pementasan kesenian tradisional dan modern, dana yang dikeluarkan jelas banyak tradisional. Karena kru untuk sekali pementasan atara 60-70 orang. Beda dengan kesenian modern. Jumlah krunya sedikit, sehingga penghasilan masing-masing anggotanya banyak. Tapi sebaliknya dengan kesenian tradisional. Kalau tidak ada penonton, otomatis kru tidak akan mendapat bayaran. Padahal biasanya untuk hidup, mereka hanya mengandalkan pementasan. Karena tuntutan hidup pula, mereka akhirnya memilih untuk mencari pekerjaan lain. Kalau begini, otomatis lama kelamaan kesenian tradisional akan musnah.

Apa strategi yang tepat untuk mempopulerkan kembali kesenian tradisional agar tidak hilang?

Sesungguhnya, dalam hal ini penonton menjadi ujung tombak. Program yang saya terapkan ini syukur sudah mulai terlihat hasilnya. Meskipun belum sesuai dengan yang diinginkan. Tidak mungkin kalau kita mencari dana untuk pementasan. Sponsor akan berpikir berkali-kali lipat untuk memberi dana, kalau tidak ada penontonnya. Karena itulah, saya simpulkan harus mengumpulkan dahulu penonton. Caranya dengan menarik tiket yang sangat murah dan mereka kita iming-imingi hadiah. Dan, hasilnya memang sesuai dengan harapan. Penonton mulai memadati setiap pertunjukan yang diadakan di THR. Mulai wayang, ludruk sampai ketoprak. Sedikit demi sedikit, sponsor mulai masuk. Ini tentu saja akan meningkatkan penghasilan kru dari kelompok kesenian tradisional tersebut. Jika ini telah berjalan dengan baik, lambat atau cepat pasti akan regenerasi di kalangan pelaku kesenian tradisional.

Apa sisi kualitas kesenian tradisional yang ditingkatkan untuk menarik minat masyarakat?

Kita berusaha setiap kali tampil, tema cerita yang kita bawa harus sesuai dengan perkembangan permasalahan yang ada di tengah masyarakat. Ya tentunya tidak keluar dari pakem yang sudah ada. Tentu saja pandai-pandainya si pelaku kesenian tradisional mengkombinasikan atara nilai-nilai dan norma dengan permasalahan yang ada di tengah masyarakat kita. Karena untuk membangunkan sesuatu yang sudah tidur, supaya kembali berjaya serta regenerasi, memerlukan proses yang cukup panjang dan dana yang banyak. Dan itu yang sedang kita rintis. Satu lagi, untuk melestarikan kesenian tradisional dan supaya kesenian tersebut bisa dicintai oleh generasi muda, pendidikan yang berhubungan dengan kesenian tradisional harus intensif digalakkan. (Pewawancara: Wuri Wigunaningsih)

BIODATA:
Nama : Drs Suprawoto
Pekerjaan : Dalang wayang kulit
Pemain ketoprak
Kepala UPTD THR Surabaya

Wayang & Topeng Gambar Watak Nan Kaya

A Prayitno
Akulturasi budaya dapat dilihat melalui hasil karya seni baik yang bersifat religius magis maupun popular. Salah satu hasil karya masyarakat lokal yang juga mendapatkan pengaruh dari beraneka macam budaya adalah wayang dan topeng. Persebaran wayang dan topeng ada di setiap wilayah Nusantara dengan beragam tokoh, watak, karakter dan tampilan. Budayawan sekaligus kolektor wayang dan topeng yang tinggal di Bali, Prayitno, memaparkan bentuk akulturasi wayang dan topeng Jawa–Bali kepada wartawan koran ini.

Sejak kapan wayang berkembang di Jawa dan Bali?

Kemunculan wayang di Jawa dan Bali seiring dengan kemunculan budaya Hindu–Buddha dalam kehidupan masyarakatnya. Sejak munculnya Ramayana dan Mahabharata di sini, itulah munculnya wayang.

Adakah bentuk akulturasi dalam wayang?
Ya tentu saja ada. Misalnya, wayang Jawa dan Bali merupakan hasil akulturasi dari budaya India dengan tradisi masyarakat setempat, hal ini diwujudkan dalam jalan cerita pertunjukan dan filosofi kisah Ramayana dan Mahabharata. Dalam dunia pewayangan Bali selain bercerita tentang kedua kisah tersebut, terdapat juga upaya mendukung upacara adat setempat.

Apa perbedaan antara wayang Bali dan wayang Jawa?

Tokoh–tokoh pewayangan Jawa dan Bali memiliki bentuk fisik yang berbeda serta gaya gerak yang berbeda pula dalam pementasan tetapi sifat dan karakternya nyaris sama. Secara umum bentuk dan penokohan wayang masing–masing daerah memiliki pakem tertentu yang harus diikuti oleh para dalang, tetapi tetap akan dipengaruhi oleh latar belakang senimannya. Contohnya tokoh Bima. Bima di Jawa dan Bali bentuknya pasti berbeda tapi nama, tokoh dan karakternya pasti sama

Bagaimana dengan seni topeng?

Di dalam seni topeng, akulturasi budaya yang terbentuk tidak dapat kita pastikan secara jelas. Yang berpengaruh besar adalah latar belakang budaya si seniman. Ada beberapa jenis topeng yang merupakan hasil dari budaya animisme masyarakat setempat tanpa percampuran dengan budaya lain. Contoh nyata ada pada pertunjukan topeng Reog Ponorogo. Selain berfungsi sebagai pertunjukan topeng juga dapat dipersonifikasikan sebagai penghormatan terhadap leluhur dengan membuatkan topeng yang mirip dengan raut wajah orang yang telah meninggal.

Ada Berapa macam seni wayang dan topeng di Jawa dan Bali?
Banyak, di Jawa saja ada bermacam–macam seperti wayang purwo, wayang krucil, wayang wahyu, wayang golek. Dan setiap wayang memiliki macam-acam jenis. Setiap daerah memiliki karakter sendiri–sendiri. Topeng tergantung pada kreatifitas senimannya. Di Bali, topeng sangat erat kaitannya dengan adat sehingga dari zaman ke zaman selalu ada dan tidak terputus, kalau di Jawa tidak, topeng pertunjukkan ada sisi–sisi sebuah zaman yang terputus. Maksudnya karakter dari sebuah topeng yang diciptakan apalagi sudah dipentaskan dan terkenal akan hilang saat sang seniman meninggal. Itu tidak pernah ditulis sehingga sekarang saya mengalami kesulitan dalam mencari keakuratan.

Apakah ada perubahan yang terjadi dalam seni topeng dan wayang?

Seiring perkembangan zaman, wayangpun terus berkembang, saat ini masyarakat telah disuguhi oleh wayang yang bentuknya sudah menyerupai sang tokoh yang disebut wayang suluh dan ini biasanya sang dalang melakonkan kondisi sosial masyarakat setempat. Berbeda dengan wayang, topeng tidak mengikuti aturan khusus dalam pembuatan maupun pertunjukannya sehingga banyak dipengaruhi oleh latar belakang senimannya. Sepanjang tidak bersinggungan dengan agama dan tradisi masyarakat setempat. Seni pertunjukan topeng merupakan kreatifitas seniman dalam menceritakan apa yang terjadi di masyarakat baik itu berupa kritik sosial atau bahkan merupakan suatu penghormatan kepada tokoh–tokoh yang telah berjasa kepada masyarakat.

Mengapa anda merasa terpanggil mengoleksi topeng dan wayang se-Nusantara?
Kenapa saya menekuni wayang dan topeng karena di dalam wayang dan topeng itu menggambar filsafat soal perilaku manusia, watak, sikap hidup manusia, kepribadian yang sangat kental. Sekarang banyak orang meninggalkan wayang dan topeng karena tidak mengasyikan dan menarik. Padahal kalau kita amati secara historis karakter wayang ciptaan leluhur kita itu sangat luar biasa.
(Pewawancara: Roro Sawita)

BIODATA:
Nama : A Prayitno
Umur : 61 Tahun
Asal : Bojonegoro, Jatim
Kolektor Rumah Topeng dan Wayang di Kampung Seni Kubu Bingin, Jl Tegal Bingin Banjar Tengkulak Mas, Desa Kemenuh, Sukawati, Gianyar.

Tayangan Sinetron Menjual Mimpi

Mustafa Muhammad Bong
Budaya populer yang sekarang ini menghinggapi dunia anak muda terutama di kota kota besar, semakin meresahkan orangtua dan kaum spiritual bangsa ini. Pasalnya, budaya populer ini identik dengan kebebasan bergaul dan semangat memberontak. Banyak penyebab, mengapa mereka bergaya dan memutuskan untuk mengadopsi budaya populer. Salah satunya media informasi yang memiliki andil besar terbentuknya generasi amburadul ini. Seberapa besar pengaruh media komunikasi terhadap pengaruh budaya populer ini? Berikut wawancara media ini dengan Ketua Umum Yayasan Pendidikan Nusantara dan Pimpinan Pondok Pesantren Tionghoa - Melayu, KH. Mustafa Muhammad Bong.

Apa sebenarnya pengaruh budaya populer terhadap generasi muda sekarang ini?

Budaya populer sekarang ini merupakan salah satu dampak dari era globalisasi, baik itu perdagangan bebas, politik, budaya dan didukung dengan teknologi komunikasi canggih. Informasi apa saja masuk dengan bebasnya, termasuk budaya asing baik itu berupa fesyen, gaya hidup, pergaulan bebas (seks bebas), pemakaian obat terlarang dan lain-lain. Sebenarnya sejak jaman penjajahan Belanda, sudah masuk unsur ideologi budaya sekuler lalu berkembang menjadi budaya popular. Karena pengaruh agama (waktu itu Islam) yang kuat, pengaruh budaya popular ini tidak berkembang.


Bukankah kecanggihan alat komunikasi memberikan nilai positif bagi pengaksesan ilmu pengetahuan?

Memang teorinya seperti itu bahwa kecanggihan alat komunikasi juga ada nilai positifnya dalam mentransfer ilmu pengetahuan dan lain-lain. Namun dengan kecanggihan itu pula banyak disalahgunakan para generasi muda untuk mentrasfer budaya asing tanpa memilah terlebih dahulu mana yang baik maupun yang jelek. Internet misalnya, mungkin bagi orangtua akan bangga melihat anaknya mahir menggunakan komputer bahkan mampu mengakses komputer. Tetapi kemampuan mengoperasikan komputer itu disalahgunakan untuk yang lain, misalnya mengakses situs porno atau chatting dan lain sebagainya.


Bagaimana dengan media televisi?

Media ini banyak sekali andilnya dalam pembentukan budaya populer. Bahkan boleh dikata, media televisi yang paling banyak andil dalam melayani keinginan generasi muda terhadap budaya populer ini. Tayangan infotainment misalnya, sangat vulgar menguliti kehidupan kaum selebriti dengan kebebasannya dalam pergaulan, percintaan dan kehidupan glamor. Hampir semua stasiun televisi punya program tersebut. Begitu juga dengan tayangan sinetron yang hampir semuanya menjual mimpi. Semua bercerita tentang cinta, selingkuh, dan kehidupan kelas atas. Pokoknya full glamour.
Jadi televisi sekarang ini mampu merubah segalanya, baik itu pandangan hidup dan visi hidup anak muda sekarang dan jaringannya sudah menjadi alat sekulerisme global.


Dibandingkan dengan remaja masa lalu?

Menurut saya tidak separah sekarang ini. Walau dulu juga kita mengenal budaya populer disesuaikan dengan jaman tersebut dan hanya terbatas pada anak muda perkotaan saja. Tetapi sekarang, generasi muda kita hidup dalam hujan deras pengaruh budaya populer. Tak hanya mereka yang hidup di kota-kota besar tetapi juga masuk ke wilayah yang dikategorikan desa.

Separah itukah kondisi generasi kita?

Ya, saya melihat generasi muda terutama mereka yang mapan (kota-kota besar) hidup dalam multikulturalisme dan pluralisme nilai. Gaya hidup mereka adalah gaya hidup global, hingga kerap kali kehilangan identitas ketika harus merumuskan ke-Indonesia-an. Mereka dibesarkan dalam tingkat kemapanan yang cukup tinggi dan akses yang begitu luas terhadap berbagai bidang.

Apa saran Anda dengan gencarnya arus budaya populer di masyarakat kita?

Saya berharap para remaja memperdalam agama. Karena dengan kekuatan aqidah, dan kekuatan keimanan, budaya populer tersebut tidak akan menggoyahkan budaya ketimuran dan budaya Islam yang dimiliki oleh generasi kita. Sekeras apapun benturan budaya itu, Insya Allah tak akan menggoyahkan pendirian yang sudah ada. Jadi intinya adalah perkuat agama karena dalam agama terutama agama Islam mengajarkan mana yang baik dan mana yang jelek. Mana yang haram dan mana yang halal, mana yang diperintahkan dan mana yang dilarang.
(Pewawancara: Agus Aalam)


BIODATA:
Nama : KH. Mustafa Muhammad Bong
Kelahiran : Bangka Belitung, 29 Mai 1971
Pengalaman Organisasi :
1. Anggota Ikatan Cendikiawan Muslimin Indonesia (ICMI)
2. Ketua Bidang EKUIN DPP Front Pembela Islam (FPI) Pusat
3. Wakil Ketua Dept Dakwah DPP PPP
4. Ketua Umum Yayasan Pendidikan Islam Nusantara Rahmatanlilalamin

Bisnis Aksesoris Karena Sikap Kreatif

Sri Hediawati
Remaja dan aksesoris seakan tak terpisahkan. Aksesoris kerap menjadi identitas diri kaum muda. Generasi muda pun menjadi sasaran empuk mereka yang terjun di dunia bisnis akseris. Sri Hediawati, misalnya, sejak di bangku kuliah sudah mulai belajar bisnis aksesoris kecil-kecilan. Saat ini, bisnisnya semakin besar. Ia pub berangan-angan memproduksi serta memasarkan produknya sendiri. Selama ini, ia hanya memesan pada orang lain, lalu memasarkannya ke koperasi-koperasi sekolah maupun stand-stand yang khusus menjual aksesoris. Berikut wawancara media ini dengan Sri Hediawati;

Bagaimana cerita awal anda menekuni dunia bisnis aksesoris?

Saya tergolong orang yang suka sekali dengan dunia fesyen. Saya suka sekali mengikuti perkembangan mode, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Selain karena ada darah bisnis dari keluarga, saya berpikir untuk berbisnis aksesoris. Menurut saya, bisnis bukan dunia yang membutuhkan kerja keras untuk mendapatkan hasil. Yang penting kita jeli membidik pasar, pasti semuanya beres. Bahkan, keuntungan yang kita dapat terkadang lebih baik dibandingkan tenaga yang kita keluarkan. Contohnya ya bisnis aksesoris yang saya tekuni sekarang. Karena saya suka dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan fesyen, otomatis saya juga suka menjalani bisnis ini.

Sistem bisnis yang anda jalankan sekarang seperti apa?

Sejak kuliah saya sudah mulai jualan aksesoris. Saat itu yang saya jual berdasarkan tren saja. Ya kalau tas sedang tren, ya saya jualan tas. Kalau sedang tren kalung, gelang atau anting manik-manik ya saya jual aksesoris sejenis itu. Saat itu saya menjualnya hanya pada teman-teman kuliah. Sedangkan sekarang jauh lebih luas. Karena sudah tidak dituntut kuliah dan tuntutan-tuntutan lainnya. Kebetulan saat ini saya juga mengelola kantin di sebuah sekolah SMA di Surabaya. Jadi sangat mendukung bisnis yang sedang saya jalankan. Saat ini, untuk beberapa barang saya mengambil dari Bandung, Jakarta atau Yogjakarta. Misalnya tas, sandal, sepatu atau baju. Keinginan saya adalah langsung mengambil dari pembuatnya sehingga saya bisa memesan model sesuai dengan yang saya inginkan. Untuk saat ini, saya hanya bisa mengambil dari orang kedua. Jadi keuntungan dibagi dua. Kalau aksesoris pin, bros atau stiker, biasanya saya yang mendesain sendiri, lalu pengerjaan saya berikan pada orang lain. Ada yang dikerjakan di Surabaya, tapi ada juga di Bandung. Tergantung hitung-hitungan bisnisnya saja. Untuk akhir-akhir ini, yang sedang tren adalah aksesoris kalung, gelang atau anting dari batu-batuan atau manik-manik. Untuk aksesoris seperti ini, saya beli bahan bakunya dari Pasar Turi atau Pasar Atom Surabaya. Lalu saya dan beberapa teman dan saudara merangkainya. Nanti barang-barang itu saya titipkan di beberapa koperasi sekolah di SMA atau counter-counter aksesoris.

Ide mendesain barang-barang yang akan dijual itu berasal dari anda?

Itu tadi yang saya bilang, keuntungan saya mempunyai kantin di sebuah sekolah SMA dan mempunyai banyak kenalan teman-teman di koperasi sekolah SMA. Dari sanalah saya sering mengamati tingkah polah anak-anak kalau sedang di koperasi. Tidak jarang saya sering berdiskusi dengan mereka, apa yang mereka inginkan. Terkadang saya juga menerima pesanan barang-barang tertentu untuk hadiah ulang tahun atau bingkisan-bingkisan lainnya. Tidak hanya itu, supaya nyambung dengan apa yang mereka omongkan, saya juga harus gemar membaca majalah atau tabloid tentang anak muda. Bahkan sering juga saya menonton film yang sedang digemari oleh anak-anak muda. Dari sanalah saya bisa memperoleh ide membuat rancangan barang tertentu.
(Pewawancara: Wuri Wigunaningsih)

Sistem Pendidikan Kita Melahirkan Hitler Baru

Hartanto
Remaja muda identik dengan aktivitas mencari kesenangan diri. Dunia muda selalu dikaitkan dengan waktu luang, kebebasan dan semangat pemberontakan. Tak sadar, media massa dan industri telah menciptakan kebutuhan remaja demi kepentingan pasar. Alhasil, lahan “basah” mampu dihasilkan dari perkawinan bisnis tersebut. Siapakah yang menjadi korban? Wartawan media mewawancarai budayawan Hartanto soal trend budaya populer yang melanda generasi masa depan penerus bangsa tersebut.

Bagaimana pandangan Anda terhadap budaya populer yang melanda generasi muda kita sekarang?

Pada prinsipnya semua budaya itu bagus, namun kita harus selektif terhadap budaya bangsa lain yang akan kita adopsi sebagai budaya kita. Masyarakat, terutama generasi muda cenderung kurang siap dalam mengadopsi budaya tersebut. Di jaman teknologi digital ini, beragam piranti mampu mempermudah tugas keseharian kita. Tapi dengan ketidaksiapan mengadopsi budaya global tersebut, justru akan mempersulit diri sendiri bahkan akan menggilas kita. Contoh, handphone. Piranti ini sekarang bukan dianggap sebagai barang mewah lagi. Apabila kita mampu menggunakan alat tersebut sesuai fungsi dan kebutuhan, tentu akan menguntungkan kita. Sebaliknya, jika tidak mampu, piranti tersebut akan menguras kantong (penggunaan pulsa) dan sarana pornografi (kasus skandal seks melalui kamera HP) serta korban kapitalisme global.

Apa penyebabnya?

Inilah kegagalan pemerintah menerapkan standar pendidikan nasional. Selama ini, pemerintah hanya menggenjot teori dan melupakan serum pendidikan tentang rasa dan budi pekerti. Manusia tidak dididik untuk lebih manusiawi dengan menggunakan hati nurani namun hanya mengejar standar kompetensi berupa kemampuan secara rasional semata. Penerapan sistem tersebut hanya akan melahirkan Hitler-Hitler masa kini yang turut mewarisi Hitler jaman dulu. Lihat saja kasus IPDN yang telah melahirkan Hitler kecil. Anak-anak sekolah hanya dibebani dengan buku diktat yang super berat. Mereka tidak pernah dididik agar bersih hati malah tambah besar kepala.

Solusinya?

Salahkan pemerintah lagi. Pengambil kebijakan yang telah kita percaya sebagai representasi rakyat jangan cuma omong doang, koar-koar menyejahterakan rakyat namun hasilnya masyarakat tambah melarat. Pemerintah kurang peduli terhadap pendidikan kita. Buktinya, anggaran pendidikan 20% pun masih belum bisa dipenuhi, malah menggalakkan pembangunan fisik yang terkadang malah rusak akibat kerusakan massal terkait sengketa pribadi atau aparat yang tidak bertanggungjawab terhadap kinerjanya. Uang rakyat hanya dihabiskan untuk bangun ini dan itu, sementara pembangunan mental cuma isapan jempol. Di jaman Bung Karno, pemerintah ada subsidi buku meski itu bantuan Rusia. Sekarang, pemerintah malah getol menggiatkan pajak kertas, pajak buku dan pemotongan royalti penulis. Bagaimana masyarakat bisa sejahtera sementara akses ilmu pengetahuan ditutup? Apakah kita akan membenarkan, orang miskin dilarang sekolah?
Sekarang kita harus berusaha mengangkat bahu bersama-sama. Pemerintah sebagai pemegang kebijakan harus peduli terhadap pendidikan masyarakatnya. Minimal dana APBD bisa dialokasikan untuk pembangunan perpustakaan untuk masing-masing sekolah, banjar atau desa. Jangan pusatkan ilmu pengetahuan mengendap di kota saja. Masyarakat desa dan pelosok juga berhak atas informasi tersebut. Hapus biaya pajak-pajak itu. Bali Mangsi juga sedang menggagas proyek sumbangan buku untuk anak-anak di Bali dan seluruh Indonesia. Dengan demikian, masyarakat dapat mengakses ilmu pengetahuan dengan mudah dan murah. Minat membaca kembali meningkat dan tingkat kecerdasan juga melesat. Angka kriminalitas dan problematika sosial bisa ditekan serta budayakan tradisi dialog bukan adu mulut apalagi adu otot.
(Pewawancara: Didik Purwanto)

BODATA:
Nama : Hartanto
TTL : Solo, 12 November 1958
Aktivitas : Direktur Rumah Budaya Bali Mangsi (1996-sekarang)
Alamat : Jl Satelit 17 Denpasar, Telp (0361) 236442, HP. 08155705569

Pemerintah Tidak Tegas Tindak Pelaku Pencemaran

Bambang Mei Finarwanto
Pembuangan limbah hasil sisa olahan industri, rumah tangga maupun limbah hotel telah terjadi secara umum dan banyak menimbulkan dampak (bencana) bagi masyarakat. Tidak terkecuali di NTB, persoalan limbah, kelestarian lingkungan dan terjaganya ekosistem alam yang menguntungkan juga banyak menjadi sorotan dan pembahasan. Bagaimana persoalan limbah dan lingkungan di NTB secara umum, berikut petikan wawancara dengan Bambang Mei Finarwanto, pemerhati lingkungan dan Dewan Daerah Wahana Lingkungan Hidup NTB.

Bagaimana Anda melihat persoalan limbah di NTB?

Limbah-limbah hotel Senggigi ada indikasi dibuang di sekitar kawasan hutan Pusuk, Lombok Utara baik sampah industri maupun bahan B3 (limbah beracun). Sementara di kawasan pesisir, limbah banyak dibuang perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang batu apung.

Bagaimana peran pemerintah daerah?

Sebenarnya kita berharap banyak peran yang dilakukan oleh Bapedalda maupun BPM LH (Badan Penanaman Modal Lingkungan Hidup) sebagai salah satu instrumen untuk mengawasi maupun mencegah terjadi kerusakan lingkungan oleh masyarakat maupun pelaku industri. Tetapi pengamatan kami, faktanya BPMLH maupun Bapedalda tidak bisa berbuat banyak terhadap persoalan-persoalan.

Penyebabnya?

Karena tidak adanya keberanian dari aparat pemerintah untuk menindak tegas pelaku pencemaran ini. Kedua ada semacam westert in interest antara pemerintah dengan pelaku pencemaran. Persoalan semacam ini kemudian menjadi sangat rumit ketika hukum lingkungan diimplementasikan. Sebenarnya aturan-aturan yang menjerat pelaku pengrusakan lingkungan ini cukup banyak aturan hukum yang melindungi. Misalnya UU Lingkungan Nomor 23/1997 tentang UU Pokok LH, PP Nomor 27/1999 tentang Amdal. Aturan-aturan itu sebenarnya upaya untuk melindungi alam maupun lingkungan yang ada dari segala macam kerusakan. Tapi nyatanya sejumlah instrumen itu tidak dilakukan secara optimal dalam menindak pelaku pencemaran kerusakan lingkungan.

Bagaimana konteks pencemaran limbah di NTB?

Ada dua hal. Pertama, pencemaran yang disebabkan oleh kegiatan-kegiatan rumah tangga, dengan adanya pembuangan sampah dan sebagainya. Kedua, pencemaran pelaku industri skala menengah dan besar. Rata-rata permasalahan masyarakat terhadap pencemaran lingkungan masih rendah. Terbukti misalnya, 10-15 tahun lalu kualitas air sungai di kota Mataram jauh lebih bagus dibanding sekarang. Sekarang airnya sudah keruh, sampah menumpuk di mana-mana. Sementara kesadaran masyarakat di sekitar DAS (daerah aliran sungai) juga rendah, bagaimana mengamankan sungai menjadi tidak tercemar dan sebagainya. Padahal sungai jadi urat nadi bagi semua pihak.

Apakah kawasan ekosistem di pesisir sudah tercemar parah?

Benar, di kawasan pesisir juga terjadi hal yang sama. Selain batu apung juga kegiatan industri pertambangan dan sebagainya. Hal semacam ini bisa mempengaruhi secara bertahap kerusakan lingkungan yang ada kalau tak ditangani secara optimal. Sebenarnya kondisi ini bisa kita minimalkan kalau ada semacam kesadaran kolektif dan sikap tegas aparat dalam mengamankan aturan yang mengatur tentang UU LH ini.

Bagaimana dengan kuantitas dan kualitas mata air di Lombok?

Ya, kita lihat kualitas mauipun kuantitas mata air di Lombok ini rata-rata sudah menurun. Karena adanya penebangan liar (illegal logging). Kalau kerusakan-kerusakan sebagai penyebab kurangnya air ini dibiarkan, akan mempengaruhi kerusakan secara keseluruhan. Karena kerusakan di suatu wilayah akan mempengaruhi kerusakan di wilayah lain. Karena yang namanya lingkungan merupakan satu sistem utuh yang saling terkait satu dengan yang lain. Contohnya di kota Mataram, kualitas air sudah berubah, karena pencemaran yang dilakukan oleh masyarakat dan juga akibat industri meningkat sehingga volume pencemaran meningkat pula.

Pelaku pengrusakan lingkungan kok tak dihukum berat?

Kita hingga saat ini belum mendengar pelaku pengrusakan lingkungan diberi hukuman setimpal sesuai yang diamanatkan UU 23/1997, Tapi sebaliknya yang terjadi pemerintah tidak bisa berbuat banyak untuk menghukumnya. Tapi saya melihat isu lingkungan belum dijadikan semacam isu pokok dalam pembangunan. Jika isu lingkungan dijadikan isu sentral, akan sangat bagus bagi pemulihan rehabilitasi ekosistem yang ada di NTB. Karena kita tak mungkin mewarisi kerusakan lingkungan pada generasi berikutnya. Kita punya tanggung jawab moral untuk itu.

Solusinya bagaimana?

Pemerintah dan pelaku usaha melakukan komitmen untuk sama-sama memerbaiki kondisi lingkungan sekitarnya, guna memperkecil tingkat kerusakan lingkungan akibat industri yang dijalankan seperti usaha batu apung harus dipikirkan dampaknya sebelum dibuang ke sungai, laut dan tetap mengacu pada UU Pokok Linglungan Hidup.
Untuk mengatasi limbah sampah rumah tangga, pemerintah bisa mengupayakan pengolahan sampah agar bisa bermanfaat dan bernilai ekonomis. Masyarakat diberi kesadaran bahwa sampah yang dibuang bisa mendatangkan hasil.
Upaya bersifat pragmatispun bisa dilakukan, seperti budaya lama gerakan gotong-royong, seperti di Lombok Barat ada gerakan Jumat Bersih. Kegiatan-kegiatan seperti ini perlu dihidupkan kembali. Untuk itu bagaimana kita menjadi pelopor lingkungan namun tidak secara parsial, namun tetap dilakukan secara kontinyu dan berkesinambungan. Contoh lain yang bisa dilakukan yakni dengan penanaman 1000 pohon, tidak hanya sebatas menanam, tapi juga harus merawat, tidak simultan, tak bisa menilai keberhasilan dan kita masih punya waktu, mumpung di NTB ini persoalan lingkungan tak begitu parah seperti di Bangka Belitung.
(Pewawancara: Hernawardi)

BIODATA:
Nama : Bambang Mei Finarwanto
Pendidikan terakhir : Fakultas Hukum Universitas Mataram Tahun 1996
Pengalaman Organisasi :
- Eksekutif Daerah (ED) Walhi NTB (1996-2002)
- Dewan Daerah WALHI NTB (2002-2005)

EM Efektif Atasi Limbah Industri

Irkham Rosidi, SP
Pengelolaan limbah organik padat dan cair dengan teknologi Effective Microorganism (EM) merupakan teknologi konversi secara biologis dengan cara fermentasi yang dapat menghasilkan EM Bokashi. Jika proses fermentasi berlangsung dalam penguraian bahan organic, maka pembentukan bau busuk dan panas dapat dikurangi atau dihilangkan sama sekali dalam waktu yang singkat. Berikut penuturan Irkham Rosidi, Kepala Cabang PT Songgolangit Persada (SLP) kepada wartawan Koran Pak Oles.

Bagaimana cara kerja EM dalam mengatasi pengolahan limbah di sektor industri?

Pengolahan limbah dengan teknologi EM sangat sederhana, bisa dilakukan pada sektor industri besar sampai terkecil bahkan sampai pengolahan limbah skala rumah tangga (dengan EM Toilet), bisa padat maupun cair. Cara yang harus dilakukan adalah membuat larutan EM aktif dari satu liter EM menjadi 20 liter EM aktif yaitu campurkan satu liter EM4, satu liter molase (gula merah/ gula pasir) dan 18 liter air yang difermentasi selama seminggu serta ditutup rapat, tiap hari dibuka selama lima menit untuk penyegaran. Apabila kadar BOD maksimal 200 ppm, satu liter EM aktif dapat digunakan untuk 20 m3 air limbah. Cairan ini dapat langsung disemprotkan di tempat pengolahan limbah ataupun septic tank.

Apakah kalangan swasta terutama perhotelan tertarik untuk mengaplikasikan pengolahan limbah dengan teknologi EM?

Dalam dunia perhotelan dan industri lainnya banyak terjadi dinamika. Jika hotel berganti manajemen, maka berganti pula kebijakannya. Saat ini ada 34 industri perhotelan atau rumah makan yang telah memakai teknologi EM untuk pengolahan limbahnya. Di antaranya Hotel Alam Kul-Kul, Hotel Bali Hai, Hotel Jatra, Papa’s café, Hotel Risata (Kuta), Sanur Paradise, Mercure, Griya Santrian (Sanur), Hotel Aston Nusa Dua dan Hotel Komaneka Ubud. Mereka ada yang beli putus dan ada pula yang memerlukan pendampingan hingga beberapa bulan sampai ada teknisi yang mampu mandiri mengolah limbah tersebut. Misalnya Hotel Aston yang per hari mampu menghasilkan limbah cair 200-300 m3, hasil limbah mampu dipakai kembali sebagai penyemprot tanaman. Hal ini bisa mengefisienkan penggunaan air karena limbah tersebut telah memenuhi standar baku mutu limbah. Sedangkan Hotel Melia Tanjung Benoa mampu membuat kompos dari limbah sayuran dan mampu meningkatkan kualitas air dengan campuran EM aktif tersebut. Biasanya hotel-hotel di Nusa Dua dan sekitarnya seharusnya tidak perlu pusing-pusing lagi mengelola limbahnya karena telah ditangani oleh BTDC (pihak pengembang di kawasan tersebut), namun karena pengelolaan limbah kurang serius, pengelolaan limbah bisa dilakukan oleh pihak hotel sendiri. Lain lagi dengan pabrik pengolahan anggur di Penyalin, Tabanan yang dijadikan minuman keras dan sempat mendapat pertentangan dari masyarakat Bali ini. Walau masih operasional sekitar 10%, limbah cair bisa mencapai 30 m3 per hari. Bayangkan jika perusahaan miras tersebut beroperasi 100%, bagaimana limbahnya?

Apa kendala memasarkan EM?

Selama ini pemilik industri masih memandang sebelah mata tentang teknologi EM ini. Mungkin masih banyak yang kecewa terhadap produk pengolah limbah sebelumnya dari kompetitor lain, ketidakefektifan hasil dan harga. Sehingga kita lebih gencar memberikan uji coba langsung di tempat pengolahan limbahnya agar manfaat teknologi ini mampu dirasakan secara langsung oleh pemegang kebijakan di industri tersebut. Pemerintah pun sampai sekarang belum ada greget untuk mengatasi pembuangan limbah industri dan sektor rumah tangga. Namun pada prinsipnya, semua limbah yang dihasilkan harus melalui beberapa langkah pengolahan sebelum dibuang ke lingkungan atau kembali dimanfaatkan dalam proses produksi.
(Pewawancara: Didik Purwanto)

BIODATA:
Nama : Irkham Rosidi, SP.
TTL : Pemalang, 9 Mei 1977
Jabatan : Kepala Cabang PT Songgolangit Persada Wilayah Bali & NTB
Pendidikan : Fakultas Pertanian Universitas Udayana (2002)
Alamat : Jl Taman Sari Abiansemal Badung, HP 08123818234

Lapindo Bisa Dijerat UU Anti Teroris

Dr H Suprapto Wijoyo SH MH
Tanggal 29 Mei, genap satu tahun masyarakat Porong, Sidoarjo menderita akibat lumpur panas yang menenggelamkan rumah-rumah mereka. Kasus Lapindo ini, telah mengganggu roda perekonomian Provinsi Jawa Timur karena sarana dan prasarana vital rusak oleh lumpur yang konon akan berhenti sendiri setelah 30 tahun menyemburkan lumpur.
Pengamat lingkungan dan dosen Hukum Lingkungan FH Universitas Airlangga Surabaya Dr H Suprapto Wijoyo SH MH, menilai kasus Lapindo adalah bukti kegagalan negara melindungi tanah tumpah darah Indonesia. Jika dilihat dari aspek pidana, kasus Lapindo bisa dijerat oleh UU Anti Teroris karena mengakibatkan korban jiwa yang sifatnya massal. Siapa sebenarnya yang harus bertanggung jawab dengan kejadian ini? Pemerintah atau Lapindo? Yang kita herankan, mengapa DPRD Sidoarjo dan Jawa Timur bahkan pusat tidak melakukan hak interpelasi tentang kenerja pemerintah dalam mengatasi kasus Lapindo. Apakah masyarakat Porong tidak termasuk warga negara pemerintah Indonesia? Berikut petikan wawancaranya;

Kerja Timnas Penanggulangan Lumpur sudah berakhir dan dibentuk BPLS (Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo). Apakah ada perbedaan visi di antara kedua tim ini?

Kita lihat dulu siapa yang menjadi anggota Timnas dan siapa yang mendanai Timnas. Keanggotaan Timnas salah satunya adalah menteri. Sedangkan semua pengoperasian Timnas, dibiayai oleh Lapindo. Dengan demikian, Lapindo berada di atas negara. Seharusnya, Timnas harus diaudit. Tidak seperti sekarang, dengan gampangnya dibubarkan tanpa ada tanggung jawab sama sekali. Dengan demikian, negara kita ini tidak berharga. Sedangkan aparatur tidak bertabiat. Kalau aparatur tidak bertabiat, otomatis hukum juga tidak bermartabat. Sesungguhnya, BPLS setali tiga uang dengan Timnas.

Kenapa dalam kasus Lapindo ini dikatakan hukum tidak bermartabat. Bukankah selama ini Lapindo sudah diperkarakan di meja hijau?

Yang memperkarakan ke meja hijau itu kan Walhi. Bukan pemerintah. Padahal seharusnya pemerintah yang mengajukan hukum. Kalau ditelusuri dengan jeli, kasus Lapindo ini bisa dijerat dengan UU Anti Teroris. Salah satu syarat bisa dijerat UU Anti Teroris adalah kejahatan massal. Sedangkan sebuah kejahatan dikatakan kejahatan massal, jika mengakibatkan korban yang sifatnya massal. Kemudian hancurnya sarana dan prasarana vital di daerah tersebut. Kasus Lapindo, sudah termasuk dalam kasus kejahatan lingkungan yang mengakibatkan korban massal. Yaitu berupa masyarakat yang kehilangan rumah-rumahnya sehingga menjadi pengungsi serta hancurnya sarana dan prasarana. Mulai jalan raya, kereta api, listrik dan air minum. Tidak hanya itu. Menghancurkan masa depan sebuah masyarakat juga termasuk dalam kejahatan massal. Dengan demikian, sudah seharusnya Lapindo diperkarakan secara pidana. Tidak hanya orang yang merencanakan pengeboman saja yang dijerat UU Anti Teroris.

Apa alasan pemerintah tidak memperkarakan Lapindo di meja hijau?

Ya itulah pemerintah negara kita ini merasa tidak dirugikan dengan kasus Lapindo. Padahal sudah banyak yang dirugikan dengan kasus Lapindo ini. Dengan ini berarti terjadi kemandekan tanggung jawab pemerintah pada tanah air, bangsa dan negara. Hal ini juga berarti pemerintah gagal melindungi tumpah darahnya. Padahal UUD 1945 menyebutkan, pemerintah harus melindungi bangsa dan negara. Berarti pemerintah gagal dalam melindungi sumber daya manusia. Padahal pemerintah mempunyai wewenang untuk melindungi bangsa dan negara. Sekarang apakah Porong bukan termasuk tumpah darah Indonesia. Apakah masyarakat Porong bukan manusia yang termasuk dalam warga negara Indonesia? Kasus Lapindo ini, selain harus diselesaikan secara pidana, juga harus diselesaikan dengan secara politik. Karena banyak unsur yang harus diselesaikan dalam kasus Lapindo ini.
(Pewawancara: Wuri Wigunaningsih)

BIODATA:
Nama : DR H Suprapto Wijoyo SH MH
TTL : Lamongan, 28 Oktober 1968
Nama Istri : Hj Chamimah SH
Anak : Ananda Azhari Hidayat Fikri
Jabatan :
- Dosen Hukum Lingkungan, Administrasi dan Otonomi Daerah Unair
- Anggota tenaga ahli/dewan pakar pengelolaan lingkungan hidup Jatim
- Lembaga penyedia jasa pelayanan penyelesaian sengketa lingkungan Jatim

Orangtua Merasa Nyaman Di Tengah Keluarga

Ike Herdiana SPsi
Tingginya mobilitas masyarakat usia produktif di perkotaan, bisa mengakibatkan berkurangnya perhatian yang diberikan anak pada orangtuanya. Selanjutnya orangtuapun merasa tidak berguna, terbuang dan tidak punya harga diri. Di kota-kota besar, salah satu pilihan supaya para orangtua yang ditinggal anak, menantu dan cucunya ini beraktifitas dan tidak kesepian, mereka putuskan untuk tinggal di panti jompo atau panti wreda. Yang pasti budaya Indonesia masih memandang tidak pantas jika orangtua dititipkan di panti jompo. Sementara itu, baik dilihat dari sisi positif maupun negatif, yang terbaik dan demi kenyamanan orangtua, lebih baik mereka tinggal di tengah keluarga sendiri. Selain karena budaya kita masih menjunjung tinggi nilai-nilai luhur, dengan memelihara sendiri orangtua sampai mati adalah bentuk pengabdian anak pada orangtuanya. Berikut wawancara Ike Herdiana SPsi, dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya seputar kejiwaan manula yang dititipkan anak di panti jompo.

Tren anak-anak di kota besar menitipkan orangtua mereka di panti jompo pertanda terjadi pergeseran budaya?

Saya kurang sependapat kalau menitipkan orangtua di panti jompo menjadi sebuah tren di tengah masyarakat kita. Kalau dikatakan terjadi kenaikan jumlah penghuni dan jumlah panti jompo saya setuju. Dari data yang pernah saya baca, tidak lebih dari 2 % jumlah manula yang tinggal di panti jompo, dibandingkan jumlah manula yang ada di Indonesia. Dari dulu, menitipkan orangtua di panti jompo sudah ada. Terutama bagi mereka yang tidak punya keluarga. Cuma jumlahnya sekarang lebih banyak dibandingkandahulu, khususnya di perkotaan. Karena mobilitas masyarakat perkotaan sangat tinggi sehingga perhatian pada orangtuanya kurang. Tapi hal seperti ini tidak terjadi di pedesaan. Karena budaya kita masih memandang tidak baik atau kurang sesuai jika menitipkan orangtua di panti jompo. Selain itu, aktifitas masyarakat pedesaan tidak setinggi masyarakat kota.

Bagaimana budaya masyarakat Jawa memandang keberadaan lansia di tengah keluarga atau masyarakat?

Budaya kita masih menjunjung tinggi nilai-nilai luhur nenek moyang.
Sehingga orangtua yang sudah tua, ya seharusnya dipelihara anaknya sampai
mati. Termasuk ketika mereka sakit dan tidak bisa melakukan aktivitas
apapun juga. Merawat orangtua yang sudah sakit sudah menjadi kewajiban
anak pada orangtuanya. Tindakan ini sebagai bentuk balas budi anak pada
orangtua yang telah membesarkan mereka. Tapi karena situasi dan kondisi
yang tidak memungkinkan, misalnya anak, menantu dan cucunya sibuk
bekerja, para orangtua ini ditinggal sendiri di rumah. Akhirnya si orangtua
ini merasa sendiri, tidak berguna dan tidak punya harga diri. Bagi
mereka yang mampu ada yang menyewa perawat untuk menemani di rumah. Tapi ada juga, atas permintaan para orangtua ini sendiri, untuk tinggal
di panti jompo. Budaya kita yang mengharuskan merawat orangtua kita sampai
mati, sesungguhnya seperti budaya Cina. Orang Cina terkenal sebagai
seorang yang pekerja keras. Untuk menghargai hasil kerja keras orangtua, para
anak akhirnya memelihara orangtua mereka sebaik-baiknya. Semakin sukses
anak-anak mereka, penghargaan yang diberikan pada orangtua mereka juga
semakin besar. Karena itulah, orang Cina yang sudah tua, umumnya
dipelihara oleh perawat yang banyak. Sangat jarang orang Cina yang sudah tua
dititipkan di panti jompo.

Apa sisi positif dan negatif jika kita menitipkan orangtua di panti
jompo?

Jika melihat orangtua yang dititipkan dipanti jompo, kita tidak bisa melihat dari satu sisi saja. Kita melihat dua sisi tersebut tentunya dari kacamata orang luar. Bukan dari kacamata kita atau kacamata orangtua kita. Bila dilihat dari sisi negatif, orangtua tersebut seperti orang yang tidak berguna, tidak diakui keluarga, tidak dihargai atau tidak punya harga diri. Sepertinya anak tidak memperhatikan orangtua dan tidak tahu balas budi. Pandangan seperti tentu saja tidak lepas dari budaya masyarakat kita yang masih memandang jelek orangtua yang dititipkan di panti jompo. Tapi kalau kita memandang sisi positif, sesungguhnyya banyak juga. Di antaranya mereka punya teman sebaya. Jadi orangtua kita juga bisa bersosialisasi dengan baik. Selain secara mental mereka akan sehat, secara fisik juga akan sehat. Mereka tidak akan merasa kesepian atau tidak berguna. Kegiatan di panti jompo juga banyak yang bermanfaat. Mereka mendapat siraman rohani yang baik. Kemudian kegiatan-kegiatan menghibur lainnya. Seperti menyanyi atau menari. Jika mental dan fisik mereka
terpelihara dengan baik, meskipun kesempatan hidup mereka panjang, tapi
mereka merasa tetap bermanfaat.

Dengan menitipkan orangtua di panti jompo akan merenggangkan
hubungan antara orangtua dan anak?

Sekarang tergantung dari panti jomponya. Yang saya tahu, di panti jompo itu ada aturan, jika orangtua ingin pulang, keluarga tidak boleh menolak. Kapanpun juga. Demikian juga dengan pihak keluarga. Kapanpun juga, mereka harus menerima dan tidak boleh menolak, jika orangtua mereka minta pulang ke rumah. Dengan demikian, hubungan kekeluargaan mereka tidak akan putus. Selain itu, ada waktu kunjungan keluarga di luar waktu-waktu istirahat mereka. Misalnya Sabtu atau Minggu. Kemudian ada waktu di mana pihak keluarga wajib membawa keluar atau jalan-jalan orangtua mereka jika orangtua memang menginginkannya. Tapi apapun yang terjadi, sesungguhnya orangtua jauh lebih aman dan nyaman bila tinggal di tengah keluarganya.
(PEWAWANCARA: WURI WIGUNANINGSIH)

BIODATA:
Nama: Ike Herdiana SPsi
Pendidikan: S1 Fakultas Psikologi Universitas Pandjajaran. Sedang menempuh S2
Pekerjaan: Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga.

Jangan Durhaka Kepada Orang Tua

Ustadz muda, Dedi Aslam

Berdalih kesibukan, tren anak jaman sekarang lebih suka menitipkan orang tuanya ke panti jompo. Simak penuturan ustadz muda, Dedi Aslam terkait hal tersebut.

Bagaimana pandangan agama Islam terhadap kasus di atas?

Berarti anak belum siap menerima kondisi orang tuanya seperti itu. Seharusnya kita perlu mengingat jasa orang tua yang telah bertaruh nyawa untuk mengandung, melahirkan bahkan merawat hingga dewasa. Belum lagi arahan dan pembinaan budi pekerti yang sejak kecil telah ditanamkan. Ada hadits yang mengatakan, “Sangat rugi seseorang apabila ia masih hidup dengan orang tuanya tapi tidak mengantarkannya ke dalam surga”. Hadits ini menegaskan bahwa tanggung jawab anak kepada orang tuanya adalah berbakti dan menuntunnya ke jalan kebaikan (surga) seperti orang tua mengajarkan kepada anaknya dulu. Jika ada anak yang menitipkan orang tuanya ke panti jompo berarti anak tersebut tergolong anak durhaka, anak yang tidak berbakti kepada orang tua.

Kenapa bisa sampai pada hukum durhaka?

Karena sang anak telah lupa bagaimana sang ibu merawatnya dari mengandung, buaian, menikah bahkan sampai menjelang ajal menjemputpun orang tua akan tetap mendampingi putra-putri tercintanya. Seperti dalam sebuah lagu, kasih sayang orang tua tak ada batasnya laksana sang mentari menyinari alam semesta. Jika sedemikian besar pengorbanan orang tua terhadap anak, tak ada balasankah (balas budi) kepada orang tua tercintanya?

Lantas apa wujud baktinya?

Bakti anak kepada orang tua tentu banyak sekali. Di antaranya bagaimana membahagiakan mereka (bukan dengan materi yang berlimpah), berbuat baik, menebarkan nilai-nilai postif dan menemani tatkala sakaratul maut. Pada saat akhir hayat tersebut, orang tua tentu sungguh ingin berada di samping orang-orang tercinta dan orang yang paling terdekat dengannya tak lain adalah anaknya sendiri. Bahkan tatkala orang tua telah tiada, sang anak juga berkewajiban untuk mendoakan agar diberi keselamatan dan ketenangan dalam kubur. Ada tiga amalan yang tidak akan habis sampai menjelang hari penghitungan (kiamat) yaitu ilmu yang bermanfaat, shodaqoh jariyah dan anak yang sholeh. Hal yang terakhir adalah investasi tiada tara yang mampu menyelamatkan orang tua dari adzab api neraka. (Pewawancara: Didik Purwanto)

BIODATA:
Nama : Dedi Aslam
Tempat/tgl lahir : Klungkung, 12 Oktober 1974
Pendidikan :
D3 Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab LIPIA Jakarta (1996-1999)
S1 Pendidikan Agama Islam di STAIQ Denpasar (sekarang)
Pengalaman Organisasi dan Pekerjaan:
Manager Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Harum Sejahtera (sekarang)
Dosen Agama Islam STAIQ Denpasar (2004-sekarang)
Owner Susu Kedelai “Alami” Klungkung (sekarang)
Wakil Kepala Kampung Muslim Lebah Klungkung (sekarang)
Sekretaris Nuansa Persaudaraan Muslim Al Mannar Jakarta (1996-2001)
Alamat: Jl. Diponegoro 125 Klungkung Bali Telp. (0363) 22079

Tidak Semua Tanaman Obat Aman Dikonsumsi

Prof. Dr.dr. Arif Adimoelja MD.MSc.PhD
Efek negatif dari mengkonsumsi obat-obatan kimia, membuat masyarakat kembali pada pengobatan alternatif berbasis ramuan tradisional. Pengobatan menggunakan bahan-bahan dari alam atau tanaman obat ini kini naik daun. Tapi tidak selamanya tanaman obat tersebut semua bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit. Bahkan ada bahan tanaman tertentu yang bisa meracuni tubuh. Selain untuk mengobati penyakit, saat ini banyak tanaman obat yang digunakan untuk meningkatkan gairah seksual. Tanaman apa saja yang mampu meningkatkan gairah seks atau menyembuhkan penyakit sekaligus berbahaya bagi tubuh, berikut wawancara singkat dengan pakar andrologi dari RS Hangtuah Surabaya, Prof.Dr.dr.Arif Adimoelja MD.MSc.PhD.

Mengapa tren pengobatan tradisional kini diminati masyarakat?

Pada kenyataannya, bahan-bahan kimia memang sangat berbahaya bagi tubuh. Tapi jangan salah, tidak semua tanaman obat juga bermanfaat bagi tubuh manusia. Tapi tingkat berbahayanya jauh lebih besar dibandingkan tanaman obat. Pertama kali harus kita bedakan, antara obat tradisional, obat konvensional dan obat fitofarmasi.

Apakah perbedaan ketiga jenis obat tersebut?

Ketiga jenis bahan-bahan obat itu memang berasal dari tanaman obat. Tapi yang paling berbahaya adalah obat tradisional. Obat jenis ini berbahaya, karena cara pembuatannya tidak higienis atau tidak bersih. Misalnya akan membuat temulawak. Terlebih dahulu bahan dikeringkan di bawah sinar matahari. Kalau belum kering, bahan tersebut akan dimasukkan dalam rumah. Kalau ada panas, dijemur kembali. Tidak disadari, pengeringan dengan cara ini bisa memunculkan jamur yang sifatnya beracun. Akibatnya
tentu bisa meracuni tubuh kita. Belum termasuk dalam pengemasannya. Karena botol-botol yang digunakan umumnya botol bekas dan tidak terjamin kebersihannya. Obat tradisional biasanya dibuat secara manual di rumah-rumah, dan dipasarkan secara manual pula. Misalnya digendong atau dibawa sepeda. Sedangkan obat konvensional adalah obat yang dibuat dari tanaman obat, tapi sudah dikerjakan secara massal atau yang biasa disebut home industry. Proses pembuatannya biasanya sudah higienis dan bersih.
Di antaranya pengeringannya sudah menggunakan alat dan sudah dikemas secara higiens. Obat konvensional ini banyak kita temui di pasar. Misalnya dalam bentuk bubuk atau kapsul. Tapi kelemahan dari obat konvensional ini umumnya dicampur dengan bahan kimia. Jika dikonsumsi, tentunya akan berbahaya. Karena komposisi antara tanaman obat dan bahan kimia akan menimbuk efek lain bagi tubuh. Jenis obat inilah yang banyak
dirazia oleh BPOM. Sudah menjadi tanggungjawab BPOM untuk mengawasinya. Yang paling kecil akibat yang ditimbulkan bagi tubuh adalah fitofarmasi. Yaitu tanaman obat yang telah melalui uji klinik. Sehingga unsur-unsur kimia yang ada di dalamnya jelas dan manfaatnya juga jelas. Tapi obat jenis ini sangat sedikit jumlahnya, karena proses uji klinis memerlukan waktu yang cukup lama dan memerlukan biaya yang cukup banyak.
Pengujiannya pun tidak hanya sekali atau dua kali, tapi berkali-kali.

Bagaimana pembuatan obat fitofarmasi?

Obat jenis ini resikonya sangat kecil. Karena memang proses pembuatannya sangat higiens. Awalnya diteliti dulu, zat-zat apa yang terkandung dalam tanaman obat tersebut. Tanaman tersebut diekstrak terlebih dahulu. Setelah diekstrak, dapat dibedakan, zat-zat apa yang terkandung dalam bahan tersebut, baik itu zat-zat kimia maupun zat-zat tanaman obat. Jika dipisahkan antara kedua zat tersebut, hasilnya pasti akan beda. Jika
zat-zat kimia yang dipisahkan, tentu saja sudah termasuk bahan kimia dan tingkat bahayanya juga seperti bahan-bahan kimia lainnya. Tapi yang bagus adalah menyeimbangkan komposisi, sehingga dapat bermanfaat bagi tubuh. Sedangkan kemasannya bisa bermacam-macam. Ada dalam bentuk tablet, bubuk atau cairan.

Indonesia kaya akan tanaman obat. Apakah sebuah tanaman obat yang tumbuh di
berbagai macam daerah di Indonesia itu mempunyai manfaat sama?

Oh tidak sama. Sebut saja kunyit. Jenis kunyit yang tumbuh di Jawa
Timur, jelas berbeda dengan kunyit yang tumbuh di Jawa Tengah. Karena jenis
tanah tempat menanam berbeda. Kandungan tanah di masing-masing daerah
juga berbeda. Akibatnya tentu kandungan zat-zat yang ada di dalam kunyit
setiap daerah berbeda-beda. Jadi tidak bisa disamakan manfaat kunyit
dalam arti luas. Demikian juga dengan berbagai macam tanaman obat
lainnya.

Bagaimana dengan tanaman obat yang mampu meningkatkan gairah seksual
atau afrodisiaka?

Sesungguhnya tidak ada tanaman obat yang mampu untuk meningkatkan gairah seksual. Karena gairah seks itu ada karena hormon seks yang ada di dalam tubuh kita. Yang tepat sesungguhnya bukan untuk meningkatkan gairah seksual, tapi seks tonic yaitu membangkitkan kesegaran tubuh. Tubuh bisa segar, bila peredaran darahnya lancar. Orang yang sakit otomatis gairah seks yang turun, karena peredaran darah di dalam tubuhnya tersumbat atau tidak lancar. Misalnya orang yang terkena kencing manis,
kolesterol, asam urat atau berbagai macam penyakit lainnya.

Tanaman obat apa saja yang mampu menyegarkan tubuh?

Sesungguhnya tidak hanya pimpinella pruacen atau purwaceng saja. Banyak tanaman obat yang ada di sekitar kita mampu menyegarkan tubuh. Kalau purwaceng yang banyak
tumbuh di pegunungan Dieng Jawa Tengah dapat memberikan efek hangat pada tubuh. Tanaman obat lain yang dikenal mampu membangkitakan gairah seks adalah bawang putih yang mampu menurunkan kadar kolesterol dalam darah, sehingga secara tidak langsung dapat melenturkan pembuluh darah dan memperbaiki kelenturan pembuluh darah. Jahe juga dapat meningkatkan gairah seks. Apalagi bila dicampur dengan madu dan susu. Dalam ketiga bahan ini, banyak mengandung kalori yang bermanfaat bagi tubuh. Misalnya jahe bisa melebarkan pembuluh darah. Sehingga menimbulkan rasa hangat bagi tubuh. Jika diminum orang yang sedang sakit, tentu saja dia akan menjadi lebih sehat dan segar. Kalau dihubungkan dengan gairah seks, tentu saja gairah seksnya akan kembali segar. Bagi orang yang sehat, kalori yang ada di dalam bahan-bahan tersebut tentu saja mampu membangkitkan semua saraf yang ada di dalam tubuh. Salah satu di antaranya adalah saraf dan hormon seks. Dan hasilnya, setelah minum campuran susu, madu dan jahe, gairah seks akan meningkat.

Apakah tanaman obat cocok diminum bagi semua orang?

Tidak. Orang yang menderita penyakit tertentu tidak boleh mengonsumsi tanaman obat tertentu. Karena akibat yang ditimbulkan sangat berbahaya. Misalnya susu, madu dan jahe, jika dikonsumsi orang yang tidak menderita kolesterol sangat bagus. Tapi kalau dikonsumsi oleh mereka yang menderita kolesterol, jelas berbahaya. Karena kandungan yang terkandung dalam tiga bahan tersebut akan meningkatkan kadar kolesterol. Orang
kolesterol yang minum ini, bukannya sembuh, tapi malah cepat mati. Karena itu, masyarakat diharapkan untuk berhati-hati mengkonsumsi tanaman obat. (Pewawancara: Wuri Wigunaningsih)

BIODATA
Nama : Prof. Dr.dr. Arif Adimoelja MD.MSc.PhD
Tempat lahir : Wonosobo, 1933
Pendidikan : S 1 Fakultas Kedokteran Unair Surabaya, 1963
S 2 Sexsologi dan Pengembangan Keluarga di Belgia, 1972
S3 Adrologi di Belgia 1974
Mendapat gelar profesor dari hasil kerjasama Belgia dan Unair.
Pekerjaan : Guru Besar Andrologi FK Unair
Dokter Spesialis Andrologi RS Hangtuah

Merawat Lansia Butuh Ketulusan Dan Kesabaran

Muchlis Wawo
Mengasuh dan merawat orang lanjut usia (lansia) bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, karena memerlukan kesabaran, ketelatenan, kemauan, pengabdian, ketulusan dan keikhlasan. Jika pekerjaan ini dilakukan dengan keikhlasan dan ketulusan, maka pekerjaan merawat orang jompo menjadi menyenangkan. Jika pekerjaan ini tidak didasari dengan ketulusan dan keikhlasan niscaya sangat membosankan. Muchlis Wawo, Kepala Seksi Perawatan Dinas Bina Mental dan Spiritual dan Kesejahteraan Sosial, Panti Sosial Tresna Werdha Budi 3 Ciracas Jakarta Timur, adalah orang yang setiap hari bergelut dan merawat lansia. Berikut petikan wawancara soal suka duka merawat orang lansia.

Bagaimana suka duka merawat para penghuni panti jompo?

Merawat para jompo ini gampang-gampang susah. Perlu kesabaran dan ketekunan. Karena itu harus memiliki niat yang sungguh-sungguh, penuh pengabdian dan menganggap pekerjaan itu sesuatu yang mulia. Tanpa ada kesabaran pekerjaan ini tak akan menyenangkan.

Berapa karyawan yang merawat para lansia di panti jompo ini?

Panti jompo Ciracas menampung penghuni dengan kapasitas 125 orang warga binaan yang berusia 60 sampai 95 tahun. Dengan luas areal 8000 m2 terdiri dari 3 gedung utama , 1 gedung kantor dan lahan untuk berkebun. Warga binaan di sini terdiri dari 48 kali-laki dan 77 perempuan. Satu gedung dua lantai untuk penghuni laki-laki. Satu gedung berupa aula untuk binaan sosial dan kantin atau ruang makan. Dan satu gedung lagi untuk penghuni lansia perempuan dua lantai.

Bagaimana perekrutan penghuni panti jompo ini?

Penghuni panti jompo di sini sebagian besar tidak memiliki keluarga karena diambil dari jalanan, karena itu sangat membutuhkan kasih sayang. Mereka sangat senang sekali jika ada pengunjung yang datang, apalagi menyantuninya. Jika petugas di sini datang setiap hari, ia akan senang sekali. Begitu juga kami merasa senang.

Jadi itu merupakan bentuk hubungan baik dengan mereka?

Mungkin lebih jauh mereka kita anggap sebagai orang tua kita sendiri. Semua kita layani baik. Baik manula yang masih sehat, mereka yang sudah renta dan juga mereka yang sudah pikun dan sakit. Jika mereka sakit kita membawa mereka ke rumah sakit Budi Asih Jakarta Timur dan Husada Mulya di Cengkareng.

Apa biasanya penyakit yang mereka derita?

Ya biasa penyakit orang tua seperti asam urat, darah tinggi, encok, pegal-pegal dan lain-lain. Di sinilah biasanya mereka sangat membutuhkan kita. Mereka membutuhkan kasih sayang dari kita sehingga mereka merasa seperti dirawat keluarga sendiri.

Lalu apa sukanya merawat lansia?

Banyak kejadian lucu jika bersama mereka. Para lansia ini ulahnya seperti anak kecil dan ini sangat menghibur sekali.

Bagaimana menghibur mereka yang kelihatan sedih?
Ya tinggal di panti jompo mungkin ada jenuhnya. Mereka terkadang terlihat marah atau murung. Apalagi jika pihak keluarga tidak datang atau menelepon dalam seminggu. Tak jarang para perawat berpura-pura menelepon dan mengaku dari keluarganya, supaya seorang penghuni senang. Kami juga belikan kado, lalu bilang dari anaknya, kalau seseorang sedang berulang tahun. Sedikit berbohonglah.

Untuk makan bagaimana?

Bagi yang sedang sakit kita antarkan makanan dan rawat. Sedang yang sehat bisa mengambil sendiri di ruangan yang telah disiapkan. Kita juga menyediakan lahan bagi mereka yang ingin berkebun, kegiatan senam dan kegiatan rohani seperti pengajian 3 kali seminggu. Dari 125 ada sekitar 20-an lebih mereka yang beragama di luar Islam bahkan ada yang keturunan Cina.
Selain berkebun juga disuguhkan ketrampilan tangan seperti membuat besek (tempat nasi) dan juga pot kembang. Hal ini untuk menghilangkan rasa jenuh. Memang ada juga yang kita pajang hasil karya mereka, tapi bukan itu tujuan kita. Tetapi hanya memberikan kesibukan kepada mereka agar tidak jenuh.

Berapa orang lansia yang benar-benar dititipkan keluarganya?

Yang benar-benar dititipkan oleh masyarakat biasa keluarga yang kurang mampu. Ada sekitar 15 orang. Mereka yang dititipkan juga tidak bayar. Di tempat ini semuanya tidak bayar, gratis. Jika mereka meninggal dunia kita masih urus termasuk kerjasana dengan kantor pemakaman DKI Jakarta kecuali jika kelurganya meminta untuk dipulangkan.

Apa ada kegiatan lain agar para lansia tak jenuh?

Untuk hiburan ada musik-musik untuk mereka bernyanyi. Dengan kegiatan ini penghuni di panti ini merasa senang. Apalagi suasana di sini sangat menyenangkan karena mereka mempunyai teman.
(Pewawancara: Agus Salam)

Zakat Solusi Kemiskinan Umat

Ustadz Dr Wijayanto, MA
Manusia yang kuat adalah manusia yang seimbang antara jasmani dan rohani. Manusia yang kuat dicintai Tuhan karena dapat membagi kebaikan yang dimilikinya bagi kesejahteraan sesama. Berikut petikan wawancara dengan Ustadz Wijayanto, pengasuh Sentuhan Qalbu di beberapa stasiun televisi swasta yang ditemui oleh wartawan Koran Pak Oles di sela kegiatan pengajian donatur Lembaga Amil Zakat Dompet Sosial Madani Bali di Hotel Nikki, Sabtu (24/3):

Bagaimana Anda memandang kaum fakir miskin (dhuafa) di negeri ini?

Sabda Rasul, bahwa Allah akan menolong kita. Nyatanya Indonesia ini perlu pertolongan Allah. Kita akan masuk surga, hidup kita yang langgeng, baik dan sejahtera juga atas kasih sayang Allah. Keberkahan rezeki karena rezeki yang diminta bukan karena banyaknya tapi berkahnya, itu dijanjikan langsung oleh Allah kalau kita dekat dengan kaum miskin (dhuafa). Bahkan Indonesia belum diadzab sedemikian rupa oleh Allah karena ada doa orang-orang miskin. Siapa yang peduli terhadap orang-orang miskin, itulah orang yang benar-benar beragama. Siapa orang yang dusta dalam beragama yaitu orang yang sudah sholat dan puasa tapi tidak menyantuni fakir miskin dan anak yatim. Orang yang tidak peduli dengan orang miskin, dia itu pembohong. Meskipun ia sudah haji dan sholat berkali-kali maka ia tergolong pembohong (Surat Al Maa’un:1-3).

Apa yang menyebabkan bangsa ini miskin?

Orang Islam bahkan umat agama lain tidak ada yang akan miskin kalau mau benar-benar menerapkan zakat. Menurut Al Manaf dan Muhammad Abduh, orang yang tidak mau mengeluarkan zakat adalah maling yang benar-benar kejam karena dia mencuri atau mengambil jatah milik orang miskin. Setiap orang kaya itu punya hak untuk fakir miskin kalau tidak dikeluarkan, maka dia dianggap sebagai pencuri.

Solusinya?

Zakat itu memberi solusi karena zakat diperuntukkan untuk 8 penerima zakat (asnaf) seperti fakir, miskin, pelaksana/pembagi zakat (amil), budak (riqob), orang yang berutang (gharim), muallaf (orang yang baru masuk Islam/lemah imannya), sabilillah (orang yang berjihad membela agama), dan orang yang bepergian (ibnu sabil). Kalau zakat itu diselesaikan, percayalah tidak ada orang miskin di dunia ini. Bayangkan, penduduk Indonesia saat ini ada 210 juta dengan 80% umat Muslim maka terdapat 168 juta kaum Muslim. Kita asumsikan 20% saja orang kaya yang berinfak berarti ada 33,6 juta orang. Kita asumsikan lagi harta yang mereka miliki 100% diinfakkan dalam satu kali momentum adalah senilai 1 juta rupiah, maka diperoleh Rp. 33.600.000.000.000 (tiga puluh tiga trilyun enam ratus milyar rupiah). Ingat, ini hanya satu kali momentum infak. Luar biasa. Tapi, akankah orang kaya cuma memiliki satu juta? Mustahil. Bagaimana bila lebih dari itu dan diinfakkan semua? Padahal Allah cuma mewajibkan orang kaya berzakat 2,5% dari harta yang kita punya. Selebihnya, 97,5% adalah potensi infak dan sedekah. Ingat lagi pesan Ustadz Yusuf Mansur. 10 dikurangi 1 bukanlah sembilan namun 19. Bagaimana itu terjadi? Secara hitungan matematis memang 9 namun apabila dalam hitungan Allah, satu kebaikan yang engkau tanam akan berbuah 10 kebaikan. Jadi, 10 tadi adalah bonus yang diberikan Allah melalui tangan dan kesempatan yang tanpa kita duga. Bahkan janji Allah adalah memberikan lebih dari 10 kebaikan. Subhanallah. (Pewawancara: Didik Purwanto)

BIODATA:
Nama : Dr Wijayanto, MA
TTL : Solo, 27 Desember 1968
Pendidikan :
S1 Antropologi UGM
S1 Fakltas Tarbiyah IAIN Jogja
MA Degree Sosiologi Islamabad Pakistan
Aktivitas:
Mantan penyiar radio Geronimo Jogja
Pimpinan Pondok Pesantren Bina Anak Soleh Jogja (sekarang)
Dosen Pasca Sarjana UGM (sekarang)
Ustadz pada Sentuhan Qalbu Trans TV, ANTV, TPI, TVRI, dll (sekarang)
Alamat : Jalan Wirosaban barat 6 Jogja Telp (0274) 415888, Hp 0812296 7085

Omzet Industri Jamu 3 Triliun Setahun

Dr.Charles Saerang Ketua Umum GP Jamu
Berbagai persoalan perjamuan menjadi konsen Gabungan Pengusaha (GP) Jamu dalam Munas ke-V di Jakarta baru-baru ini. Di antaranya menyoal tentang peredaran jamu berbahan baku kimia obat, legalitas dan perizinan yang berbelit, penelitian tanaman obat serta sosialisasi ke masyarakat yang kurang serta upaya menjadikan obat tradisional menjadi obat fitofarmaka yang bisa disejajarkan dengan obat modern. Berikut ini, wawancara dengan Ketua Umum GP Jamu, Dr.Charles Saerang tentang kondisi rill, per-jamu-an di Indonesia. Berikut petikannya:

Munas GP Jamu V sudah lewat, poin-poin apa yang menarik dan menjadi
pekerjaan rumah GP Jamu?

Penyelenggaraan Munas V baru-baru ini merumuskan formula untuk mempertahankan bahkan meningkatkan eksistensi industri jamu dan obat tradisional di Indonesia. Jadi pembinaan industri dan pengusaha jamu menjadi prioritas, selain tentunya melakukan konsolidasi internal, memantapkan program kerja yang relevan dengan kondisi saat ini,
penyempurnaan AD/ART serta regenerasi kepemimpinan dan keanggotaan GP Jamu. Dengan harapan dapat mengembangkan kualitas dan eksistensi jamu di berbagai kalangan masyarakat Indonesia, dunia internasional serta menggalang persatuan pengusaha jamu.

Sebenarnya bagaimana kondisi dunia jamu di Indonesia?

Dari bidang ekonomi, kiprah industri jamu sekarang ini mampu memberikan lapangan kerja bagi ribuan tenaga kerja yang tersebar di seluruh Indonesia. Secara nasional, omzet industri jamu mencapai Rp 2,7 hingga Rp 3 triliun per tahun. Kita juga tidak mengimpor bahan baku, karena semua tersedia di dalam negeri. Selain itu, kita juga sudah mengekspor produk jamu ke Korea Selatan, Hong Kong, Rusia, dan Timur Tengah. GP Jamu juga mengharapkan dukungan pemerintah yang terintegrasi terhadap industri jamu
tradisional, mengingat industri ini banyak digeluti UKM dan mampu menyerap
tenaga kerja yang besar yang diproyeksikan mampu mempekerjakan sekitar 5-6
juta orang pada 2010.

Berapa sebenarnya jumlah anggota GP Jamu di seluruh Indonesia?

Sekarang ini, GP jamu memiliki jumlah anggota yang aktif sebanyak 800 perusahaan. Terdiri dari industri obat tradisional besar dan kecil, usaha jamu racikan, usaha jamu gendong, penyalur, pengecer, termasuk usaha bidang simplisia. Data terakhir yang dapat disampaikan tercatat ada sebanyak 1247 industri obat tradisional terdiri dari 129 Industri Kategori Besar (IOT) dan selebihnya 1118 adalah industri kecil obat tradisional
(IKOT) termasuk industri rumah tangga.
Dari jumlah itu, diantaranya terdiri dari 129 industri obat tradisional (IOT) dan selebihnya sebanyak 621 adalah industri kecil Obat tradisonal (IKOT) telah dibina oleh GP Jamu di 14 propinsi. Sedangkan yang belum dapat dibina antara lain di propinsi Riau, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat dan Maluku. Dalam waktu dekat ini, di 4 propinsi tersebut akan dibentuk pengurus DPD GP Jamu.

Melihat perkembangan ini apa yang menjadi harapan Anda?

Jamu sebagai sarana pengobatan tradisional kini mampu disejajarkan peranannya dengan obat modern melalui penerapan uji klinis. Ini bertujuan agar mutu jamu lebih teruji dan terbukti khasiatnya. Pada akhirnya jamu harus semakin eksis menjadi tuan rumah di negara sendiri. Bila dikembangkan dengan baik, jamu bisa berperan besar menjadi bagian dari identitas Indonesia, khususnya dalam tradisi pengobatan tradisional.

Dalam kasus jamu berbahan baku kimia obat (BKO), bagaimana Anda
menilainya?

Maraknya produksi dan peredaran jamu berbahan kimia obat itu akibat masih kurangnya pendidikan maupun pembinaan yang berkelanjutan dari pemerintah terhadap perajin jamu tradisional. GP Jamu sangat terbuka dan selalu siap memberikan dukungan baik dalam meningkatkan pembinaan maupun edukasi kepada sesama industri jamu. Bahkan, GP Jamu selalu siap memberi informasi kepada Badan Pengawas Obat dan Makanan, agar dilakukan penyelidikan. Langkah ini untuk melindungi anggota GP Jamu yang membawahi ribuan pengusaha kecil jamu tradisional. Dan, saya juga meminta pemerintah untuk lebih melakukan pengawasan terhadap peredaran jamu yang mengandung bahan
kimia obat. Melakukan sweeping yang berkesinambungan terhadap jamu yang mengandung bahan berbahaya tersebut.

Bagaimana peredaran jamu tersebut di pasaran?

Jalur distribusi jamu BKO ini, adalah pasar gelap dan bisnis haram ini sangat menggiurkan. Selain biaya produksi rendah dan keuntungan cukup besar sehingga jamu BKO ini laris di pasaran. Tingkat konsumsi produk ini berkaitan dengan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap standar kesehatan.

Selain membahayakan kesehatan konsumen, apa dampaknya bagi industri jamu
nasional?

Meluasnya peredaran jamu BKO amat menekan industri jamu yang berusaha mempertahankan kemurnian produknya sesuai tradisi dan standar kesehatan. Di Malaysia, jamu Indonesia disebut jamu racun. Ini jelas menghancurkan citra jamu Indonesia dan betul-betul memukul industri yang memang membikin jamu dengan benar, baik industri kecil maupun besar. Perbaikan citra jamu Indonesia makin krusial. ASEAN akan menerapkan harmonisasi standar jamu atau obat tradisional pada tahun 2010. Tanpa
perbaikan citra, pasar ekspor makin menciut. Di sisi lain, produk impor semakin leluasa menyerbu pasar dalam negeri. Di tengah kerasnya pukulan bisnis gelap jamu BKO, justru berembus bahwa isu dilarangnya peredaran sejumlah produk jamu BKO merupakan bagian dari skenario pertarungan industri jamu kecil dengan industri berskala besar.

Jadi bagaimana menjadikan jamu sebagai tuan rumah di negeri sendiri dan
menjadi tamu kehormatan di negeri lain?

Indonesia adalah negara yang memiliki biodiversitas terkaya kedua di dunia setelah Brasil. Kekayaan alam yang antara lain berpotensi diolah menjadi jamu itu masih jauh dari pengembangan optimal. Bukan sekadar industri jamu, industri pendukung yang antara lain mengolah bahan baku jamu menjadi produk siap pakai juga bernilai tinggi dalam perdagangan dunia. Indonesia yang mempunyai sejarah panjang tanaman obat tradisional dan kebun tanaman obat berkualitas juga berpotensi mengembangkan wisata industri jamu. Peta pengembangan industri jamu sebagai industri berbasis nilai kultur layak dikembangkan. Sayangnya, pengembangan potensi itu akan cuma jadi mimpi jika pemangku kebijakan tidak segera menyatukan langkah secara konkret menyelamatkan industri ini. Untuk itu, lanjut dia, pemerintah harus secara maksimal melakukan pembelajaran dan pelatihan kepada industri kecil dan menengah, mengenai cara produksi jamu yang higienis, agar jamu memenuhi standar obat herbal. Apalagi saat ini sedang disusun standar jamu di tingkat ASEAN. Namun dengan kerja keras kita semua, dan komitmen pemerintah seperti yang disampaikan Presiden SBY dalam pembukaan Munas V GP Jamu lalu, saya yakin suatu saat jamu akan menjadi tuan rumah di negara sendiri dan menjadi tamu kehormatan di negara lain.
(Pewawancara: Agus Salam)

Program Penanggulangan Kemiskinan Salah Arah

Edi Suhardiman, SE
Kemiskinan merupakan penyakit bangsa yang cukup dilematis dari tahun ke tahun. Bahkan angkanya terus membengkak seiring dengan banyaknya program-program pemerintah yang digulirkan seperti Bantuan langsung Tunai (BLT) ataupun Raskin (beras miskin). Namun semua program itu tidak mampu menurunkan angka kemiskinan.
Program pemberdayaan masyarakat dan pengentasan kemiskinan selama ini oleh pemerintah belum benar-benar terarah sehingga tak cukup menjanjikan perbaikan atas kondisi di lapangan. Bahkan Komite Penangulangan Kemiskinan Daerah belum mampu berbuat banyak atas kinerjanya selama ini. Mencermati problema kemiskinan dengan segala persoalan yang dihadapinya, berikut petikan wawancara dengan Koordinator Program SDA LSM Konsepsi NTB, Edi Suhardiman, SE di ruang kerjanya.

Bagaimana kiprah Komite Penangulangan Kemiskinan Daerah (KPKD) NTB selama ini?

Saya melihat Komite Penanggulangan Kemiskinan Daerah (KPKD) NTB dihadapkan pada persoalan data kemiskinan yang tidak pernah seragam. Selama ini ada dua rujukan data yang bisa diakses yakni data dari Statistik dan data dari Badan Kesejahteraan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Sementara cakupan data kemiskinan dari dua lembaga ini selalu saja terjadi perbedaan atau tumpang tindih sehingga tak pernah seragam. Perbedaan data yang beragam inilah justru menimbulkan kesimpangsiuran pendataan kemiskinan di tingkat pusat.

Mengapa penanggulangan kemiskinan di daerah belum berhasil?

Ya memang, padahal gerakan penanggulangan dan pengentasan kemiskinan di Indonesia ini merupakan program yang sudah lama dicanangkan, namun output atau hasil yang diinginkan untuk terjadinya penurunan angka kemiskinan tersebut seolah tidak pernah ada. Apakah sudah pantas kita katakan pemerintah atau tim yang bekerja selama ini untuk penanggulangan kemiskinan gagal dalam mengawal menurunnya angka kemiskinan? Akhirnya yang berani kita katakana adalah penurunan tingkat kemiskinan di masyarakat selama ini belum terlihat hasilnya yang nyata.

Padahal anggaran pengentasan kemiskinan tak sedikit jumlahnya?

Anggaran pengentasan kemiskinan di Indonesia termasuk di NTB sudah banyak dikucurkan melalui berbagai bentuk program yang terkait dengan tujuan itu. Belum lagi dana-dana yang dikucurkan oleh dinas/instansi tertentu ke kelompok sasaran. Sayang, dana kucuran pengentasan kemiskinan dari dinas/instansi tersebut tidak melihat kondisi masyarakat yang sesungguhnya. Mereka hanya membac up data secara sampling dan acak yang terkadang diperolehnya langsung dari kantor desa/lurah, tanpa harus mengetahui apa sebenarnya kebutuhan riil masyarakat miskin. Karena itu ada pertanyaan yang harus kita jawab dari anekdot masyarakat miskin, ”Kami tahu apa yang kami butuhkan, tapi bapak tidak tahu apa yang seharusnya Bapak lakukan untuk kami?” Pemikiran
seperti inilah yang belum muncul selama ini dari pemerintah maupun lembaga terkait lainnya.

Bagaimana pelaksanaan program BLT dan raskin selama ini?

Saya melihat banyaknya peluncuran dana program untuk masyarakat miskin seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT) atau raskin, hasilnya tidak pernah ada perubahan ke arah yang lebih baik. Justru angka kemiskinan semakin membengkak. Dengan program ini, banyak masyarakat yang mengaku miskin dan mendapatkan bantuan. Orang kayapun kecipratan jadinya kalau sudah seperti ini. Katanya bantuan ini menyentuh masyarakat yang betul-betul miskin. Sementara masyarakat miskin yang memang betul-betul membutuhkannya, tidak sedikit juga yang tidak menikmatinya. Masyarakat membutuhkan keadilan. Keadilan ternyata belum merata. Karena itu program-program semacam ini perlu ditinjau ulang kembali pada masa-masa mendatang. Program BLT, raskin
ini sebetulnya membuat masyarakat menjadi manja dan malas bekerja, karena selalu mengharapkan bantuan serupa tersebut turun kembali. Di samping itu, masyarakat penerima tidak memiliki perencanaan cerdas terhadap penggunaan dana tersebut. Masyarakat miskin hanya berpikir konsumtif apa yang ia harus perlukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama menyangkut makanan.

Mengapa pelaksanaan BLT, raskin menuai banyak protes?

Suatu yang ironis, baik BLT maupun Raskin diturunkan untuk menyentuh masyarakat miskin sebagai sasaran, namun dalam implementasinya banyak terjadi penyimpangan dan salah sasaran. Karena itu wajar diprotes. Kenyataan seperti ini merupakan sebuah dilema yang sungguh mengkhawatirkan. Kita percuma saja menggarami air laut yang luas yang memang sudah benar-benar terdapat garamnya. Percumalah saja kita berikan uang, namun 2-3 hari sudah habis apalagi untuk keperluan yang tidak jelas.

Mengapa data kemiskinan di daerah tidak valid?

Memang kita sudah beberapa kali koordinasi dengan pemerintah Provinsi NTB untuk menghasilkan data yang valid dan sebenar-benarnya data dan tidak membutuhkan anggaran yang mahal. Untuk soal yang satu ini tak ada salahnya kita belajar dari pendataan yang dilakukan Pemerintah Wonosobo, Jawa Tengah. Dengan biaya yang diminimalisir dan seteliti mungkin, semua pihak langsung turun ke lapangan secara bersama-sama, baik legislatif maupun eksekutif untuk selanjutnya dijadikan Perda. Namun sebaliknya kita di NTB ini, hanya pandai beretorika, berwacana saja untuk mengatasi kemiskinan ini.

Apa yang perlu diterapkan untuk menanggulangi kemiskinan ini?

Dan satu hal yang perlu dikembangkan dan sebaiknya diterapkan adalah bagaimana membuat perencanaan terhadap Analisa Kemiskinan Partisipatif (AKP) untuk mendapatkan data sebenarnya. Jadi tim AKP ini sendiri bisa mengetahui secara lebih transparan siapa-siapa yang sebenarnya dikatakan miskin dan siapa yang tergolong kaya. Sementara yang terjadi antara data kemiskinan yang dikantongi BKKBN, Dinas Kesehatan maupun Statistik saling berbenturan. Kita sebaiknya dalam hal ini menyerahkannya ke masyarakat setempat.

Benarkah negara sudah menunjukkan kepedulian terhadap masalah kemiskinan?

Kepedulian negara dengan konsepnya selama ini terhadap pengentasan kemiskinan saya rasa cukup baik, hanya perlu dibenahi mekanisme atau sistem pelaksanaan pada tingkat implementasinya di lapangan. Dengan pemberian BLT atau raskin masyarakat menilai dirinya sudah kaya. Namun penilaian seperti itu tidaklah demikian. Masyarakat sendiri belum siap menerima dalam bentuk sumbangan atau bantuan yang pada akhirnya tidak diketahui penggunaannya untuk apa.

Jadi perlu mekanisme yang tepat?

Harus ada perubahan mendasar terhadap mekanisme
pengentasan kemiskinan. Karena dari 33 propinsi di Indonesia, ternyata IPM NTB sangat rendah. Ada beberapa hal yang perlu dibenahi di antaranya pendidikan formal untuk penguatan sumber daya manusia seperti pelatihan-pelatihan atau kurus pada masa yang akan datang. Selain itu sisi ekonomi menjadi tolok ukur yang juga sangat penting dan perlu dibenahi. Dana yang dikucurkan, misalnya harus tepat sasaran dan siap pula penerimanya dengan sumberdaya manusia yang cerdas.

Apa masukan dan saran Anda?

Saya ingin memberikan masukan ke pemerintah terhadap penanggulangan kemiskinan ini. Contoh, dalam satu desa banyak sekali proyek penanggulangan kemiskinan yang masuk. Bisa 1-6 program dengan pola dan cara yang berbeda-beda. Cara seperti ini yang membuat masyarakat menjadi malas, manja dan tentunya tidak mendidik. Sebenarnya pola yang ingin kita terapkan adalah pola partisipatif. Masyarakat ikut berpartisipasi atau berinisiatif untuk mengatasi kemiskinannya. Demikian juga data harus betul-betul diperoleh dari masyarakat. Selain itu mekanisme juga perlu diubah. Misalnya jika ada dana pengentasan kemiskinan harus betul-betul dikaji terlebih dahulu apakah pola ini baik untuk dikembangkan atau sebaliknya sia-sia belaka. Jadi program haruslah lebih partisipatif bagi masyarakat. Kalau data kemiskinan betul-betul valid kita tentu akan tahu kebutuhan masyarakat itu sendiri dari bawah.
Kemiskinan hendaknya dilihat dari beberapa aspek Di antaranya, pendidikan, perekonomian dan sosbud. Kemiskinan bisa didapat dari masyarakat setempat artinya data partisipatif. Pemerintah selama ini tidak menerapkan Angka Kemiskinan Partisipatif. Pemerintah sendiri harus langsung turun ke lokasi untuk mendapatkan apa sebenarnya yang dibutuhkan masyarakat miskin itu sendiri. Jika ada yang kurang perlu dibenahi lagi. (Pewawancara: Hernawardi)

BIODATA:
Nama : Edy Suhardiman, SE
TTL : Selong, Lombok Timur, 2 Januari 1973
Pendidikan : S1 Akuntansi Yogyakarta
Pengalaman :
PPL LP3S 1999-2001
Tim Pokja IV KPKD NTB
Konsultan Keuangan Mitra Bank Indonesia
Koordinator Program Sumberdaya Alam LSM Konsepsi NTB.

Kemiskinan Ancaman Disintegrasi Bangsa

Drs H Ali Mochtar Ngabalin, M.Si
Kemiskinan selain menjadi bencana kemanusiaan, juga bisa menjadi ancaman disintegrasi bangsa. Penduduk di wilayah-wilayah yang kian hari kian jauh dari jatah pemerataan ’kue pembangunan’ pasti akan menjerit. Kalau hidup di Indonesia begini susah, mengapa harus dipertahankan? Inilah pernyataan keprihatinan anggota Komisi I DPR-RI, Ali Mochtar Ngabalin. Berikut petikan wawancara wartawan Koran Pak Oles, Agus Salam dengan lulusan Pasca Sarjana UI Jurusan Komunikasi di ruang komisi I DPR-RI;

Bagaimana sebenarnya program pemberantasan kemiskinan di Indonesia?

Kira-kira delapan tahun lalu, dari tahun 1975, kemiskinan itu hampir tidak pernah dibicarakan. Tidak pernah dibahas, baik dalam seminar maupun di surat-surat kabar. Terkesan pemerintah dan masyarakat tabu bicara soal kemiskinan. Pada periode tahun 1975 sampai 1996 lebih kurang 20 tahun (Repelita II sampai Repelita V). Selama 20 tahun, angka kemiskinan turun drastis. Dari 40% turun menjadi 11%. Dengan angka ini dianggap cukup menjadi pembenaran pertumbuhan ekonomi rata-rata 7 % di tanah air.
Faktor penentu pada krisis moneter pada tahun 1997 dan 1998, angka kemiskinan meningkatkan menjadi 24% dan pada tahun tersebut dengan mudah dijadikan alasan kuat, untuk menjadikan pertumbuhan ekonomi menjadi segala-galanya. Pemerintahpun konsen dengan program penanggulangan kemiskinan.

Program apa yang dilakukan pemerintah waktu itu?

Dalam sejarah Indonesia , program-program untuk menekan kemiskinan kita kenal dengan program IDT (Inpres Desa Tertinggal ) untuk sepertiga desa di Indonesia. Kemudian didukung dan didasarkan atas Inpres Nomor 3 Tahun 1946 dengan pengeluaran dana APBN serta bantuan para konglomerat. Program IDT dan Takesra, dilaksanakan melalui pendekatan kelompok. Sasaran antara 15 sampai 30 kepala keluarga dengan pemberian modal bergulir. Yang pertama, IDT sebagai hibah dan kedua sebagai pinjaman kredit mikro. Kalau kita perhatikan secara baik apakah kita serius untuk melihat kemiskinan itu sebagai persoalan bangsa karena ada dalam UUD 1945.

Bagaimana program itu berjalan?

Nah, di masyarakat luas ada kesan bahwa program-program seperti IDT dan Takesra adalah program ’gagal’. Karena tidak ada lagi dana langsung atau dana segar yang disalurkan kepada penduduk miskin. Dan, sudah ada program penggantinya seperti program pengembangan kecamatan (PPK) . Tetapi di dalam penelitian sebuah LSM membuktikan bahwa program IDT seperti di daerah Kerawangen dan Gunung Kidul telah meningkatkan pendapatan penduduk miskin sebesar 97% selama 8 tahun (1994 - 2002) meskipun dana IDT diberikan sebagai hibah dari pemerintahan pusat kepada 123 ribu poknas seluruh Indonesia. Tetapi di Kerawangen dijadikan model simpan pinjam yang kini telah berkembang menjadi 12,6 %. Dari penelitian ini membuktikan bahwa rakyat atau penduduk miskin tidak pernah memperlakukan dana IDT sebagai program belas kasihan.
Dari data tersebut, ada sektor riil yang tidak jalan. Kalau pemerintah mengeluarkan kebijakan yang bisa menggerakkan sektor rill dari sisi upaya meningkatkan taraf hidup masyarakat, maka saya percaya kemiskinan bisa teratasi dengan baik.

Mengapa program tersebut dikatakan ’gagal’?

Ada pendekatan bagi sebuah kondisi sosial, budaya, ekonomi riil Indonesia yang masih bersifat dualistik yakni perbedaan besar antara sektor modern industrial dan sektor tradisional pedesaan (ekonomi rakyat). Kemudian, pendekatan terhadap responden atau peserta penanggulangan kemiskinan yang kurang tepat sasaran. Saya kira, ini harus didukung dengan langkah program yang langsung menyentuh masyarakat. Contohnya kasus pemberian dana tunai atau bantuan langsung terkait dengan kenaikan BBM.
Bayangkan, rakyat miskin di Indonesia itu umpamanya 100 ribu orang dan ketika kenaikan BBM bisa meningkat menjadi 300 ribu orang, mendadak banyak orang menjadi miskin. Pertanyaannya adalah apakah kita mau memberikan ikan atau kail kepada masyarakat terkait dengan tujuan mengangkat harkat dan martabat mereka sebagai masyarakat miskin? Mestinya kailnya bukan ikannya.
Kalau pemerintah dan DPR memiliki itikad baik dan konsen terhadap upaya menghapus kemiskinan dan melihatnya sebagai suatu persoalan serius, perubahan ke arah lebih baik akan dicapai.

Jika situasi kemiskinan tak berubah, apa yang terjadi di Republik tercinta ini?

Kita bertanya kepada legislatif dan eksekutif, apakah mereka memiliki itikad baik dengan melihat kemiskinan sebagai ancaman terhadap disintegrasi bangsa? Apakah kemiskinan sebagai ancaman dalam situasi kehidupan masyarakat? Jangan disangka kalau wilayah-wilayah yang makin hari makin merasa susah dan tidak merasakan kue pembangunan yang bagus ini tidak akan berteriak. Kalau hidup di Indonesia begini susah, mengapa harus kita pertahankan? Barangkali kita pisah agar hidup dengan baik. Kemiskinan bisa menjadi ancaman disintegrasi bangsa. Kuncinya, saya kira kita duduk bersama dan bicara dengan jujur terhadap persoalan-persoalan yang sedang dihadapi bangsa ini. (Pewawancara: Agus Salam)

BIODATA:
Nama : Drs H Ali Mochtar Ngabalin, M.Si
Lahir : Fakfak, 25 Desember 1969
Agama : Islam
Pendidikan :
- Pasca Sarjana Universitas Indonesia , Jurusan Ilmu Komunikasi
- Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Alauddin, Fak. Dakwah
- Muallimin Muhammadiyah, Makassar

Pekerjaan:
- Mubaligh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia , Makassar.
- Pimpinan Pondok Pesantren Darul Fallah, di Palu.
- Direktur Eksekutif Indonesian Network For Crisis (InCR).
- Direktur Eksekutif Adam Malik Center (AMC).
- Dosen Luar Biasa Pasca Sarjana Institut Agama Islam Al Aqidah, Jakarta.
- Direktur Jurnal Sinema (Studi Informasi dan Media), Jakarta.
- Anggota DPR RI 2004-2009

Statistik pengunjung